Pages

Memuat...

Yadnya


Upacara Yadnya / Adat yang telah lama ada;
  • Dilakukan dari generasi ke generasi;
  • Sebagai warisan leluhur;
Dan di era Globalisasi ini, yajna disebutkan tidaklah hanya terbatas pada pengertian upakara dan upācara saja, melainkan juga agar dapat mengembangkan kasih sayang dan keikhlasan.

Karena keagungan yajña sejatinya dalam bentuk persembahan disebutkan bukan diukur dari besar dan megahnya bentuk upacara, tetapi yang paling penting adalah kesucian dan ketulusikhlasan dari orang-orang yang terlibat melakukan yajña tersebut sebagaimana diceritakan oleh seekor tikus emas dari para brahmana dalam kisah Mahabharata.
Seperti halnya Panca Yadnya sebagai persembahan suci dengan berbagai bentuk banten untuk kerahayauan semua mahluk dan alam ini.
Dan "amatlah meriahnya upacara yadnya yang suci itu, ketika diiringi suara - suara Panca Nada yang bergema"
Diawali Nuwasen Karya dengan hati yang suci sehingga vibrasinya akan semakin bergetar secara simultan dalam diri individu dan pada sistem kosmik alam ini.
Bagaikan suara kumbang yang sedang mengisap bunga.
Dimana dalam beberapa upacara yadnya dalam adat dan seni budaya di Bali disebutkan beberapa diantaranya sebagai berikut :

Pawiwahan sebagai ikatan lahir bathin dalam pernikahan.

Mewinten | Melukat | Sesangi sebagai janji kepada diri sendiri untuk selalu atau senantiasa bersyukur atau mensyukuri atas segala karunia dari Tuhan.

Caru (Tawur) | Ngenteg Linggih | Ngusaba Nini / Desa, demi tegaknya pemerintahan, berbangsa dan bernegara serta damainya dunia | Usaba Ngina, untuk kesuburan bhuwana agung alam semesta ini | Upacara Pemelepeh Linuh, yang berkaitan dengan terjadinya gempa bumi dan kesejahteraan umat manusia.

Ngaben, semut sadulur dewasa yang perlu dihindari ....

Nangluk Mrana | Panca Wali (Bali) Krama, Pura Besakih
Grahana Yadnya, berkaitan dengan kesempurnaan Sang Surya setelah terjadinya gerhana matahari dan bulan.

Upacara dalam membangun rumah, Pemakuhan, banten Pemakuhan, peras, lis, soroan, daksina, dll ......

Upacara Yadnya (Yajna) disebutkan adalah suatu kewajiban yang patut dilaksanakan oleh umat manusia, yang dijelaskan dalam pelaksanaannya dibedakan atas tiga (3) tujuan yaitu :
  1. Keiklasan, 
  2. Harapan untuk memperoleh hasil
  3. Hanya bersifat bodoh yang tidak dilandasi dengan keyakinan dan kepercayaaan.
Seperti penjelasan berikut ini.
  • Berdasarkan salah satu wejangan Bhagawan Penyarikan, upacara yadnya yang dihaturkan tersebut hendaknya berasal dari pekerjaan yang benar berdasarkan dharma 
  • Menurut Bhagavad Gita, yadnya atau banten di bedakan menjadi tiga golongan yaitu:
    1. Satwika yajna yang dilaksanakan dengan keiklasan tanpa mengharapkan hasilnya, dilaksanakan semata-mata sebagai suatu kewajiban yang patut dilaksanakan. Serta sesuai dengan sastra yadnya..
      • Aphalakanksibhir yajno…vidhidrsto ta ijayate … yastavyam eve ti manah…samadhaya sa sattvikah
      • Artinya : … Yajna yang dihaturkan sesuai dengan sastranya. Oleh mereka yang tidak mengharapkan buahnya ( ganjaran ) dan teguh kepercayaannya. Bahwa memang sudah kewajibannya untuk beryajna. Adalah sattvika. Baik.
    2. Rajasika yajna yajna yang dipersembahkan dengan motivasi untuk memamerkan kemampuan serta terikat dengan keinginan untuk memperoleh buahnya.
      • Abhisamdhya tu phalam…dambhartam api cai va yat…ijyate bharatasrestha…tam yajnam viddhi rajas am
      • Artinya : … Akan tetapi dihaturkan dengan harapan akan buahnya atau hanya untuk memamerkan., ketahuilah Oh arjuna. Bahwa yajna itu adalah Rajasika, bersifat rajas yang penuh bernafsu.
    3. Tamasika yajna yajna yang dilaksanakan secara sembarangan, tidak sesuai dengan ketentuan sastranya. Tidak ada makanan yang dibagi bagikan. Tidak ada mantra, syair yang dinyanyikan. Dan tidak ada dana punia daksina yang diberikan, serta tidak dilandasi dengan keyakinan dan kepercayaaan.
      • Vidhihinam asrstannam… mantrahinam adaksinam… srddfavirahitam yajnam… tamasam paricaksate
      • Aritinya :… yajna yang tidak sesuai dengan petunjuk, dengan tidak ada makanan yang dibagi-bagikan, tidak ada mantra,. syair yang dinyanyikan, dan tidak ada dana punia daksina yang diberikan, tidak mengandung kepercayaan, mereka disebut yajna yang Tamasika. Bodoh.
Referensi : penggolongan yadnya tersebut di atas bersumber dari artikel tentang banten di halaman Hindu Bali pada Facebook  (ref 1).

Dalam lontar Yajna Prakrti (ref 2), banten memiliki tiga arti sebagai simbol ritual yang sacral. Dalam lontar yadnya prakerti tersebut banten disebutkan:
  • Sahananing Bebanten Pinaka Raganta Tuwi
  • Pinaka Warna Rupaning Ida Bhattara
  • Pinaka Anda Bhuvana
Dalam lontar ini ada tiga hal yang dibahasakan dalam wujud lambang oleh banten yaitu :
  1. Pinaka Raganta Tuwi, banten itu merupakan perwujudan dari kita sebagai manusia. 
  2. Pinaka Warna Rupaning Ida Bethara", perwujudan dari manifestasi (prabhawa) Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.
  3. Pinaka Anda Bhuwana", refleksi dari wujud alam semesta atau Bhuwana Agung.
Ditambahkan oleh Ida pandhita Mpu Jaya Wiajayananda dalam dokumen tetandingan banten untuk  banten sesayut dalam forum jaringan Hindu Nusantara di Facebook (ref 3), di dalam suatu wujud bebanten dalam upakara terdiri dari tiga kelompok, yaitu;
  1. Kelompok Banten Pangresikan, Pabresihan atau penyucian, yang terdiri dari: Banten Bayakaon, Banten Durmangala, Banten Parayascitta, Pengulapan, Lis bale gadhing, Banten padudusan, Banten Dyuskamaligi.
  2. Banten ayaban atau persembahan, terdiri dari banten ayaban tumpeng lima, banten ayaban tumpeng pitu, banten ayaban tumpeng sya, banten ayaban tumpeng solas, banten ayaban tumpeng telulikur/udel kurenan, banten ayaban maulu Pergembal, Banten ayaban maulu Pregembal bebangkit, banten ayaban maulu pregembal bebangkit dan catur dan seterusnya.
  3. Kelompok banten sebagai pengharapan, tujuan yang ingin dicapai serta sebagai sthana / lingga dari Ista Dewata yang di puja pada upacara tersebut, Pengguaan banten Sesayut atau Tatebasan hendaknya disesuaikan dengan upacara yang di laksanakan.
Karena selain diri kita sendiri, alam semesta ini juga berada dalam pengaruh vibrasi energi kosmik yang bersifat tri guna, yaitu
  • sattvam, 
  • rajas, dan 
  • tamas 
Sehingga manusia patut melaksanakan upacara Panca Yadnya.
Dengan mengurangi penderitaan para mahluk dan menjaga keseimbangan alam semesta ini merupakan yadnya rahasia yang memiliki tingkat yang paling tinggi, karena pengorbanan demi kebahagiaan mahluk lain adalah rahasia di balik semua kesadaran paripurna.
Selain diukur dari besar-kecilnya volume banten atau besar-kecilnya biaya yang dihabiskan, sebagaimana dikutip dalam "Memahami Banten", oleh Rumah Dharma - Hindu Indonesia (ref4), ada beberapa faktor penting yang membuat banten bisa memancarkan Vibrasi Kesucian adalah memenuhi tiga persyaratan di bawah ini :
  1. Sumber bahan harus baik. Banten harus bersumber dari bahan atau uang yang baik, tidak dari hasil korupsi, mencuri, merampok, menipu, berhutang, menjual tanah warisan, dll. Banten yang bersumber dari bahan atau uang yang tidak baik, tidak nyambung dan sia-sia. Persembahan yang bersumber dari bahan atau uang seperti itu percuma, sebab vibrasi sattvam [jyoti atau cahaya] dari banten-nya hilang. Maka dari itu, penting sekali membuat banten yang sesuai dengan kemampuan kantong kita yang sewajarnya, agar tujuan yajna dapat tercapai.
  2. Proses Pembuatan. Ketika membuat banten, sebisa mungkin kita harus membuatnya dengan pikiran bersih, disertai ketulusan dan kesabaran. Kalau bisa dengan diam atau dengan menyanyi lagu-lagu kidung surgawi [atau boleh juga dengan lagu-lagu mantra ala modern], agar pikiran kita terpusat. Jangan membuat banten sambil bergosip atau omongan aneh-aneh lainnya. Kita bisa bandingkan dengan saat  banten disiapkan untuk upacara besar di Besakih. Tempat membuat banten disebut dengan pesucian yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang tidak berkepentingan. Ini erat kaitannya dengan proses pembuatan. Kalaupun banten-nya membeli, membelinya jangan disertai dengan keluhan-keluhan ini-itu. Sebab hal ini berpengaruh kepada vibrasi banten-nya.
  3. Proses menghantar, apapun yang terjadi ketika kita menghaturkan banten, jangan lupa dilaksanakan dengan sejuk, teduh dan penuh kesabaran. Kalau gara-gara mebanten kita bertengkar atau krodha dengan marah-marah, hal ini sangat mempengaruhi banten-nya. Jangan pernah sampai karena banten, yajna atau upakara kita jadi menyakiti hati orang lain.
Nilai - nilai yang terkandung dan pembagian dari pelaksanaan suatu yadnya seperti dijelaskan dalam kutipan sumber referensi MARGA YADNYA « santiawan's Blog dijelaskan sebagai berikut :

Didalam melakukan Yadnya terkandung nilai-nilai yaitu :
  • Nilai rasa tulus iklas dan suci tanpa pamrih.
  • Rasa bakti, memuja dan menghormati Tuhan, Dewa, Bhatara, Leluhur, orang tua, bangsa dan Negara dan lingkngan kita.
  • Didalam melaksanakanya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Yang disesuaikan dengan Tempat, Waktu dan keadaan.
  • Suatu ajaran dan Catur Weda yang merupakan sumber ilmu pengetahuan yang suci dan kebenaran sejati dan abadi.
Dilihat dari pembagianya, yadnya dibagi menjadi 4 bagian yaitu:
  1. Menurut Tingkat pelaksanaanya
  2. Menurut jenisnya (Panca Yadnya)
  3. Menurut Waktu pelaksanaanya
  4. Menurut Cara Menjalankanya (Panca Marga Yadnya).
    1. Drewya Yadnya | kedamaian hidup bersama masyarakat, bangsa dan Negara ...
    2. Swadyaya Yadnya | terdorong oleh rasa kasih sayang yang begitu besar ....
    3. Yoga Yadnya | dapat merasakan bersatu denganNya ...
    4. Tapa Yadnya | jalan peneguh iman ....
    5. Jnana Yadnya | berintikan ilmu pengetahuan dan kesucian ..
      Demikian dijelaskan banten sebagai sarana yadnya yang dikutip dari berbagai sumber referensi sehingga dalam tata cara pelaksanaan yadnya itu sebagaimana disebutkan hendaknya juga sesuai dengan yasa kirti menurut ketentuan dalam sastranya dengan demikian unsur utama pelaksana yadnya, yaitu pendeta (sulinggih) yang akan memuja, tukang banten serta orang yang melaksanakan yadnya itu hendaknya seiring sejalan, tidak saling bertentangan.

      Dan jika seandainya seandainya upacara yadnya itu dapat lebih dihemat sedikit dan hasil penghematan itu diwujudkan dengan membentuk perpustakaan pura, desa atau banjar yang dalam brahma yadnya disebutkan, tentu hal ini akan sangat utama sesuai dengan ketentuan sastra agama untuk menopang hidup manusia mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik.
      ***