Pulegembal

Pulegembal (atau juga disebut dengan Pregembal; sarad) adalah salah satu bentuk upakara yadnya yang dipergunakan untuk nyupat Bhuta Kala yang dalam jenis - jenis upakara piodalan alit tingkat madya dan filosofinya, dijelaskan bahwa banten Pulegembal ini disebutkan
dewanya yaitu Dewa Gana, putra Dewa Siwa dengan Dewi Uma yang merupakan Dewi Durga itu sendiri. 

Logisnya disebutkan, kalau Dewi Uma Krodha maka krodhanya akan sirna kalau didatangi oleh putranya yaitu Dewa Gana. 
  • Jadi Dewa Ganalah yang mampu menghilangkan sifat krodhanya Dewi Uma karena tidak ada seorang ibu yang membenci putranya sendiri. 
  • Kalau seorang ibu marah pasti dengan kasih sayang, jadi dengan banten Pulegembal ini memiliki kedasyatan pebangkit, yaitu 
    • dengan bebangkit pulegembal ini akan menjadikan para bhuta kala berguna bagi kehidupan terutama bagi manusia apabila diperlukan dengan kasih sayang. 
Kekuatan kasih itu akan diperkuat oleh Banten Sekar Taman dalam pulegembal ini yang melukiskan kesucian cinta kasih layaknya Dewa Smara dengan Dewi Ratih yang tetandingan banten Pulegembal ini disebutkan,
  • diatas tamas atau dulang dirangkai berbagai jenis jajan, dilengkapi dengan buah-buahan, bantal, tape, tebu
  • Sampiannya menggunakan sampian yang disebut dengan Sri Kekili, dibuat dari janur yang berbentuk kojong dengan lengkungan yang indah, kiri-kanan dan ujung janurnya disatukan seperti kuncir. Yang terpenting dari banten Pulegembal ini yaitu jenis sanganan atau jajannya bermacam-macam yang menggambarkan alam semesta dengan segala isinya. 
    • yang menggambarkan isi lautan, seperti jajan toro-toro, jajan karang, dsb. 
    • yang menggambarkan tumbuh tumbuhan, seperti jajan ancak, jajan bingin, ubi, keladi, ambengan, kayu sugih, simbar, dsb. 
    • yang menggambarkan bunga, seperti bunga kecita, bunga temu sekar agung, dsb. 
    • yang menggambarkan berbagai jenis burung, seperti burung Manuk Dewata, burung dakah, dikih, ngosngosan, dsb. 
    • yang menggambarkan orang, seperti Dukuh Lanang dan Istri / purusa pradana, Cili (Cili Megandong, Cili Mesingal), penunggu taman, dsb. 
    • yang menggambarkan banten, seperti banten peras, penyeneng, tulung, dan sesayut. Ada jajan yang melukiskan bangunan, seperti jajan kemulan, taksu, dan cakraning pedati
    • yang melukiskan air, seperti jajan air taman, gumelas, gumulung (air danau dan air laut).
    • yang melukiskan waktu, seperti jajan lemah dengan warna putih dan hitam. 
    • yang melukiskan Dewata Nawa Sanga, seperti Bajra, Naga Pasa, Cakra, Gada, Padma dsb.
    • dll
Beberapa banten yang biasa menyertai banten Pulegembal ini yaitu : 
  • Banten tegteg, yaitu sejenis jejahitan / reringgitan yang terdiri dari beberapa buah kojong dengan beberapa senis jajan . 
  • Banten Sekar Taman yaitu banten yang menyerupai bangunan kecil bertiang empat buah dibuat di tebu beralaskan ceper
    • Di tiangnya dihias dengan janur, bunga-bungaan dan dedaunan. Didalamnya diisi periuk atau sangku berisi air tirta, bunga harum sebelas jenis, disertai dengan sampian Padma lambang senjata Siwa. 
  • Banten Jerimpen, yaitu banten yang dibuat dari anyaman bambu yang disebut juga keranjang jerimpen. Pada keranjang diikatkan beberapa jenis jajan seperti jajan begina, bekayu, sirat, kekeping, dsb. Keranjang itu dialasi dengan sebuah wakul.
Akhirnya kumpulan dari berbagai banten yangt menyertai Pulegembal itu dilengkapi dengan sesayut dengan jumlah tumpeng 22 buah yang merupakan lambang urip Bhur dan Bwah Loka merupakan alam Sekala yang kumpulan banten disebut dengan yadnya Banten Pemereman atau Pulegembal Sekar Taman sebagai kekuatan kasih sayang.
***