Panca Yadnya


Panca Yadnya adalah lima macam yadnya atau persembahan suci,
yaitu sebagai pelengkap dari ajaran Bhakti Marga / Bakti Yoga.
Karena selain diri kita sendiri, alam semesta ini juga berada dalam pengaruh vibrasi energi kosmik yang bersifat tri guna.
Sehingga tidak hanya manusia yang memiliki tingkatan - tingkatan spiritual, tapi alam sekitar lingkungan kita juga.
Ketika kita melakukan persembahan, vibrasi sattvam yang muncul dari persembahan akan mengurai vibrasi unsur rajas-tamas di alam semesta ini.
Upacara Panca Yadnya terdiri dari :
  1. Dewa Yadnya, persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa dan para dewa sebagai manifestasi Beliau.
  2. Rsi Yadnya, rasa hormat pada para rsi / guru.
  3. Manusa Yadnya, penyucian secara spiritual terhadap manusia.
  4. Pitra Yadnya, persembahan pada leluhur.
  5. Bhuta Yadnya, persembahan untuk menjaga keseimbangan, keharmonisan dan kelestarian alam semesta ini.
Demikian dikutip dari artikel Bhakti Yoga Hindu Bali yang ditulis dalam artikel Forum Diskusi Jaringan Hindu Nusantara di Facebook (ref1).
Dalam kutipan artikel tersebut juga dijelaskan bahwa, hidup ini adalah pilihan, mau kemana dan jadi apa diri kita sendirilah yang menentukan. Karena semua mahluk dan keseluruhan jagat ini diatur oleh hukum karma dan hukum rta.

Kalau tindakan kita sehari-hari penuh dengan hal-hal yang baik, maka hal-hal yang baik juga yang akan datang kepada kita, kalau tindakan kita sehari-hari tidak baik, maka hal-hal yang tidak baik juga yang akan datang kepada kita.

Kita harus selalu ingat bahwa menjadi penganut Hindu Dharma itu sakral, karena sejak lahir sampai mati tidak terhitung banyaknya upakara yang dibikin untuk diri kita hanya untuk membuat kita jadi baik.
Mulai dari bayi baru lahir di Rumah Sakit, bayi pulang sampai di rumah, 12 hari, 3 bulan, 6 bulan, otonan, dst—nya.
Dan satu-satunya hal yang dapat membuat kesakralan ini menyala terang dalam kesempurnaan adalah, kalau di dalam bathin dan di dalam keseharian kita juga baik.

Upacara Panca Yadnya – dalam kehidupan masyarakat Bali Hindu (ref2)
Sesuai dengan agama dan tradisi di Bali, masyarakat Bali Hindu sesungguhnya manusia yang penuh ritual agama yang terbungkus dalam Panca Yadnya.

Ritual agama itu dilakukan terhadap manusia Bali Hindu dari sejak dalam kandungan, dari lahir sampai menginjak dewasa, dari dewasa sampai mulih ke tanah wayah (meninggal).

Pemberkahan demi pemberkahan dilakukan untuknya dengan segala bebantenan serta mantra-mantranya agar munusia Bali Hindu itu menjadi manusia yang berbudi luhur atau memiliki sifat kedewataan di mayapada ini dan bisa amoring acintya dengan Sanghyang Widhi.

Inilah daftar ritual agama yang dilakukan manusia Bali Hindu sesuai dengan tradisi di Bali:
  • Manusa Yadnya
  • Pegedong-gedongan, dilakukan saat kehamilan berumur 175 hari ( 6 bulan kalender). Upacara pertama sejak tercipta sebagai manusia.
  • Bayi Lahir, upacara angayu bagia atas kelahiran. Perawatan terhadap ari-ari si bayi.
  • Kepus Puser, bayi mulai diasuh Hyang Kumara.
  • Ngelepas Hawon atau panglepas awon, dilaksanakan pada bayi berumur 12 hari.
  • Kambuhan, upacara bulan pitung dina (42 hari), perkenalan pertama si bayi memasuki tempat suci pemrajan.
  • Nelu Bulanin / Nyambutin, upacara tiga bulanan (105 hari), penekanannya agar jiwatma sang bayi benar-benar berada pada raganya.
  • Otonan (Oton Tuwun), upacara saat pertama bayi menginjakan kakinya pada Ibu Pertiwi (210 hari).
  • Tumbuh Gigi, upacara mohon berkah kepada Hyang Widhi agar gigi si bayi tumbuh dengan baik.
  • Meketus, si anak sudah tidak lagi diasuh Hyang Kumara (tidak lagi mebanten di pelangkiran Hyang Kumara)
  • Menek Kelih atau Munggah Daha / raja sewala, upacara menginjak dewasa, saat-saat merasakan getaran asmara.
  • Potong Gigi/metatah, simbolis pengendalian Sad Ripu.
  • Upacara Perkawinan,  
  • Pitra Yadnya,
  • Dewa Yadnya,
  • Butha Yadnya,
Semua upacara di atas disertai dengan bebantenan sesuai dengan fungsi atau peruntukannya.

Jika semua upacara itu bisa diterapkan sesuai dengan aturannya, maka manusia Bali diharapkan menjadi manusia yang memiliki sifat yang mengarah kesifat kedewataan, pergerakan perilaku dari tamasik - rajasik mengarah ke rajasik-satwika atau bahkan pada satwika.

Perputaran perilaku itu dapat dihasilkan dari begitu dalam makna tahap demi tahap ritual agama itu utk menghantarkan menjadi manusia yang bersifat rajasik-satwika atau satwika dari getaran-getaran energi positif getaran bebantenan dan mantra-mantranya secara sinergistik yang dalam seluruh proses upacara panca yadnya ini biasanya juga dibarengi dengan melantunkan dharma gita dengan lagu - lagu pujian kerohanian keagamaan sebagai kewajiban umat hindu.

Sehingga dengan adanya Panca Yadnya tersebut yang tetap dilaksanakan sampai sekarang ini sebagaimana disebutkan dalam konsep panca yadnya dan filosofi nilai dalam kelangsungan hidup umat hindu agar tercipta hukum keseimbangan akibat dari adanya rnam. Rnam berarti hutang, maka rnam itu juga kita harus bayarkan dengan Yadnya dan atas dasar tersebut, Tri Rna dibayar dengan Panca Yadnya ini yakni:
  • Dewa Rna dibayar dengan Dewa Yadnya dan dibayar dengan Bhuta Yadnya.
  • Rsi Rna dibayarkan dengan Rsi Yadnya.
  • Pitra Rna dibayar dengan Rsi Yadnya dan Manusa Yadnya.
***