Sapuh Leger

Kata Sepuh Leger berasal dari kata Sepuh dan Leger yang artinya pembersihan dari kekotoran bathin yang dalam masyarakat Bali, dimana :
  • Lakon ini ditampilkan melalui pertunjukkan wayang, 
  • yang secara keseluruhan “Wayang Sapuh Leger sebagai drama ritual yang disakralkan".
Dengan sarana pertunjukkan wayang kulit yang bertujuan untuk pembersihan atau penyucian diri seorang akibat tercemar atau kotor secara rohani sebagaimana disebutkan dalam kutipan Makna dan Tata Cara Teknis Upacara Pabayuhan Weton Sapuh Leger, sumber : MGPSSR Pusat by HINDU BALI (ref)

Drama Ritual Sapuh Leger ini dalam masyarakat Hindu mengisahkan dewa kala dalam kelahiran pada tumpek wayang.

Dalam kisahnya disebutkan bahwa,
  • Dewa kala Putra dari Dewa Siwa dan Dewi Durga yang menyamar sebagai pengembala, merasa bertanggung jawab dengan penyamarannya mengakui Dewa Kala adalah putranya. 
  • Atas pertanyaan Dewa Kala makanan apa yang bisa disantap ?, 
    • Dewa Siwa memberi Ijin kepada putranya orang yang lahir menyamai kelahiran Dewa Kala sendiri dan ternyata, putra siwa berikutnya yakni Rare Kumara lahir di Tumpek Wayang. Maka Dewa Kala pun harus menyantap Rare Kumara meskipun adik kandungnya sendiri.
Selanjutnya disebutkan Rare Kumara Dewa Welas Asih Rare Angon Dewa Pengembala dalam artikel parissweet home diceritakan, 
  • Dewa Siwa rela dimakan oleh putranya Dewa Kala, dengan syarat Bhatara Kala dapat menterjemahkan dan menerka ini serangkuman sloka yang diucapkan Dewa Siwa. 
    • Bunyi sloka tersebut : “ Om asta pada sad lungayan, Catur puto dwi puruso, Eko bhago muka enggul, Dwi crengi sapto locanam” 
    • Dewa Kala segera menterjemahkan sloka itu serta menerka maksudnya ; 
      • “Om asta pada, Dewa Siwa berkeadaan kaki delapan, yaitu kaki Dewa Siwa enam kaki Dewi Uma dua, semuanya delapan, 
      • “Sad Lungayan, tangan enam yaitu tangan Dewa Siwa empat, tangan Dewi Uma dua semua enam, 
      • “Catur puto, buah kelamin laki-laki empat, yaitu buah kelamin Dewa Siwa Dua, buah kelamin lembu dua, semuanya empat, 
      • “Dwi puruso, dua kelamin laki-laki, yaitu kelamin Dewa Siwa satu, kelamin lembu satu, semuanya dua, 
      • “Eka bhago, satu kelamin perempuan yaitu kelamin Dewi Uma, 
      • “Dwi crengi dua tanduk yaitu tanduk lembu, 
      • “Sapto locanam, tujuh mata yaitu mata Dewa Siwa dua, mata Dewi Uma dua, mata lembu dua, yaitu hanya enam mata tidak tujuh, mana lagi saya tidak tahu.  
Kemudian Dewa Siwa kembali bersabda, mataku tiga (Tri Netra) diantara keningku ada satu mata lagi, mata gaib yang dapat melihat seluruh alam ditutup dengan cudamani. 
  • Akhirnya Dewa Kala tidak dapat menerka dengan sempurna sloka itu, tambahan pula matahari condong kebarat, 
  • maka Dewa Kala tidak berhak memakan Dewa Siwa ayahandanya. 
Karena itu Dewa Kala meneruskan pengejaran kepada Dewa Rare Kumara yang telah jauh larinya masuk ke halaman rumah-rumah orang. Akhirnya, 
  • Pada malam hari bertemu dengan seorang dalang yang sedang mengadakan pertunjukan wayang, Rare Kumara masuk ke bumbung (pembuluh bambu) gender wayang (musik wayang) dan Dewa Kala memakan sesajen wayang itu. 
  • Oleh karena itu, Ki Mangku Dalang menasehati Dewa Kala agar jangan meneruskan niatnya hendak memakan Dewa Rare Kumara, karena Dewa Kala telah memakan sesajen wayang itu sebagai tebusannya. 
  • Dewa Kala tidak lagi berdaya melanjutkan pengejarannya, sehingga Dewa Rare Kumara akhirnya selamat. 
***