Zaman Kali Yuga

Zaman Kali Yuga; Kaliyuga adalah perputaran waktu yang terakhir dalam siklus drama kehidupan dunia dalam simbol swastika sebagai lambang dari Hindu Dharma.

Zaman ini sebagaimana dijelaskan pula lontar catur yuga dalam sumber kutipan alih aksara dan bahasa lontar yang disebutkan :
  • Ditandai dengan kurang lebih seratus tahun umurnya manusia, ukurannya satu-satu, satu kakinya dunia; 
  • Itulah sebabnya huru-hara di dunia, hampir-hampir rusak tiada tara, mendung tebal akan menurunkan hujan, perigi akan kering, nempuluh tahun penuh dengan kekerasan, itu yang disebut sapta, selalu berpisah tiada mau bersatu.
Seperti yang juga diceritakan dalam Kitab Mausala Parwa Mahabarata, dari hal itu timbulah Tri Mala.
Sebagai penyebab dunia ini manjadi kacau, bisa merajalela menyakiti, merampok, memperkosa, membunuh sesama manusia yang tidak berdosa, aneka rupa kejahatan di muka bumi, yang berlaksana benar mati, yang sombong hidup dan mendapatkan kesenangan, tamak, bersifat kejam.
Tanda-tanda Zaman Kaliyuga dalam Kitab Wisnu Purana secara lebih terinci juga disebutkan, 
ada banyak aturan yang saling bersaing satu sama lain, 
  • Banyak perubahan tak diinginkan yang akan terjadi 
  • Orang-orang yang berbuat dosa akan bertambah berlipat-lipat, kebajikan akan meredup dan berhenti berkembang. 
  • Kehamilan di usia remaja bukanlah hal yang asing lagi. 
  • Umat manusia menjadi semakin pendek, raganya melemah secara mental dan rohaniah. 
  • Para guru akan dilawan oleh para muridnya. 
    • Mereka perlahan-lahan kehilangan rasa hormat. 
    • Pelajarannya akan dicela dan Kama (nafsu) akan mengontrol semua keinginan manusia. 
  • Ketika pohon-pohon berhenti berbunga, dan pohon-pohon buah berhenti berbuah, maka pada saat itulah masa-masa menjelang akhirnya Kali Yuga. 
  • Hujan akan turun bukan pada musimnya 
  • Ketika akhir zaman Kali Yuga sudah mendekat. 
    • Kitab suci tidak akan berbohong 
    • dan nanti saat zaman kaliyuga mencapai puncaknya disebutkan juga akan datang Kalki Awatara untuk menyelamatkan umat manusia. 
Sebagai tambahan, dengan adanya Gumi kemalaan tersebut dimana manusia banyak melakukan dosa, sehingga menurut Lontar Widhi Sastra disebutkan hendaknya :
Upacara yadnya ngusaba nini dan ngusaba desa yang dilaksanakan oleh desa adat dilakukan secara bersamaan yang bertujuan untuk tegaknya hati nurani kembali dalam memelihara kebenaran sehingga terhindar dari prilaku yang penuh dosa.
Dalam wasista tattwa pun disebutkan, ada upacara yadnya yang sepatutnya dilaksanakan di zaman kali yuga ini seperti : 
***