Cetana dan Acetana

Cetana dan Acetana adalah dua hal yang menyebabkan adanya ciptaan di alam semesta ini. Dalam Whraspati-Tattwa maupun Tattwa Jnana sebagaimana disebutkan dalam kutipan artikel, "Berburu Permata di Kaki Sang Dewi Saraswati", menguraikan bahwa hakikat tertinggi dalam suatu ciptaan adalah Cetana dan Acetana atau kesadaran dan ketidaksadaran. 
  • Cetana bersifat hening terang penuh dengan kesadaran sedangkan 
  • Acetana bersiat gelap, tidak tahu dan tanpa kesadaran. 
Pertemuan Cetana dan Acetana inilah disebutkan yang menyebabkan adanya ciptaan. 
Bertemunya Cetana dan Acetana menyebabkan menurunnya kesadaran Siwa (Hyang Widhi) dan termanifestasikan menjadi Dewa, Manusia, Hewan dan tumbuh-tumbuhan serta segala yang ada termasuk bumi dan alam semesta ini.
(Dimana dalam #kebudayaan Indonesia asli juga disebutkan pula bahwa, apabila Cetana dan Acetana terpisahkan akan lenyaplah alam semesta ini bagaikan impian yang lenyap mengikuti kesadaran yang bangun dari tidur).
Adanya perbedaan diantara segala yang ada, sebagai akibat dari komposisi yang berbeda dari Triguna yang muncul dari Pradanatattwa, yang berasal dari Acetana. 

Inilah bibit badan Jasmani, yang nantinya membungkus kesadaran atma sehingga penampakannya berbeda, “Sarwam Khalu Idham Brahman“, segalanya serba Tuhan.
Secara garis besar ajaran-ajaran yang dijelaskan di dalam Whraspati Tattwa disebutkan bahwa unsur kesadaran dan ketidaksadaran dari Cetana dan Acetana ini tergantung pada kuat tidaknya pengaruh māyā serta bersifat halus dan menjadi sumber segala yang ada.
Sehingga itulah sebabnya muncul dua kekuatan cetana dan acetana ini untuk purusa pradana Sang Hyang Ketu dan Sang Hyang Rahu.

Berpadunya dua kekuatan ini pada jenjang Siwatama yang disebut dengan Gunakarya barulah muncul ciptaannya yaitu :
  • Sang Hyang Rahu beryoga lahirlah para Kala, Bhuta dan Sang Hyang Ketu.
  • Sanghyang Ketu beryoga lahirlah para Dewa dan Wewaran selanjutnya dwi wara dan demikian seterusnya.
***