Tapa

Tapa adalah pemusatan pikiran dan pengendalian diri secara lahir bathin yang berfungsi sebagai :
Tapa dijalankan juga sebagai salah satu tuntunan untuk dapat berprilaku yang baik sebagai bagian dari Dasa Paramartha yang merupakan ajaran kerohanian yang dapat dipakai sebagai salah satu syarat yadnya berpahala mulia yang dalam Kula Gotra Pasek Trunyan disebutkan,

Dengan Tapa ini, Atman akan semakin dekat dengan Brahman
  • Dekatnya hubungan Atman dengan Brahman akan membuat manusia itu selalu dapat berbuat dalam jalan Dharma
  • Tanpa Tapa, indriya itu bisa membawa diri manusia ini terseok-seok ke jurang Adharma menuju neraka.
Tapa dalam Sarasamuscaya 260 dinyatakan: ‘’Tapa kaya sang sosana.’’ Maksudnya, 
  • tapa, kuat menahan gejolak hawa nafsu. 
Sedangkan Wrehaspati Tattwa 25 menyatakan: ‘’Tapa ngarania umati indryania.’’ Maksudnya, 
  • tapa namanya mengedalikan indriyanya yang berfungsi untuk memelihara dan melatih indriya agar tetap sehat sempurna menurut alamnya serta patuh pada pengendalian pikiran dan kesadaran budhi. 
Dengan Tapa itu manusia dapat mengendalikan indriya-nya yang sehat dan tidak menyimpang dari kendali pikiran dan kesadaran budhi. 

Melalui tapa brata dan samadhi ini yang di Bali juga dikenal dengan istilah Dewa Sraya dilaksanakan agar manusia dapat mencapai kesucian dan menciptakan kesejahteraan dan perdamaian dalam hidup ini.

Tapa dalam beberapa kutipan teks lontar disebutkan,
  • Dalam Widhi Tatwa
    • tapa juga berarti pemusatan pikiran.
  • Dengan cara tapa inilah juga dalam lontar Bhagawan Garga disebutkan  
    • Hyang Widhi menciptakan alam semesta ini bagi kita semua melalui suatu usaha yang memerlukan pemusatan tenaga dan pikiran sehingga kita harus selalu ingat pada jasaNya.
Sahabat, ternyata kisah itu memiliki makna yang mendalam. Dalam perjalanan mencari berkah Hyang Widhi, kita menghadapi banyak godaan,
Banyak rintangan dan suka duka dalam pertapaan yang sebagaimana dikisahkan,
  • Pertapaan Bubuksah dan Gagaking pernah diuji oleh Dewa Siwa,  
    • Oleh karena Bubhuksah tyaga pati, 
    • maka ia berhak mendapatkan sorga yang terbaik dan tertinggi (sorga ketujuh)
  • Dalam Mahabharata pun juga dikisahkan, banyak rintangan dan suka duka yang dialami oleh Sang Arjuna dalam pertapaannya,
Alkisah Ksatria Pandawa yang bernama Sang Arjuna bertapa di puncak gunung Indrakila untuk mendapatkan berkah Sang Pencipta. 
  • Berkah tersebut diharapkan sebagai bekal yang akan digunakan mengarungi samudera kehidupan. 
  • Dalam perjalanannya mencapai puncak gunung, 
    • Sang Arjuna diserang oleh seekor babi hutan dengan perut yang sangat besar dan dengan pertarungan yang sengit 1 lawan satu, akhirnya babi hutan tersebut dapat dikalahkannya, setelah itu,
    • dilanjutkanlah perjalanannya menapak jalan terjal berliku menuju puncak gunung. Ditengah hutan yang lebat, kembali Arjuna diserang oleh ular berkepala tiga. 
        • Perkelahian diceritakan dengan sangat sengit. 
          • Ekor dipegang, kepala mematuk, 
          • kepala dipegang, ekor melilit. 
      • Akhirnya Sang Arjuna melompat ke belakang, mencabut tiga anak panah sekaligus, merapal mantra, akhirnya anak panah melesat menembus tiga kepala ular – mati.
  • Selesai dengan cerita ular, Sang Arjuna melangkah lagi menuju puncak gunung. 
    • Sang Ksatria pandawa melawati Gua Besar yang dihuni oleh raksasa berkepala empat. 
    • Penengah Pandawa ini lalu berperang sengit dengan raksasa. 
      • Digebuk kepalanya, bukannya loyo, malah tambah besar dan kuat, 
      • dipukul badannya – si raksasa tambah galak, dipanah tidak mempan. 
      • Di tengah keputus-asaan, Sang Arjuna melompat mundur, dan bersila, mengheningkan cipta, meredam emosi ketitik nol, dan 
    • Sang Raksasa, anehnya, mati sendiri.
Lalu perjalanan tibalah di puncak gunung Indrakila. Sang Arjuna mencari gua tempat dia bersemedi, 
  • mengheningkan cipta, 
  • memohon kepada Sang Kuasa, 
  • agar kehendaknya dapat dikabulkan. 
Akibat kuatnya tapa Sang Arjuna, konon swargaloka menjadi panas, 
  • Lalu Bathara Indra mengirim bidadari yang paling cantik, Dewi Supraba, untuk menggoda tapa Sang Arjuna. 
  • Godaannya tidak mempan, lalu Bathara Guru datang, memberikan berkah kepada Sang Arjuna sebuah panah sakti bernama PASOPATI.
Gagalnya godaan Dewi Supraba sebagai bukti bahwa, bagaimana Sang Arjuna mampu mengekang birahinya. 
    • Biasanya, kalau kita sudah tiba di-”puncak”, 
    • godaan birahi dapat memporak porandakan semuanya. 
  • Banyak kerajaan-kerajaan dan perusahaan besar jatuh akibat masalah yang satu ini. 
      • Sang Rahwana, raja Alengka Pura, sakti mandraguna, 
      • kalah dengan pasukan monyet, akibat tak mampu mengekang birahi, melarikan Dewi Sita, istri Sang Rama. 
    • Banyak perusahaan-perusahaan porak poranda, 
    • karena sang pendiri akhirnya lebih sibuk mengurus birahi daripada berusaha memajukan perusahaannya.
”Arjuna” berhasil meraih tujuan hidup, karena 
  • dia dapat membendung keserakahan sifat loba pada dirinya, 
  • mampu mengendalikan dengki iri-hati, 
  • teguh dalam tapa dan meredam amarah dan birahi tak lagi menguasainya.
***