Pages

Memuat...

Dewi Durga

Dewi Durga "Bhatari Durga" (Dewi Uma; Parwati; "Dewi Giriputri"; Lontar Anda Bhuwana , "Bhatari Tapeni"; Lontar Tapeni yadnya yang disebutkan dalam Tri Murti) adalah sakti dari Dewa Siwa yang sebagaimana disebutkan :
  • Awalnya menjadi unsur pradana sebagai kekuatan energi bhuwana agung ini,
    • yang diceritakan pada mulanya bersama Sang Pretenjala dalam proses penciptaan kehidupan di alam ini.
  • Dipuja di Pura Prajapati, terletak di hulun setra.
  • Tugu yang berbentuk candi sebagai perwujudan Candika dari Dewi Durga.
    • seperti halnya Penunggun Karang disebutkan,
    • sebagai penjaga karang atau palemahan beserta penghuninya agar senantiasa berada dalam lindunganNya, tentram, rahayu sekala niskala.
  • dll.
Dewi Durga sebagai Saktinya Dewa Siwa yang disimbolkan dalam Arca Durga Mahisasura sebagaimana disebutkan merupakan kemahakuasaan Tuhan dalam fungsinya sebagai Dewi Kasih Sayang yaitu Dewi Pelebur niat buruk dan membangun niat suci.
  • Untuk membangun niat baik dengan melebur niat buruk memang tidak mudah.
  • Karena sulitnya mencapai upaya tersebutlah disebut Dewi Durga.
Kata ”durga” dalam bahasa Sansekerta berasal dari kata 
  • ”dur” artinya sulit dan 
  • ”ga” artinya dilalui atau dijalani. 
Karena itu kata ”durga” artinya sulit dicapai atau sulit dilalui. Niat itu sesuatu gerak diri yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata oleh orang lain. Karena sulitnya menempuh jalan itu maka disebut Durga.
Dewi Durga, dalam Sekte Bhairawa disebutkan sebagai dewa utama yang di puja di Pura Dalem yang disimbolkan dengan Ratu Ayu (Rangda) yang memiliki nilai magis sehingga masyarakat penyungsungnya makin merasa dekat dengan rangda untuk mendapat kesucian serta kehidupan secara rohani.

Dalam mitologi Dewi Durga yang dikutip dari buku Gandamayu, Refleksi Mitologi dalam Kekinian, disebutkan sosok Dewi Durga adalah sebagai sang penguasa kegelapan dan penunggu setra Gandamayu yang diyakini sebagai setra paling angker di bumi, tak lain adalah perwujudan Dewi Uma yang dikutuk oleh suaminya, Dewa Siwa. 

Jatuhnya kutukan terhadap Dewi Uma oleh Dewa Siwa, didalilkan sebagai ujian kesetiaan sang dewi yang kala itu diperintahkan turun ke bumi mencari empehan susu sapi putih demi mengobati suaminya, yang ternyata hanya berpura sakit. 
Ketika Dewi Uma dengan ketulusannya hendak menyembuhkan sang suami, Dewa Siwa menjelmakan dirinya sebagai pengembala sapi putih yang kemudian dijumpai Uma di hutan. 
Mengetahui kesulitan Dewi Uma yang tak kunjung menemukan sapi putih yang tengah menyusui, sang gembala pun memperdayai Dewi Uma untuk melakukan hal tak senonoh. 

Awalnya Dewi Uma menolak, namun demi kesembuhan Dewa Siwa, Dewi Uma pun menyanggupinya.
Sekembali ke kahyangan, bukan terimakasih yang diperoleh Dewi Uma, melainkan kutukan sang suami yang menuduhnya telah melanggar kesetiaan, berbuat tak senonoh dengan seorang gembala, yang padahal tak lain Dewa Siwa sendiri. 
Merasa dijebak oleh suaminya, Dewi Uma yang telah berwujud Dewi Durga pun meninggalkan istana para dewa dan tinggal di Setra Gandamayu.

Entah berapa hari lamanya dirundung rasa sedih dan duka nestapa, selanjutnya beliau juga segera pergi meninggalkan Kadewatan, dan sampailah di Mayapada (dunia = alam manusia),
seraya menuju tempat yang sunyi, di tengah-tengah hutan rimba yang dalam kutipan lontar Tutur Barong Swari, di bawah pohon beringin beliau menangis tersedu-sedu.
Demikianlah dikisahkan perjalanan Dewi Durga yang juga dalam beberapa kutipan drama dan pewayangan di Bali, Dewi Durga dikisahkan seperti berikut :
  • Dalam drama ritual wayang kulit sapuh leger, bahwa dari hubungan Dewa Siwa dan Dewi Durga lahirlah seorang putra yang bernama Dewa Kala.
  • Dalam pertunjukan Barong Swari, Dewi Durga berubah wujud menjadi angker atas rasa sedih, duka dan kemurkanNya.
***