Rangda

Rangda adalah perwujudan dari ratu ayu sakti yang dapat memancarkan dan menguatkan energi spiritual bersifat negatif yang dahulu dalam Sekte Bhairawa disebutkan sebagai dewa utama yang di puja di Pura Dalem yang disimbolkan dengan Ratu Ayu yang memiliki nilai magis, sebuah kekuatan gaib secara niskala dan spiritual religius.

Dalam suatu pementasan kesenian calonarang di Bali biasanya terlihat;
  • Rangda sebagai simbol adharma dari ratu kejahatan yaitu Janda Dirah.
  • Kejahatan sebagai bentuk dari prilaku asubha karma sehingga lambang Swastika menjadi cerminan Sang Hyang Rwa Bineda sebagai simbol penyeimbangnya untuk selalu berprilaku yang baik. 
  • Namun demikian secara prinsip harus diakui bahwa emosi keagamaan juga sebagai pendorong yang sangat kuat timbulnya tingkah laku atau tindakan-tindakan yang serba relegi dan keramat baik dalam perwujudan rangda dan benda-benda lainnya ini.
Lebih lanjut tentang rangda tersebut, menurut etimologinya (ref1), kata rangda yang kita kenal di Bali berasal dari bahasa Jawa kuno yaitu dari kata randa  yang berarti janda (L. Mardi-Warsito, 1986:463).
Pada zaman dahulu dikatakan bahwa, Rangda juga merupakan sebutan janda dari golongan Tri Wangsa yaitu Wesya, Ksatria dan Brahmana. Sedangkan dari golongan sudra disebut balu. Kata balu dalam bahasa bali alusnya adalah rangda.
Perkembangan selanjutnya, kata rangda untuk orang janda semakin jarang kita dengar.
Wujud Rangda dalam konsep pemujaan di Bali sebagai stana Dewi Durga disebutkan juga dengan melihat bentuk mukanya (prerai), yaitu :
  • Nyinga, apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai singa dan sedikit menonjol ke depan (munju). Sifat dari Rangda ini adalah galak dan buas.
  • Nyeleme, apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai wajah manusia dan sedikit melebar. Bentuk Rangda seperti ini, menunjukkan sifat yang berwibawa dan angker.
  • Raksasa, apabila bentuk muka Rangda ini menyerupai wujud raksasa seperti yang umum kita lihat Rangda pada umumnya. Biasanya Rangda ini menyeramkan.
Tidak setiap benda yang berwujud menyeramkan seperti Rangda ini disebut dengan Rangda yang disakralkan. Hal ini berdasarkan ada tidaknya proses sakralisasi melaui upacara yadnya.
Proses sakralisasi itu penting, karena perwujudan rangda akan menampakkan nilai magisnya sehingga masyarakat penyungsungnya makin merasa dekat dengan rangda untuk mendapat kesucian serta kehidupan secara rohani.
Walaupun tapel dan pepayasannya sudah dipasang, namun belum dikatakan sebagai benda suci. Dia adalah benda mati, sedangkan sekarang benda mati itu akan dihidupkan melalui upacara Utpeti (disucikan).

Tradisi ngelawang Barong dan Rangda dalam konteks sakral magis, seperti penjelasan dalam salah satu komentar di forum diskusi jaringan hindu (ref2) juga merupakan sebagai persembahan penolak bala dan bermakna sama pada pentas ngelawang Galungan.
Benda-benda keramat seperti Barong dan Rangda misalnya diusung ke luar pura berkeliling dalam lingkungan banjar atau desa yg dimaknai sebagai bentuk perlindungan secara niskala kepada seluruh masyarakat. 
Kehadiran benda-benda yg disucikan itu ditunggu dan disongsong dgn serius oleh komunitasnya. Penduduk yg dapat memungut bulu-bulu Barong atau Rangda yg tercecer, dgn penuh keyakinan, menjadikannya obat mujarab atau jimat bertuah.

Masyarakat Bali yg kreatif tidak hanya ngelawang mengusung aslinya, benda-benda tiruannya pun dibuat menjadikan ngelawang sebagai tontonan.
***