Agama

Agama adalah sebuah keyakinan sebagai penuntun untuk dapat mengetahui hakekat dan tujuan hidup yang sebenarnya, baik itu :
  • Kehidupan di dunia, alam mayapada ini;
  • Dan juga di akhirat kelak; 
    • yaitu alam setelah kematian, dimana nantinya setiap orang juga disebutkan akan mengalaminya.
Dan semua agama pada dasarnya disebutkan adalah sama yaitu :
  • Mengajarkan kebenaran untuk dapat mencapai alam surga dan pembebasan dari kesengsaraan; namun cara masing-masing dalam mencari kebenaran berbeda-beda.
  • Dengan perbedaan ajaran dan pemahaman yang perlu dihormati.
    • Karena perbedaan yang ada bukanlah untuk diperdebatkan;
    • Namun sebuah agama diyakini atas kebenarannya.
    • Yaitu dengan doa yang dipanjatkan bersifat pribadi untuk dapat berhubungan dengan sang pencipta.
  • Dan semuanya juga disebut dengan agama damai yang menjadi harapan kita semua yaitu "Damai di hati, damai di dunia dan damai untuk selama-lamanya." sebagaimana yang terkandung dalam "Om Shanti Shanti Shanti".
Namun hendaknya juga disebutkan bahwa memahami agama dimulai dengan adanya keyakinan
Dengan adanya keyakinan tentang adanya Ida Sang Hyang Widhi maka kita dapat membuktikan kebenaran sebuah agama. 
Keyakinan ini diperoleh dengan cara mempelajari ajaran agama, menyelami isinya dan diamalkan dalam bertindak, berbicara, ataupun berpikir.
Sebagai perbandingan dalam sebuah keyakinan dunia modern dengan keyakinan akan adanya eksistensi Tuhan Yang Maha Esa juga dikatakan bahwa :
  • Agama adalah canopy suci untuk menghadapi kekacauan (chaos) (the sacred canopy of chaos)
  • Agama ibarat langit suci yang teduh dan melindungi kehidupan ini. 
Maka dari itu hendaknya masyarakat harus kembali kepada basic value atau basic principle yang merupakan nilai-nilai dasar dalam kehidupan ini.
Dimana melaksanakan kewajiban agama sebagaimana tujuan yang terkandung dalam Catur Dharma juga disebutkan :
Harusnya dilaksanakan dengan penuh keikhlasan serta ada rasa tanggung jawab demi terwujudnya keadilan sosial bagi umat manusia sehingga nantinya dapat mencapai kedamaian lahir bathin dalam diri sendiri serta kedamaian, kesentosaan dalam keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Seperti halnya kehidupan beragama di Bali yang tidak bisa dipisahkan dengan masyarakat yang multikultural dan kebudayaan setempat sebagai kearifan lokal yang bersinergi dan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam sebuah ritus keagamaan.

Selain itu, berkaitan dengan kata "agama" itu sendiri secara etimologi juga disebutkan bahwa kata "agama" itu berasal dari bahasa saksekerta yakni dari kata :
  • “a” dan “gam”
  • yang masing-masing artinya 
    • “tidak’ dan “pergi”
Sebagaimana disebutkan dalam salah satu diktat agama hindu, kata agama ditilik dari arti kata tersebut,
  • sesuatu yang tidak pergi, 
  • tetap tidak berubah dan abadi. 
Sebab, “tidak pergi” dapat dimaknai sebagai sebuah kata mengurungkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar norma-norma hidup. 

Kata “agama” dalam kamus Indonesia-Inggris disamakan artinya dengan “religion”.

Dan ciri utama orang beragama disebutkan dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala yaitu berbakti kepada Tuhan (Ida Sang Hyang Widi).
Dalam konteks itu, umat diharapkan mampu menguatkan daya spiritual untuk menajamkan kecerdasan intelektual. 
Hal itu dijadikan dasar untuk menguatkan kepekaan emosional dan melahirkan kepedulian sosial.
Dalam Hindu, agama disebut dengan “Dharma” atau “Sanatana Dharma yang artinya :
  • Kebenaran, 
  • Kebijaksanaan yang utama (Abadi), 
  • Tiada awal dan tiada akhir. 
Masyarakat Indonesia sering menggunakan kata “Agama Hindu” atau “Hindu Dharma”, karena makna dari kata “agama” sama artinya dengan “dharma”.

Dilihat dari rumusan pengertian agama tersebut, ada beberapa hal penting yang harus diketahui yakni;
  • Ssebagai motivasi dalam meningkatkan mental dan spiritual
  • Sebagai tatanan dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. 
Agama tidak saja bertujuan untuk memupuk kebahagiaan di dunia, akan tetapi juga kebahagiaan di alam setelah kematian.
Tahapan-tahapan peningkatan kualitas beragama dalam inspirasihindu (Belajar dan Pembelajaran Adalah Yadnya) yang menurut Lontar Sewaka Dharma adalah:
  1. Ksipta, seperti perilaku ke-kanak-kanakan yang cepat menerima sesuatu yang dianggapnya baik tanpa pertimbangan yang matang.
  2. Mudha, seperti perilaku pemuda: pemberani, selalu merasa benar, kurang mempertimbangkan pendapat orang lain.
  3. Wiksipta, seperti perilaku orang dewasa, mengerti hakekat kehidupan, memahami subha dan asubha karma.
  4. Ekakrta, seperti perilaku orang tua, yaitu keyakinan yang kuat pada Hyang Widhi, mempunyai tujuan yang suci dan mulia.
  5. Nirudha yaitu perilaku orang-orang suci seperti seorang sulinggih yang penuh pengertian, bijaksana, segala pemikiran perkataan dan perbuataannya terkendali oleh ajaran-ajaran Agama yang kuat, serta mengabdi pada kepentingan umat manusia.
Dan sebagai pemimpin agama, para sulinggih juga diharapkan agar mampu untuk dapat mengapresiasikan empat unsur pokok ajaran agama yaitu : 
  • Tattwa, dasar keyakinan beragama. 
  • Tata susila, untuk mengetahui hakekat kebenaran sesuatu. 
  • Acara agama, wujud simbolis komunikasi manusia dengan Tuhannya. 
  • Parisada, mengembangkan hubungan harmonis dengan sesama umat sebagai ciptaan Tuhan.
Namun dalam Whraspati Tattwa 26 juga disebutkan bahwa apa yang dinyatakan oleh kitab suci dan diajarkan oleh guru (seperti halnya oleh para Nabe) dalam etika dan moralitas menurut Putra Devata itulah juga agama namanya.
***

Daftar Bacaan Terlengkap & Terpopuler di Bali