Manusia

Manusia (Manusa disebutkan dalam weda) adalah berasal dari kata Manu dan Sia yang berarti “keturunan”. 
    Jadi manusia berarti “mereka yang merupakan keturunan Manu”. 

    Demikian dijelaskan dalam kutipan salah satu komentar kiriman pada forum diskusi jaringan hindu nusantara sehingga sebagaimana disebutkan untuk pertama kalinya ketika manusia (jatma dalam bahasa bali halusnya) masih berbentuk janin dalam kandungan dilakukan upacara Manusa Yadnya yaitu :
    Pagedong - gedongan yang bertujuan untuk menyucikan janin dalam kandungan tersebut agar nantinya terlahir menjadi anak yang suputra.
    Sebagai mahluk sosial, manusia juga tidak bisa hidup menyendiri maka dari itu manusia juga hidup berkelompok (seperti halnya di Bali dalam kelompok banjar dan desa adat), membentuk masyarakat dan bernegara.

    Sebagai kajian secara mitologi, "Manusia" juga diuraikan urutan penciptaan yang dijelaskan seperti berikut ini :

    Brahman menciptakan dua kekuatan purusa dan pradana yang disebutkan :
    1. Purusa yaitu kekuatan hidup (batin/nama) dan 
    2. Prakerti (pradana/rupa) yaitu kekuatan kebendaan. 
    Dengan terciptanya dua kekuatan tersebut, kemudian terciptalah urutan - urutan seperti berikut :
    • “cita” yaitu alam pikiran yang dipengaruhi oleh Tri Guna.
    • Budi (naluri pengenal)
    • Manah (akal dan perasaan)
    • Ahangkara (rasa keakuan)
    • Dasa Indria (sepuluh indria/gerak keinginan).
    • Panca Tanmatra, lima jenis benih benda alam : 
      • Sabda; suara, 
      • Sparsa; rasa sentuhan
      • Rupa; penglihatan, 
      • Rasa; rasa, 
      • Gandha; penciuman
    • Dari Panca Tanmatra lahirlah lima unsur-unsur materi yang dinamakan Panca Maha Bhuta, dari perpaduan semua unsur-unsur ini menghasilkan dua unsur benih kehidupan yaitu 
      • Sukla; benih laki-laki
      • Swanita; benih wanita / perempuan. 
    • Pertemuan antara dua benih kehidupan laki - laki dan perempuan ini, disebut pertemuan Purusa dengan Pradana yang melahirkan manusia.
    Dalam kitab suci disebutkan hal - hal yang berkaitan dengan terciptanya manusia,
    • Dalam Bhagavad-Gita 3.10 disebutkan, dahulu kala Brahman / Prajapati mencipta manusia bersama bhakti persembahannya dan berkata "Dengan ini engkau akan berkembang biak dan biarlah dunia ini jadi sapi perahanmu".
    • Dalam Katha Upanisad 2.2.7 disebutkan, "Beberapa jiwa memasuki kandungan untuk ditubuhkan; yang lain memasuki obyek-obyek diam sesuai dengan perbuatan dan pikiran mereka."
    • Dalam Bagawad Gita 15.7 disebutkan, "Mahluk-mahluk di dunia yang terikat ini adalah bagian percikan yang kekal (Brahman) dari Ku, mereka berjuang keras melawan 6 indria termasuk pikiran."
    • Bagawad Gita II.22 disebutkan, "Percikan dari Brahman itu dinamakan Atman/jiwatman
      • Atman itu tak terlukai oleh senjata, tak terbakar oleh api, tak terkeringkan oleh angin, tak terbasahkan oleh air, abadi, di mana- mana ada, tak berpindah- pindah, tak bergerak, selalu sama, tak dilahirkan, tak terpikirkan, tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan.
      • Percikan itulah yang menghidupkan/menggerakan manusia. Atman/roh/jiwa menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman. Misalnya telinga tak dapat mendengar bila tak ada atman, mata tak dapat melihat bila tak ada atman, kulit tak dapat merasakan bila tak ada atman. Badan jasmani manusia (sthula sarira) bisa berubah, lahir, mati, datang dan pergi, namun Atma tetap langgeng untuk selamanya.
      • Ibarat orang meninggalkan pakian lama dan menggantinya dengan yang baru, demikian jiwa meninggalkan badan tua dan memasuki jasmani baru."
    • Siwa Samhita 1.79 disebutkan, "Manusia tanpa kecerdasan dan Material mempunyai sifat Tri Guna :
      • Kebaikan / selaras (satwam), 
      • nafsu/kekuatan (rajas)
      • kebodohan/kelambanan (tamas)
    • Bagawad Gita 14.5 disebutkan, "Mahluk hidup diikat oleh sifat-sifat tersebut dan sulit dikendalikan"
    Disebutkan pula bahwa, Atma / Jiwatman bersifat abadi, namun karena Maya, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut “Awidya”. Hal tersebut mengakibatkan Jiwatman mengalami proses kelahiran kembali yang berulang-ulang kedalam 8.400.000 jenis badan material (kehidupan) yang telah disediakan di alam ini oleh Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.
    Kelahiran kembali (Punarbhawa/Reinkarnasi) terjadi karena Ia harus menanggung hasil karma wasana pada kehidupannya yang terdahulu. Dalam ajaran tersebut, bisa dikatakan  manusia menentukan nasib baik/buruk yang akan ia jalani berdasarkan Hukum Karma (Rta) yang telah diciptakan Tuhan.
    Apabila manusia tidak sempat menikmati pada kehidupan saat ini, maka akan dinikmati pada kehidupan selanjutnya. Karma merupakan hukum sebab akibat. keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya.

    Perputaran itu tidaklah terputus sampai Ia melepas belenggu Maya dan menghancurkan Awidya / ketidaktahuan, dan tujuan dari kelahiran kembali adalah lepas dari pengaruh material dan mencapai Moksa.

    Menurut beberapa sumber Veda, badan manusia merupakan badan persimpangan yang paling memungkinkan sang jiwa/atman dapat lepas dari belenggu material dan mencapai moksha.

    Jadi di dunia ini menurut Hindu, sudah tercipta 7 jenis manusia pertama yang pada akhirnya melakukan perkawinan silang dan menghasilkan banyak ras-ras manusia yang berbeda.

    Dalam simbol dan istilah, "manusia" diharapkan dapat membedakan prilaku baik (subha karma) yang perlu dijalankan dan prilaku yang tidak baik (asubha karma) sebagai prilaku  manusia  yang perlu dihindari.

    Sebagai manusia, dalam kutipan sarasamuscaya ditegaskan pula bahwa hendaknya kita mulai dari detik ini juga mengusahakan dengan tidak pernah jemu untuk memahami hakekat kebajikan/kebenaran, kekayaan, kesenangan, dan kebebasan.

    Manusia merupakan "Sang Raja" bagi dirinya sendiri,
    • ia adalah pemimpin dari tubuhnya, 
    • ia adalah penguasa dari pikirannya; 
    maka dari itu, berusahalah untuk memahami hakekat penjelmaan ini sehingga manusia ditegaskan mampu untuk rneningkatkan/menyempurnakan diri dari perbuatan buruk (asuba karma) menjadi perbuatan baik (subha karma).

    Adapun keterkaitan manusia dengan pelaksanaan yadnya itu sendiri disebutkan pula bahwa,
    • Yadnya yang dijalankan secara benar sebagai dharma umat  manusia, juga dapat mengarahkan manusia untuk dapat memiliki budi pekerti yang luhur sesuai dengan ajaran agama yang menjadi dasar hidup, keutamaan dharma sesungguhnya dijelaskan sebagai sumber datangnya kebahagiaan, memberikan keteguhan budi, dan menjadi dasar dan jiwa dari segala usaha tingkah laku  manusia.
    • Untuk penyucian diri secara spiritual terhadap manusia, baik lahir maupun bathin dilakukan dengan upacara manusa yadnya
    • Sebuah usaha manusia dalam rangka memperbaiki kesalahan dan keburukan prilaku terdahulu dengan melaksanakan sadhana spiritual sehingga dalam kehidupan sekarang jauh lebi baik dan lebih sempurna salah satunya dapat dilakukan dengan upacara otonan.
    Sehingga optimalisasi sebuah tempat suci dengan konsep Tri Mandala diperlukan sebagai salah satu pusat pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia secara utuh, menyeluruh dan terintegrasi demi tercapainya kemerdekaan dan kesejahteraan rohani manusia itu sendiri.
    ***