Nasib

Bagi orang-orang tertentu terkadang percaya pada takdir sebagaimana dikatakan bahwa "Nasib manusia sepenuhnya telah ditentukan oleh Tuhan."
Karena pada mulanya dahulu juga diceritakan dalam proses utpati/penciptaan ini disebutkan bahwa keberadaan alam semesta beserta dengan segala isinya yang ada di dalamnya juga adalah atas takdir Tuhan Yang Mahaesa. 
Namun sejalan dengan itu bagi umat sedharma yang percaya pada hukum karma disebutkan pula bahwa :
"Nasib manusia juga ditentukan oleh manusia itu sendiri yang merupakan hasil dari sebuah hukum sebab akibat" yatu :
Dengan tidak mengingkari hukum karmaphala. hal ini sangat penting untuk dipahami dan dihayati, siapa yang berbuat baik akan mendapat pahala yang baik dan siapa yang berbuat buruk sudah dapat dipastikan akan mendapatkan hasil yang buruk seperti halnya terkenan nasib sial kepongor oleh leluhurnya.
Harus kita yakini benar kesungguhan hukum Tuhan tersebut. 
Meskipun kita melihat orang berbuat buruk pada saat ini dan kenyataannya ia bernasib baik, itu pun karena hukum karma phala juga. 
Nasib baik yang ia terima saat ini, pasti karena perbuatan baik sebelumnya yang ia lakukan. 
Sedangkan perbuatan buruk yang dilakukan saat ini sudah pasti akibatnya akan diterima kelak atau entah kapan. 
Ketika anda sudah berhasil mengendalikan pikiran, maka anda akan memiliki kendali atas tubuh anda dan anda sendiri dengan memiliki manacika yang suci bersih disebutkan adalah pengendalinya, 
Bisa dikatakan bahwa manusia-lah yang dapat menentukan nasib baik/buruk yang akan ia jalani berdasarkan Hukum Karma (Rta) yang telah diciptakan Tuhan dimana melalui sebuah jalan dharma disebutkan dapat menghindarkan kita dari kemungkinan garis nasib yang panas dan sengsara.
Begitu juga adanya kelahiran kembali dengan sistem reinkarnasi yang telah ada, hal ini terjadi karena disebutkan manusia harus menanggung hasil karma wasana pada kehidupannya yang terdahulu.
Prinsip-prinsip logika reinkarnasi seperti ini disebutkan juga sangat memungkinkan kita memandang kehidupan ini dengan perspektif yang jauh lebih luas—yaitu dari sudut keabadian. 
Dari sudut pandang tersebut, satu kehidupan singkat tidak dilihat sebagai titik awal keberadaan kita namun tak lebih dari sekilas waktu, dan kita dapat mengerti bahwa adanya orang-orang yang begitu saleh yang mungkin sangat menderita adalah sedang menuai hasil kegiatan dia yang tak beriman baik kini ataupun dalam kehidupan-kehidupan sebelumnya. 
Dengan visi yang luas mengenai keadilan alam semesta, kita dapat melihat bagaimana setiap roh bertanggung jawab atas karma-nya sendiri.

Perbuatan kita ibarat biji-bijian. 
Mula-mula berbuat, atau ditanam, dan setelah beberapa waktu, ia membuahkan hasil, lalu melepas reaksi-reaksinya sebagai akibat. 
Reaksi-reaksi seperti itu dapat menghasilkan derita atau kenikmatan bagi sang makhluk hidup, dan mungkin ia menyikapi hal-hal itu dengan menumbuh-kembangkan watak baiknya atau sebaliknya menjadi semakin mendekati karakter binatang. 

Dalam kedua keadaan tersebut; 
Hukum-hukum reinkarnasi berlaku tanpa pilih kasih untuk memberi hadiah kepada setiap makhluk hidup berupa nasib-nasib yang harus diterima akibat perbuatan dia sebelumnya.
Namun perubahan nasib juga disebutkan dapat dilakukan selain bekerja giat sesuai dengan swadharma masing-masing, juga melalui seorang guru yang selalu menuntun kepada setiap muridnya untuk dapat menambah kecerdasan dan wawasan.
Dengan kecerdasan dan wawasan inilah juga disebutkan nasib suatu bangsa kedepan ditumpukan, sebagaimana yang dijelaskan dalam sumber kutipan catur guru, dan peranan guru di sekolah, pasraman ataupun dosen di kampus ini sangatlah besar dalam bidang pendidikan putera-puteri suatu bangsa.
***