Brata

Brata adalah pengendalian dan pantangan indria yang bertujuan untuk dapat :
  • Melatih kesabaran menuju kehidupan yang lebih baik; 
  • Dan menemukan hakekat sebagai manusia sejati yang terlepas dari belenggu kegelapan bathin. 
Seperti halnya dilaksanakan dalam hari raya dan upacara yadnya berikut :
  • Saat hari raya nyepi yang dilaksanakan dengan catur brata penyepian dalam amati indria.
  • Pada hari Siwaratri, umat patut melaksanakan brata untuk meningkatkan kesucian rohani dan latihan mengekang hawa nafsu agar memiliki daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di dunia ini seperti tiga brata yang dilakukan oleh Lubdaka  saat malam Siwa Ratri ini yaitu :
    • Jagra (begadang), 
    • Monobrata, dan 
    • Upawasa atau puasa sebagai kesadaran diri untuk mendekatkan diri kepada Hyang Widhi.
  • Upacara ngekeb yang dilaksanakan dalam gedong rumah.
Dalam lontar wrtti sasana, disebutkan melaksanakan brata dengan mentaati setiap tantangan sehingga tercapailah :
    • Kesempurnaan dan kesucian bathin
    • Menuju kehidupan yang lebih baik.
Pada awalnya puasa (brata) ini dalam kejernihan skala niskala, disebutkan memang merupakan suatu penyiksaan diri, bagi yang menganggapnya begitu.
  • Tapi bila semuanya dilakukan dengan kesadaran, 
  • maka tak akan ada rasa penyiksaan itu.
Sebagai manusia memang sepantasnya melakukan pengendalian indria agar tak menjadi liar dan bisa mencapai kesucian. 
  • Hidup itu seperti kereta dan kudanya yang berjumlah lima. 
  • Jadi tak satu pun kuda itu seharusnya berjalan menyimpang sehingga dapat berjalan dengan lurus. 
Untuk mencapai kesucian lahir dan batin perlu ada upaya yang harus dilakukan secara terus menerus melalui tapa atau brata. Dua laku ini merupakan cara untuk mengendalikan pikiran dan indria itu. 
  • Pikiran harus diusahakan agar berpikir baik, 
  • Kata-kata yang diucapkan baik dan benar
  • dan tak kalah pentingnya tingkah laku juga harus diperhatikan.
Luasnya pengertian brata, tak hanya pada pengendalian atau pengekangan terhadap makanan saja. 
  • Yoga merekomendasikan pemanfaatan tapa brata sebagai daya yang mengagumkan dengan tidak menyianyiakan indria. 
  • Namun, brata itu dikembangkan dan dimanfaatkan sebesar mungkin lebih tinggi, 
    • lebih halus untuk kesejahteraan sosial, 
    • penemuan-penemuan, 
    • kemajuan dunia sains 
    • dan pada akhirnya bermuara pada berkembangnya intuisi.
Potensialitas brata seseorang yang tak terbatas, meski ditempa demi kebaikan yang lebih luhur. Dan, tidak diizinkan untuk terperangkap di dalam jerat kesenangan sesaat secara memalukan dan bersifat kebinatangan.

Umat Hindu umumnya mengenal brata (puasa) hanya pada hari-hari tertentu, 
  • Padahal sejatinya tak begitu adanya. 
  • Sebab, bila ‘penahanan’ diri dilakukan untuk tujuan kemuliaan atau linuwih, pasti berbeda masalahnya.
Biasanya, pabratan itu memang harus dilakukan saat tertentu. Untuk pabratan jenis ini (saat-saat tertentu) berbagai cara dilakukan orang untuk memenuhinya agar apa yang menjadi tujuan dalam brata tersebut tercapai yang sebagaimana dalam beberapa naskah lontar dan jenisnya disebutkan :
  • Dalam lontar Aji Pabrataan disebutkan,
      • soal bau badan yang sangat ditakuti, bratanya hanya makan nasi aruan ajumput selama tujuh kliwon.
      • melakukan puasa kosongan alias tak makan apa pun selama 24 jam, setiap purnama Sasih Kasanga.
    • Mona Brata | mengistirahatkan pikiran sejenak, agar tidak selalu dipenuhi oleh berbagai aktivitas. 
Dengan menjalankan brata ini, dari sinilah disebutkan akan didapatkan ketenangan jiwa dan waktu yang cukup untuk memikirkan secara mendalam atas :
  • Apa yang telah kita perbuat; 
  • Agar nantinya menuju kehidupan yang lebih baik.
***