Purusa dan Pradana

Purusa dan Pradana adalah dua unsur alam semesta yaitu :
Semua makhluk hidup tercipta dari dua unsur tersebut. Demikian juga alam semesta ini berputar sesuai dengan hukum rta karena adanya dua unsur tersebut. 
  • Tuhan sebagai jiwa alam semesta disebut Brahman
  • Sedangkan Tuhan sebagai jiwa makhluk hidup disebut Atman.
Dalam konsep Pura Kahyangan Rwa Bineda disebutkan, semua umat manusia agar mengupayakan kehidupan yang seimbang antara kehidupan mental spiritual dan kehidupan fisik material.

Purusa dan Pradana sebagai dua benih kekuatan awal dalam urutan penciptaan manusia oleh Hyang Widhi yang disebutkan dalam dua unsur kekuatan tersebut yaitu :
  1. Unsur Purusa yaitu kekuatan hidup (batin/nama) dan 
  2. Unsur Pradana atau Prakerti yaitu kekuatan kebendaan. 
Dengan terciptanya dua kekuatan tersebut, kemudian terciptalah cita, budi, manah, ahangkara dll sebagai unsur - unsur pembentuk manusia.

Purusa dan Pradana ini sebagai ciptaan Tuhan yang pertama sebagaimana dijelaskan dalam kutipan babad bali dalam artikel pura pusering jagat disebutkan bahwa
  • Purusa sebagai benih laki - laki (pria)
  • Pradana atau prakerti sebagai benih perempuan (wanita)
Sehingga dengan adanya pertemuan antara purusa dan pradana inilah disebutkan melahirkan kehidupan yang harmoni di alam ini yang dalam upacara pawiwahan khususnya dalam mekala-kalaan sebagai kekuatan Sang Hyang Semara Ratih dengan menggunakan simbol - simbol sebagai berikut,
  • Biyu lalung sebagai simbol kekuatan purusa dari Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya, sebagai dewa kebajikan, ketampanan, kebijaksanaan simbol pengantin pria.
  • Kulkul berisi berem sebagai simbol kekuatan prakertinya Sang Hyang Widhi dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Ratih, dewa kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita.
Pada peleburan untuk memisahkan dan pengembalian unsur - unsur purusa pradana ini pada saat upacara ngaben yang dilaksanakan saat mratina yang dalam daftar istilah yang biasa digunakan dalam upacara ngaben, yaitu saat dilaksanakan mratina purusa dan prakerti orang yang diabenkan itu untuk dikembalikan ke sumbernya masing-masing yaitu :
  • Purusa dikembalikan ke Maha Purusa, dan 
  • Prakerti dikembalikan ke Panca Maha Bhuta Agung.
Atau dengan lain perkataan, bahwa mralina atau mratina sebagai proses melepaskan sang atman dan mengembalikan purusa prakerti / pradana ke sumber asalnya yaitu Sang Hyang Widhi.

Dengan keyakinan keberadaan purusa pradana ini, sebagaimana disebutkan
  • Penataran Pura Agung Besakih khususnya mandala keenam melambangkan cikal bakal kehidupan yaitu purusa pradana ini. 
  • Pelinggih yang ada di Pura Kawitan dalam hubungan purusha dan pradana yang pertama kali ada sebagai pengembang keturunan :
    • Gedong Kawitan sebagai purusha simbol dari pihak laki-laki.
    • Gedong Ibu sebagai pradana / prakerti simbol dari pihak wanita.
  • Berada di merajan, sebuah bangunan suci yang disebut pelinggih Pesaren Sari beruang dua tempat memuja leluhur dalam wujud purusa dan pradana. Tempat ini berfungsi untuk memuja leluhur yang telah menurunkan trah/keturunan secara langsung.
***