Manusa Yadnya

Manusa Yadnya adalah upacara yadnya yang dilaksanakan sebagai penyucian diri secara spiritual terhadap manusia, yang disebutkan dalam Babad Bali, Manusa yadnya bertujuan untuk menyucikan diri lahir bathin (pamari sudha raga) dan memohon keselamatan dalam upaya peningkatan kehidupan spiritual menuju kebahagian baik di dunia maupun di alam niskala.

Dengan sumber pedoman kepustakaan disebutkan seperti berikut ini :
  • Manusa Yadnya, oleh : Agung, Anak Agung Ngurah Gde, Majelis Pembina Lembaga Adat Prov. Bali (1985 / 1986).
  • Pedoman Praktis Pokok-Pokok Pelaksanaan Upacara Manusa Yadnya, oleh : Dkk, Rai, Hanuman Sakti (1994).
  • Agama Hindu, Puja, Gde, Mayasari (1984).
  • Upacara Manusa Yadnya, Putra, Ny. IGA Mas, IHD Denpasar.
  • Panca Yadnya, Putra, Ny. IGA Mas, Yayasan Dharma Sarathi, (1988).
  • Panca Sradha, Punyatmaja, IB Oka, Yayasan Dharma Sarathi, (1989)
  • Weda Walaka, Titib, I Made, PT Dharma Nusantara Bahagia.
***
Sebagai bagian dari Panca Yadnya disebutkan pula beberapa upacara manusa yadnya seperti berikut ini,
  • Ngerujaki, dilaksanakan saat ngidam supaya benih atau janin dalam kandungan kuat atau selamat.
  • Pegedong-gedongan, dilakukan saat kehamilan berumur 175 hari ( 6 bulan kalender). Upacara pertama sejak tercipta sebagai manusia.
  • Bayi Lahir, upacara angayu bagia atas kelahiran. Perawatan terhadap ari-ari si bayi.
  • Kepus Puser, bayi mulai diasuh Hyang Kumara.
  • Ngelepas Hawon atau upacara panglepas awon dilaksanakan pada bayi berumur 12 hari.
  • Kambuhan, upacara bulan pitung dina (42 hari), perkenalan pertama memasukkan tempat suci pemrajan.
  • Nelu Bulanin / Nyambutin, upacara tiga bulanan (105 hari), penekanannya agar jiwatma sang bayi benar-benar berada pada raganya.
  • Otonan (Oton Tuwun), upacara saat pertama bayi menginjakan kakinya pada Ibu Pertiwi (210 hari).
  • Tumbuh Gigi, upacara mohon berkah kepada Hyang Widhi agar gigi si bayi tumbuh dengan baik.
  • Meketus, si anak sudah tidak lagi diasuh Hyang Kumara (tidak lagi mebanten di pelangkiran Hyang Kumara)
  • Menek Kelih atau munggah daha / raja sewala, upacara menginjak dewasa, saat-saat merasakan getaran asmara.
  • Potong Gigi/metatah, simbolis pengendalian Sad Ripu.
  • Upacara Perkawinan,  
***