Pitra

Pitra ("Pitara") berasal dari kata “Pitri” yang mengandung arti sebagai unsur-unsur kekuatan Panca Maha Bhuta yang membentuk lapisan Stula Sarira sebagaimana yang disebutkan dalam panduan pitra yadnya upacara pitra yadnya oleh yayasan pitra yadnya Indonesia yang awalnya dikatakan bahwa ketika sang atman akan kembali kepada sang penciptaNya dalam urutan statusnya diberikan sebagai berikut :
Pitra merupakan peningkatan status dari preta melalui upacara sawa wedana dalam upacara pitra yadnya sebagai salah satu kewajiban suci tri rna kita kepada para leluhur.
Upakara Pitra dan bagi pelayat pada saat upacara ngaben dikatakan oleh Pedanda Gde Putra Sidemen, untuk bebantenannya dapat disiapkan yaitu sebagai berikut :
  • Untuk Pitra dalam mrtiwi (mependem) dan gni pralina, (mageseng / diperabukan) : Pras, Daksina, Ajuman putih kuning, nasi angkep.
  • Untuk umat yang ngelayat disiapkan prayascita agar dapat membersihkan atau mensucikan cuntaka bagi para pelayat.
Dengan selesainya upacara ngaben yang dilanjutkan dengan upacara nyekah, nama pitra diganti namanya menjadi nama - nama bunga dan kayu sesuai dengan yang ada di alam kita ini sehingga dengan rangkaian upacara atma wedana ini dapat meningkatkan status pitra menjadi dewa pitara untuk dapat ngunggahang / ngelinggihin Dewa Pitara pada Sanggah Kamulan sebagai pitra puja, bhakti kita kepada atman para leluhur kita.

Mantra Pitra Puja, ditetapkan berdasarkan surat PHDI Pusat Nomor : 0198/Parisada-P/XI/2004 tanggal 5 Nopember 2004 dan Surat Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Nomor : DJ.V/Dt.V.II/5/BA.03.1/1718/2004 tanggal 10 Nopember 2004 yang dalam kutipan artikel pasraman girinatha, pitra puja tersebut diucapkan sebagai berikut :

Om moksantu pitaro devah, Moksantu pitara ganam, Moksantu pitarah sarvaya, Namah svada.
“Om Hyang Widhi semoga atmanya mencapai moksa, semoga semua atma / roh suci mencapai moksa, sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi dan hormat hamba kepada semua atma suci.”
***