Kesederhanaan

Kesederhanaan adalah suatu perasaan yang mampu menerima apa adanya dan berprilaku seperti biasanya untuk mencapai kebahagiaan.

Dan hiduplah yang sederhana dan apa adanya.

Karena sejatinya bahagia itu bukan milik dia yang hebat dalam segala hal, namun "dia yang mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya“, maka dari itu disebutkan :
Sehingga dengan semakin banyak kita bersyukur, semakin banyak kebahagiaan yang akan kita dapatkan.

Seperti halnya dalam menjalankan tapa, kesederhanaan disebut dengan Saumyatvam dimana dikatakan bahwa : 
Pikiran juga hendaknya harus dilatih dengan hidup sederhana. 
Hal ini tentu sangatlah realistis, untuk meraih kesuksesan dengan mulai berpikir hidup sederhana.

Orang yang selalu menghabiskan hasil kerjanya yang seharusnya ia tabung dalam rangka menggapai kesuksesan akan menjadi mimpi belaka jika tanpa kesedarhanaan hidup. 
Karena sifat material akan selalu menggoda setiap orang dan sering membutakan mata bhatin kita.

Kesederhanaan hidup dalam tapa pikiran ini pun menuntut seseorang untuk mengatur atau memanajemen pemasukan dan pengeluaran yang didapat dari segala usaha kita dengan sebaik-baiknya.
Demikian pula halnya dalam kebenaran akan menjadi lebih sempurna dalam kesederhanaan seperti halnya dalam bertutur, kemuliaan hati, santunan, dan kesahajaan sikap;
Sebagaimana biasanya dikatakan oleh punakawan dalam cerita pewayangan.
Ibaratnya seperti pohon kelapa yang memiliki prinsip kesederhanaan ini, 
dimana tempat hidup yang dapat menyesuaikan terhadap jenis tanahnya.
Kesederhanaan pohon kelapa dalam filosofi dalam umat Hindu dikatakan :
Kelapa yang kelihatannya tidak menarik',
Namum sejatinya memberikan manfaat yang luar biasa.
Dan menapaki hidup sederhana merupakan salah satu bentuk atau jalan yang dapat digunakan oleh setiap orang agar dapat menghayati dan merindukan keberadaan Tuhan (Hyang Widhi). 
Namun pada masa-masa ini, kesederhanaan hidup dipandang sebagai bentuk kemiskinan dan kenestapaan (nista). 
Inilah yang menyebabkan banyak orang cenderung hidup bergelamor dan berlebihan.
Pandangan bagi orang demikian hanya memberikan makna pada sisi luar saja, bukan memahami dan mengambil makna terdalam dari kehidupan ini.
Hidup sesungguhnya merupakan tapa, maka dalam hidup manusia mesti mampu mengendalikan diri, di mana pengendalian ini dapat ditempuh dengan menjalani hidup sederhana. 
Dalam kesederhanaan termuat dimensi spiritual untuk hidup sabar, menerima apa adanya, dan tidak berharap pada apa yang bukan menjadi haknya. 
Inilah inti sari dari pengejawantahan ajaran Veda-Vedanta.
Dan persembahan yang sederhana bukan berarti rendah, tetapi sesederhana apa pun bentuk dan wujud bhakti itu, adalah utama bagi mereka yang memahami philosophy dan spirit hidup.
Karena pandangan mereka diubah pada pemahaman yang tertinggi akan wujud dan keberadaan Tuhan, yakni dimuati dengan perasaan bhakti yang penuh ketulusan dan kedermawanan. 
Karena mereka tahu bahwa :
Tuhan tidak melihat besar kecil dari suatu persembahan, tetapi Tuhan hanya datang dan meminta perasaan hati yang tulus dan bhakti. 
Dalam kesederhanaan setiap orang dapat melatih kesabaran, pengendalian diri, kemunafikan, kecongkakan, dan kemarahan
Namun semua sifat buruk ini akan menjadi mengecil ketika seseorang memahami akan kesederhanaan hidup ini. 
Demikian sebagai tambahan dalam rahasia dibalik hidup sederhana disebutkan :
Tampaknya terlihat begitu menderita bagi mereka yang menempuh hidup sederhana,
Namun pandangan ini tidak sepenuhnya benar, karena di dalam penderitaan ada benih-benih cinta yang menguatkan jiwa manusia untuk meraih pencerahan. 
***