Pages

Memuat...

Ngaben

Sebuah bade dengan
keindahan seekor burung Wimana 
yang akan siap menerbangkanya
ke kahyangan.
Ngaben (Pelebonan; Pengabenan; Sawa Wedana) disebutkan adalah upacara pensucian atman atau roh orang yang telah meninggal dunia untuk mengembalikan unsur unsur yang melekat dalam badan kasar dan halus dari roh bersangkutan. 

Secara riil mayat di bakar dengan api sedangkan secara niskala dibakar dengan api suci kekuatan dari puja mantra Ida Sulinggih yang muput dan sering di sebut sebagai Agni Pralina selanjutnya dilakukan proses memukur untuk pensucian atman tingkat lanjut.

Tujuan Upacara Ngaben ini : 
Percaya dengan adanya roh leluhur, orang Hindu Bali merasa belum lengkap kehidupannya apabila belum melaksanakan Ngaben, karena Ngaben itu dimaknai sebagai kewajiban atau utang pitra rna yang harus dibayar kepada Leluhur yang telah melahirkan kita, 

Dalam upacara pengabenan, disebutkan terdapat 6 (enam) tugas sad kerti seorang Pendeta (sulinggih) antara lain :
  1. Menyelamatkan Atman (Atman kertih)
  2. Jana kertih
  3. Jagat kertih
  4. Buana Kertih
  5. Banyu Kertih
  6. Wana Kertih.
Demikian ngaben disebutkan yang dikutip dari salah satu komentar dari Forum Diskusi Jaringan Hindu Nusantara (ref1)

Manuk Dewata dalam Siwa Siddhanta 
sebagai penuntun sang arwah,
menuju keabadian
Sebagai salah satu bentuk dari upacara pitra yadnya, untuk pengertian, simbolisasi, makna dan istilah (ref2) dalam kelengkapan upacara ngaben dijelaskan seperti berikut :
  1. Memandikan jenazah. Upacara memandikan jenazah dengan peralatan dan tatacaranya, disebut atiwa - tiwa, yang bermakna bahwa orang yang telah meninggal itu mapeningan atau masucian, karena arwahnya akan meninggalkan alam ini menuju alam pitra atau alam astral ("Mrtya Loka"; Alam Bwah Loka).
  2. Meletakkan jenazah di balai. ini bermakna bahwa orang yang meninggal itu telah siap untuk menerima upacara pengabenan yang diperuntukkan kepadanya.
  3. Ngendag atau ngulapin ke setra. ini melambangkan suatu pemberitahuan kepada roh orang yang akan diaberikan itu diajak pulang untuk diabenkan.
  4. Mendak toya hening Upacara ini bermakna mencari air hening untuk dipakai tirtha - pamanahan. Yang melakukan menanah - tirtha adalah Ida Pedanda sang muput.

Daftar Istilah Upacara Ngaben | .... ngastawa, mapegat, berputar tiga kali di perempatan jalan dll .... 
Tata cara indik ngaben | nyiramin layon, tata cara memasang kwangen untuk memohon waranugraha,...

Sorga atau Neraka Dalam Upacara Ngaben, mana yang harus dituju ? 

Dalam perhitungan wariga dan dewasa ayu dalam urip wewaran, adapun hari / dewasa tidak baik yang perlu dihindari dalam upacara ngaben :

Hal - hal yang terkait dengan upacara ngaben :
  • Umumnya, Gamelan Angklung dimainkan untuk mengiringi suatu upacara kremasi ngaben ini yang dengan pelaksanaan Cita Agni dengan menggunakan damar kurung agar semakin sempurna prosesi ngaben ini....
  • Makalah Upacara Ngaben di Bali "..... dilandasi oleh pemikiran akan hakekat kehidupan sebagai manusia, yang berasal dari Tuhan untuk kembali kepada Tuhan
  • Kebiasaan membuat petulangan untuk kelengkapan sarana upacara ngaben di Bali, telah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang dari jaman dahulu sampai sekarang. 
  • Penggunaan bade atau wadah pada saat upacara pengabenan yang didasari oleh bhadawang nala.  
  • Setelah prosesi ngaben ini selesai akan dilanjutkan dengan upacara Atma Wedana, sebagai bentuk penyucian atman (roh) leluhur kita ini. 

Berbeda halnya dengan upacara adat ngaben di Desa Trunyan seperti layaknya upacara-upacara kematian serupa yang dilakukan di Bali yaitu jenasah tidak dibakar, melainkan hanya diletakkan di tanah pekuburan, demikianlah disebutkan beberapa hal dalam upacara ngaben di Bali.

Dalam filosofi upacara pengabenan atau ngaben ini sebagaimana disebutkan dalam salah satu panduan upacara pitra yadnya juga disebutkan tertuang dalam : aspek Prakerthi Tattwa | Bahwa sang hyang widhi menciptakan alam semesta beserta isinya melalui proses manifestasi-nya dengan kekuatan "cetana dan acetana", sehingga kekuatan acetananya :
Sebaliknya sejak manusia meninggal dunia, atma, rokh dan kekuatan panca maha bhutanya meninggalkan tubuhnya, maka tubuh mulai disebut jazad dan dalam pitra puja disebut "pitra".

Sehingga proses penyuciannya akan mengalami proses terbalik dari proses lahir yaitu ngeringkes > ngaben > memukur > nilapati dan pada akhirnya akan bersatu kembali dengan kekuatan "sang hyang prakerthi".
***