Aji Swamandala

Aji Swamandala adalah lontar yang menguraikan tentang penentuan hari baik dan buruk (padewasan) yang merupakan ajaran dari Bhatara Sùrya Candra yang diwarisi dari sejak dahulu kala sebagai tata cara orang untuk mendapat hari baik, dewasa ayu (ala ayuning dewasa) untuk melaksanakan upacara kecil, menengah ataupun besar. 
Baik upacara menyucikan diri, aguntinga dan upacara mengangkat anak untuk melanjutkan keturunan.
Seperti halnya berhubungan dengan Pitra Yadnya sebagaimana disebutkan sumber kutipan alih aksara dan alih bahasa lontar yang salah satu isi dari lontar ini disebutkan larangan dan kutukan orang yang menguburkan mayat :
  • Bila ada orang yang menyelesaikan upacara kematian pada Tumpek, maka Sang Hyang Tugini akan menenggelamkan roh orang itu ke neraka (bhur loka)
  • Bila ada orang menyelesaikan upacara kematian pada hari Buda Kliwon, baik yang meninggal maupun keluarga orang yang meninggal akan mendapat hukuman dari Sang Hyang Buddha. 
  • Bila melaksanakan upacara kematian pada hari Anggara (Selasa) Kliwon, maka akan dihukum oleh Sang Wirasmara. 
  • Pada waktu Purnama dan Tilem (Bulan Mati) juga dilarang untuk melakukan upacara orang yang meninggal. 
  • Ada juga larangan mengupacarai mayat orang yang meninggal yang dikubur yang lamanya belum satu tahun. Bila hal ini dilanggar maka atma orang yang meninggal itu akan tidak mencapai kalepasan dan pendeta yang menyelesaikan upacara itu termasuk pendeta dusta.
Mengenai orang mati yang dikubur tanpa batas waktu untuk mengupacarai. Hal ini dapat dilaksanakan bila pada waktu mayat itu dikubur disertai dengan upacara pangentas, panebasan, dan permakluman kepada Bhatara yang berkuasa atas kuburan (setra)
Bila ada orang meninggal karena penyakit menular, harus segera dikubur, sedangkan bagi mayat pendeta atau seorang sudra yang telah melaksanakan upacara masurud ayu tidak boleh dikubur. 
Seseorang tidak boleh melaksanakan upacara mamuja, menyapu di tempat suci, otonan (agunting) sampai pawiwahan, bila yang bersangkutan masih mempunyai mayat yang belum diaben. 

Namun upacara tiga bulanan (nelubulanin) boleh dilaksanakan dengan menghaturkan banten pejati sebagai permakluman atas orang yang meninggal tersebut.

Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ini juga disebutkan bahwa :
  • Tawur kesanga sebagai rentetan perayaan hari raya nyepi dan tahun baru saka dalam artikel PHDI sebagaimana dijelaskan bahwa tawur kesanga termasuk upacara Butha Yajña yang dilangsungkan umat manusia dengan tujuan membuat dan memohon kepada Tuhan untuk kesejahteraan alam lingkungan.
  • “Ngiring prawatek dewata” dalam melasti tradisi hindu untuk menghilangkan kekotoran diri dan alam semesta sebagaimana disebutkan lontar Sang Hyang Aji Swamandala itu mengandung makna bahwa ciri utama orang beragama yaitu berbakti kepada Tuhan (Ida Sang Hyang Widi). Dalam konteks itu, umat diharapkan mampu menguatkan daya spiritual untuk menajamkan kecerdasan intelektual. Hal itu dijadikan dasar untuk menguatkan kepekaan emosional dan melahirkan kepedulian sosial.
  • Beberapa kutipan dari Kajian Lontar Aji Swamandala | banyak hal yang diuraikan terkait dengan wariga. berkaitan dengan ala-ayuning dewasa yang dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan upacara yadnya seperti :
    • Dewasa pager bhumi yang patut dipergunakan untuk mengupacarai calon raja untuk menjadi raja, atau hari baik utuk memilih raja (pemimpin) kembali untuk menduduki kepemimpinan suatu keraton dll.
    • Ajaran yang patut dipegang oleh sang sadaka apabila hendaknya menganugrahkan dewasa kepada masyarakat tentang hari yang disebut baik atau buruk dan keburukan dari wuku yang disebut wala-wadi.
    • Alaning dewasa: wuku tan paguru, sasih tan patumpek, wulan tan pasirah, Erangan, Kala, dangu dan Pasah
      • Semua hari buruk itu, ada upacara (seperti halnya diupacarai dengan pamarisudha mala dewasa) untuk menjadikannya hari baik, sehingga menyebabkan yang punya kerja tidak mendapatkan rintangan.
      • Mretaresi, hari baik untuk membangun tempat suci, sanggar.
      • Alaning dewasa: wuku tan paguru, sasih tan patumpek, wulan tan pasirah, Erangan, Kala Dangu, Pasah dan Prawani wulan.
      • Aji Swamandala sebagai ajaran Bhaþàra Sùrya Candra yang diwarisi oleh para Pendeta dari sejak dahulu kala untuk menentukan hari baik-buruk dalam melaksanakan upacara yadnya.
***

Daftar Bacaan Terlengkap & Terpopuler di Bali