Selanturnyane

Kebodohan

Kebodohan yang juga disebut sebagai "Awidya" adalah kegelapan pikiran dalam kehidupan ini yang disebutkan perlu dihilangkan,
  • Dalam Saracamuscaya (sloka 399-404) dalam beberapa kumpulan renungan disebutkan, 
    • Kebodohan adalah tiadanya kecerdasan akal budi atau tiadanya kesadaran akan kebenaran sejati (tiadanya prajna) atau tiadanya pengetahuan tentang hakikat dari sesuatu konsep keseimbangan kecerdasan,
      • Kecerdasan akal-budi akan meningkatkan kualitas moral, 
      • sedangkan kecerdasan keilmuan pragmatis duniawi justru menimbulkan keterikatan hati pada materi. 
    • Hal ini tercermin dalam bentuk egoisme, kecongkakan, kejahatan, dan sebagainya yang justru berlawanan dengan kualitas moral sesuai kebenaran agama.
Itulah hakekat dari bodoh seperti yang dikutip dalam salah satu komentar forum diskusi jaringan hindu nusantara yang dalam kutipan tersebut juga dikatakan, terhadap orang - orang seperti itu janganlah kita ngomongnya terlalu tinggi, sebab mereka akan cenderung : 
  • meboye,
  • menolak, 
  • mencemoh, 
  • meremehkan. dll. 
Bahkan, kita pun juga tergolong bodoh bila ditinjau dari kebenaran yg tingkatnya lebih tinggi lagi.

Dalam kutipan penjelasan tentang dharma, disebutkan bahwa. Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa adalah maha tahu,
  • karena kebodohan umat seorang yang belum mumpuni sebagai pendeta yang menyatakan dirinya sebagai seorang sulinggih,
  • dengan hanya bermodalkan upacara yadnya yang pada hakekatnya hanya bersifat formalitas.

Maka dari itu, salah satu kewajiban seorang sulinggih yang disebutkan dalam Dasa Krama Paramartha untuk dapat memberikan bimbingan kepada orang yang bodoh dan yang salah.

Kebodohan dan kelambanan yang menyebabkan semakin hilangnya dharma kebaikan sehingga dengan selalu bertambahnya ilmu pengetahuan sebagai dasar dari kecerdasan itu agar kita sebagai manusia nantinya dapat mengendalikan sifat tri guna untuk dapat mencapai masa depan yang lebih baik.
***