Panca Nada

Panca Nada adalah lima suara yang mengantarkan prosesi ritual agama dari awal sampai akhir upacara yadnya yaitu :
  1. Gentaketika suara genta ini bergema bagaikan suara kumbang sedang mengisap bunga dan amatlah meriahnya upacara yadnya yang suci itu, 
    • seperti halnya dahulu sewaktu Sapta RsiMpu Ketek dan adik-adiknya datang ke Bali 
    • untuk menghaturkan pujawali kepada Bhatara – Bhatara, Tuhan Yang Maha Esa dan terhadap atman atau roh – roh suci leluhur mereka.
  2. Suara gamelan, kasih sayang yang diwujudkan dalam bentuk keindahan suara musik seperti halnya dalam mengiringi tarian dan seni tradisional Bali yang ada sampai saat ini.
  3. Kul-kul, sebagai alat komunikasi yang memiliki makna simbolik tersendiri dalam tatanan kehidupan kemasyarakatan.
  4. Kidung, lantunan lagu-lagu suci yang dinyanyikan pada saat pelaksanaan yadnya seperti halnya geguritan dll.
  5. Mantraketika suara mantra dilantunkan, vibrasinya akan bergetar secara simultan dalam diri individu dan pada sistem kosmik.
Apabila salah satu dari suara tersebut tidak disuarakan biasanya Tapakan Kerauhan menurut teologi hindu, kerauhan dalam ritual agama hindu di bali (perspektif teologi hindu) akan memberitahu umat untuk menyuarakan panca nada ini.

Dan sebuah alunan musik juga menurut Ev.Andreas Christanday memiliki tiga bagian penting yaitu:
  1. Beat, 
    • mempengaruhi tubuh,ritme mempengaruhi jiwa dan harmony mempengaruhi roh. Contoh beat mempengaruhi tubuh adalah konser musik rock, 
    • dimana orang akan menjingkrak-jingkrak, kepala berputar-putar dan tubuh mengikutinya seakan tanpa rasa lelah. 
  2. Ritme,
    • dapat mempengaruhi jiwa,
      • jika hati sedang susah atau gundah cobalah mendengar suara yang indah, yang memiliki ritme yang teratur, tentu perasaan kita akan enteng. 
    • Di luar negeri pasien di rumah sakit dibantu disembuhkan dengan lagu-lagu indah.
  3. Harmony, 
    • mempengaruhi roh (atman kita), dalam ritual keagamaan juga banyak digunakan harmoni yang mampu membawa roh manusia masuk ke dalam alam persembahan.

Musik gamelan Bali, terutama gong memiliki rentang frekuensi yang sangat rendah dan rentang nadanya memang cukup terbatas,
tetapi irama, tempo atau beat musik gamelan tidak kalah variatifnya dibandingkan musik klasik meskipun lebih condong untuk monoton.  
Namun monotonic beat bisa berlaku seperti pembuka jalan ke arah mental state trance bagi pendengarnya. 
Inilah sebabnya seperti disebutkan mengapa Kerauhan di Bali banyak berhubungan dengan aktifitas ritual keagamaan dimana didalamnya banyak diperdengarkan musik gamelan sebagai bagian dari Panca Nada yang mengiringi meriah dan sucinya upacara yadnya tersebut.
***