Belajar

Belajar itu biasanya juga dapat dipersamakan dengan sebuah kreativitas dalam proses pengembangan diri untuk dapat menentukan warna kehidupan berikutnya;
Baik secara aktual dalam meningkatkan kecerdasan maupun dalam hal peningkatan potensial diri dalam mengarungi kehidupan ini.
Di Bali, proses belajar disebutkan beberapa istilahnya :
  • Gemar belajar disebut sebagai adhyaya; 
  • Mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan disebut adhyapaka. 
  • Dan rajin belajar disebut sebagai swadhaya.
Sehingga untuk menjadi yang utama menurut sanatana dharma disebutkan bahwa :
  • Manusia hendaknya menempuh jalan hidup yang ilmiah dimana jalan hidup ilmiah hanya dapat diperoleh melalui proses belajar dan pembelajaran untuk dapat meningkatkan kecerdasan dengan selalu bertambahnya ilmu pengetahuan.
  • Juga didasarkan oleh keikhlasan hati seperti halnya dalam belajar membuat upakara yadnya sebagai perbuatan yang sangat mulia.
Dengan membiasakan diri mempelajari dengan cermat ilmu pengetahuan (sastra) dan mengetahui prihal ilmu huruf (aksara) seperti halnya seorang brahmacari dimana pada masa menuntut ilmu, dalam tingkatan brahmacari ini sebagaimana disebutkan merupakan tingkatan pertama dari catur asrama yang harus dilalui oleh manusia dalam perjalanan hidupnya dimana :
  • Sejak lahir ke dunia ini manusia disebutkan sudah mulai belajar. 
    • Belajar berbicara, 
    • Belajar merangkak, 
    • Belajar berjalan, 
    • Belajar berfikir, 
    • Belajar bekerja, 
    • Belajar tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, diucapkan dan difikirkan. 
  • Makin bertambah umur, makin banyak yang harus dipelajari. 
    • Ada ilmu pengetahuan seni dan teknologi yang harus ditelaah untuk bekal dalam memasuki tahap hidup selanjutnya. 
    • Ada banyak hal yang perlu dipelajari, baik melalui pendidikan formal, informal maupun nonformal yang bertujuan untuk mempelajari :
      • Pengetahuan, 
      • Keterampilan, 
      • Kecakapan, 
      • Kebiasaan, 
      • Kegemaran, 
      • Sikap 
      • Dan juga ada etika dan agama yang harus ditekuni dan dihayati selanjutnya dilaksanankan sebagai pedoman hidup sehari-hari. 
Hal ini merupakan potensi yang diperoleh akibat belajar, akan sangat menentukan warna kehidupan berikutnya.
Hal ini akan menghasilkan perubahan pada diri seseorang baik aktual maupun potensial untuk mencapai tujuan hidup di dunia ini.
Manusia lahir juga dari proses suatu perkawinan, oleh karena itu perkembangan dari masa anak-anak sampai menginjak remaja (yowana) dipandang sebagai Brahmacari Asrama. 

Dalam pertumbuhan dan perkembangan anak melalui siklus reproduksi yang integral, yaitu sejak janin dalam kandungan ibu, bayi, anak, remaja (yowana), dewasa, orang tua dan lanjut usia. 

Dalam siklus kehidupan ini berlangsung tahapan-tahapan yang relatif rumit dan spesifik untuk masing-masing tahapan. 
Salah satu tahapan tersebut adalah masa remaja (yowana) yang dalam Agama Hindu disebut dengan Brahmacari Asrama (masa menuntut ilmu).
Pada masa ini terjadinya proses awal kematangan organ reproduksi dan mental manusia, dalam tahapan ini, berlangsung penuh konflik seingga berpotensi untuk terjadinya disharmoni dalam hubungan interpersonal pada remaja (yowana).
Masa remaja (yowana) akan terjadi perubahan-perubahan pada fisik maupun psikis. Karena itu masa remaja (yowana) sering juga disebut masa pancaroba, yang penuh tantangan dan resiko. Remaja (yowana) sangat mudah terpengaruh oleh hal-hal yang menjerumuskan atau merugikan dirinya maupun orang lain. 
Seperti halnya prilaku yang tidak baik dari sapta timira, tidak sedikit yang terpengaruh atau kecanduan minuman keras, narkoba, terjangkit penyakit HIV/Aids dan perilaku negatif lainnya dimulai pada masa remaja.
Maka dari itu semua proses belajar ini diperlukan oleh setiap umat manusia untuk nantinya dapat menetukan warna kehidupan berikutnya sehingga manusia juga dituntut untuk dapat memfokuskan diri pada pelajaran baik pada pelajaran ilmu pengetahuan maupun ilmu kerohanian sebagai bekal dalam menempuh kehidupan nantinya.
***