Selanturnyane

Jagra

Jagra adalah tradisi begadang semalam suntuk atau juga disebut dengan "Megadang".
Jagrapada, artinya bahwa saat melek, kesadaran tidak begitu tinggi. 
  • Dimana keadaan seperti ini dalam panca pada disebutkan bahwa atman dapat dilihat dan dirasakan dengan jelas. 
  • Keadaan ini juga disebut dengan visva. 
  • Dalam hal pelaksanaan brata bertujuan untuk dapat menemukan hakekat sebagai manusia sejati yang terlepas dari belenggu kegelapan bathin.
Selain hal tersebut, disela-sela padatnya aktifitas sehari-hari, masyarakat Bali juga biasanya menyempatkan diri untuk dapat bergadang dalam acara-acara tertentu seperti :
  • Pada saat malam perenungan Siwaratri yang dilaksanakan setahun sekali setiap purwani tilem ke-7 (sasih kepitu) tahun Caka, sebagai malam perenungan suci;
    • Mengingatkan kita pada kisah Lubdaka.
    • Tombak yang digunakan untuk berburu, jagra satru namanya yaitu dengan ukuran dua depa dengan hurip alengkat dua guli.
  • Malam Sastra saat Hari Raya Saraswati dilakukan dengan bergadang semalam suntuk dengan membaca kitab-kitab suci seperti weda dan mendharmatulakan (mendiskusikan) isinya.
  • Mekemit di Pura yang biasanya dilaksanakan sehari sebelum dan sesudah piodalan yang dilaksanakan sesuai dengan desa kala patra daerah bersangkutan.
  • Megebagan dilakukan oleh krama banjar dan sanak keluarga yaitu sebuah tradisi di Bali dalam hal turut berduka cita atas meninggalnya salah seorang warga di suatu banjar adat.
Dengan adanya kebiasaan dan tradisi ini yang juga dimaksudkan bertujuan untuk dapat melestarikan tradisi, adat istiadat dan budaya yang ada, agar dapat tetap mempererat dan terjalinnya tali persaudaraan atau lingkungan bersangkutan.
***