Widhi Tatwa

Widhi Tatwa | disebutkan adalah Lontar Filsafat tentang Kemahakuasaan Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Widhi adalah Esa; sumber : Upadesa tentang ajaran ajaran Agama Hindu, Parisadha Hindu Dharma pusat dikutip dari hal. 15 - 25 mengisahkan tentang percakapan antara Sang Suyasa dan Rsi Dharmakerti.

Sang Suyasa :
Memang dari tadi, empuku telah sebut sebut nama Sang Hyang Widhi. Berkenankah Guru menerangkannya siapa Sang Hyang Widhi itu ?

Rsi Dharmakerti :
Ya, anakanda, Sang Hyang Widhi ialah Ia Yang Maha Kuasa sebagai 
  • Pencipta, 
  • Pemelihara, dan 
  • Pemralina 
segala yang ada di alam semesta ini. Sang Hyang Widhi adalah Maha Esa. Sebagaimana dikatakan dalam pustaka suci Weda :

EKAM EVAM ADWITYAM BRAHMAN
Yang artinya “Hanya satu ( Ekam Eva ) tidak ada duanya ( Adwityam ) Hyang Widhi ( Brahman ) itu “.

“EKO NARAYANA NA DWITYO’STI KASCIT”
Artinya : “Hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya”. Dalam lontar Sutasoma disebut juga bahwa :

“Bhineka Tunggal Ika, tan hana Dharma Mangrwa”, yang artinya : “Berbeda beda tetapi satu, tidak ada Dharma yang dua”. Juga dikatakan :

EKAM SAT WIPRAH BAHUDA WADANTI
Artinya : “Hanya satu ( Ekam ) Sang Hyang Widhi ( Sat = hakekat ) hanya orang bijaksana ( viprah ) menyebutkan ( Wadanti ) dengan banyak nama ( Bahuda )”.

Tentu anakanda heran, mengapa sampai disebut dengan banyak nama. Itu adalah karena sifat Sang Hyang Widhi yang Maha Mulia, Maha Kuasa, Maha Pengasih, dan tiada terbatas sedangkan kekuatan manusia untuk mengambarkan Sang Hyang Widhi sangat terbatas adanya. Maha Rsi kita hanya mampu memberi sebutan dengan banyak nama menurut fungsinya. 

Dan yang paling utama ialah Tri Sakti, yaitu : Brahma, Wisnu, dan Siwa.
  • Dewa Brahma adalah sebutan Sang Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai Pencipta dalam Bahasa Sansekerta disebut “UTPATTI”.
  • Dewa Wisnu adalah sebutan Sang Hyang Widhi, dalam fungsinya sebagai Pelindung, Pemelihara dengan segala kasih sayangnya. Pelindung dalam bahasa Sansekerta disebut “STHITI”.
  • Dewa Siwa adalah sebutan Sang Hyang Widhi dalam fungsinya melebur (Pralina) dunia serta isinya dan mengembalikan dalam peredarannya ke asal. Dalam bahasa Kawi-nya diistilahkan dengan “SANGKAN PARAN” (Kembali ke asal ).
Sang Suyasa :
Maafkan Empuku, mengapa Tri Sakti ini dikatakan yang paling utama ?

Rsi Dharmakerti :
Anakanda, sudah Guru katakan bahwa
  • Brahma itu kekuatan (Sakti) Nya Sang Hyang Widhi Waktu mencipta, 
  • Wisnu Waktu memelihara, dan 
  • Siwa waktu melebur.
Jadi Tri Sakti ini, mencipta, memelihara, dan melebur alam semesta. 
  • Adakah yang lebih kuasa dari ketiga kekuatan itu? 
  • Tahukah anakanda siapa yang tidak dikuasai oleh ketiga hukum lahir, hidup dan mati ini ? 
  • Siapakah yang tidak akan mati ? 
  • Bukankah semuanya yang pernah lahir pasti pernah hidup walupun sesaat saja dan pasti pula akan mati. Jadi bukanlah amat utama kekuatan ( sakti –Nya ) Hyang Widhi yang tiga ini menguasai seluruh mahluk ? 
  • Adakah yang lebih kuasa dari ada-Nya ? 
Untuk dapat meresapkan kemahakuasaan Hyang Widhi ini agama Hindu memberikan simbul pada kekuatanNya ini dalam ucapan aksara yaitu aksara suci OM. Kata OM adalah aksara suci untuk mewujudkan Sang Hyang Widhi dengan ketiga prabawanya yaitu :
  • Brahma, Sang Hyang Widhi dalam prabawanya maha pencipta disimbulkan dengan aksara : A.
  • Wisnu, Sang Hyang Widhi dalam prabawanya maha pelindung disimbulkan dengan aksara : U.
  • Siwa, Sang Hyang Widhi dalam prabawanya maha pelebur disimbulkan dengan aksara : M.
Suara A, U, M, ini ditunggalkan menjadi AUM atau OM.

Sang Suyasa :
Gurunda, maafkan kalau hamba merasa kurang jelas. Apakah Sang Hyang Widhi itu sama dengan Dewa atau Bhatara ?

Rsi Dharmakerti :
Tidak anakku, Sang Hyang Widhi tidak sama dengan Dewa atau Bhatara. 
Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Sang Hyang Widhi yang memberi kekuatan suci guna kesempurnaan hidup mahluk. Dewa itu bukannya Sang Hyang Widhi Wasa, ia hanyalah merupakan sinarNya. Kata Dewa berasal dari Sansekerta : DIV, yang artinya Sinar 
(Kata ini pulalah yang menjadi kata Day dan Divine dalam bahasa Inggris. Menjadi kata Dag, dalam bahasa Belanda, Tag dalam bahasa Jerman, Red ).

Jadi Dewa berarti “Bersinar”. Sedangkan Bhatara yaitu prabhawa (manifestasi ) dari kekuatan Sang Hyang Widhi untuk memberi perlindungan terhadap ciptaannya. Kata Bhatara berasal dari kata Sansekerta “BHATR” yang berarti Pelindung. Antara kata Dewa dan Bhatara sering pemakaiannya diartikan sama saja. Umpanya : Dewa Wisnu disebut juga Bhatara Wisnu karena beliau melindungi mahluk. Demikian juga Raja raja besar yang sudah wafat atau leluhur leluhur kita beri gelar Bhatara juga karena beliau itu melindungi kita.

Sang Suyasa :
Tetapi Gurunda, bagaimanakah kita bisa meyakinkan Sang Hyang Widhi itu ada ?

Rsi Dharmakerti :
Anakku, agama kita mengajarkan adanya tiga cara untuk mengetahui sesuatu (Tri Pramana) yaitu dengan , Anumana Pramana, dan Agama Pramana artinya dengan cara 
  • Melihat langsung 
  • Dengan cara mengambil kesimpulan dari suatu analisa dan 
  • Dengan cara mempercayai pemberitahuan orang - orang suci yang tidak pernah bohong.
Demikian juga mengenai Sang Hyang Widhi. Hanya orang orang yang sangat suci yang mungkin mengetahui Sang Hyang Widhi dengan melihat langsung, dengan cara Pratyaksa. 

Dan sekarang Guru akan mencoba menjelaskan dengan cara Anumana Pramana yaitu secara analisa yang mudah mudah saja.

Anakku, kita percaya bahwa kita, seluruh alam ini, ada. Tentu ada yang menciptakan yaitu Sang Hyang Widhi. Dan kita percaya bahwa kita akan mati tentu ada tempat bagi Atman kita yang telah lepas dari badan. Inipun adalah Sang Hyang Widhi. 

Atau ada lagi contoh. Pernahkah anakanda melihat kumbang ? 
Kumbang itu hinggap ke suatu bunga dan dari sana ke bunga lain. Pada kakinya penuh bulu tersangkut benang benang sari bunga yang nantinya menyebabkan perkawinan antara bunga bunga itu, nah siapakah yang membuat kaki kumbang itu berbulu yang gunanya justru untuk melekatnya benang benang sari bunga itu ? Tentu Sang Hyang Widhi. Banyak lagi contoh contohnya anakku! 

Cara Agama Pramana, ialah hanya dengan cara mempercayai pustaka suci kita. 

Umpamanya :
Upanisad menyatakan bahwa Sang Hyang Widhi adalah : “Telinga dari semua telinga, pikiran dari segala pikiran, ucapan dari segala ucapan, nafas dari segala nafas, mata dari segala mata” (Kena 1, 2 ). 

Dan Bhagawadgita ( VII, 10; 11 X; 20 ) menyebukan :
"Ketahuilah Aku, oh Partha, adalah bibit abadi dari segala yang hidup. Aku adalah kecerdasan dari segala yang cerdas, dan keperwiraan dari segala yang kuat”.
Aku adalah jiwa yang bersemayam di dalam hati setiap mahluk, didalam maupun di luar dunia tetapi tidak terpengaruh oleh dunia (Wyapi Wyapaka Nirwikara), sebagai halnya teratai di dalam air tetapi tidak basah olehnya. Wyapi Wyapaka artinya selalu dimana mana ada, Nirwikara artinya tidak terpengaruhi, tak berubah.

Sang Suyasa :
Gurunda, adakah orang suci yang dapat melihat Sang Hyang Widhi ?

Rsi Dharmakerti :
Anakku, karena sifat dan kemampuan manusia yang serba terbatas sedangkan Sang Hyang Widhi adalah Maha Sempurna, dan tak terbatas kita tak mampu melihatnya. Kita tak dapat melihat Sang Hyang Widhi bukanlah berarti Sang Hyang Widhi tidak ada. Sebagai halnya bintang, di siang hari kita tidak melihat bintang, tidak berarti bintang itu tidak ada atau hanya ada pada malam saja. Karena mata kita tidak mampu menembus sianr sinar matahari, itulah sebabnya kita tidak bisa melihat bintang. Tetapi bintang itu tetap ada walaupun di siang hari.

Demikian pula karena kita tidak mampu menembus kegelapan jiwa kita, kita tidak bisa melihat Hyang Widhi tetapi Hyang Widhi itu tetap ada.
Dan barang siapa yang benar benar dapat melaksanakan kehidupan suci sesuai dengan petunjuk petunjuk agama dan menurut ajaran ajaran di dalam pustaka suci, akan dapat melihat Sang Hyang Widhi. Sebagai umpamanya bahwa kita baru akan dapat melihat bayangan bayangan kita dicermin dengan terang setelah cermin itu bersih.
Demikian juga bayangan Hyang Widhi akan terang jelas terpantul di hati dan jiwa kita sesudah hati kita bersih. Nah tadi Guru menyatakan bahwa kita mungkin akan melihat Sang Hyang Widhi itu.

Anakku, di dalam Weda disebutkan bahwa Sang Hyang Widhi 
  • tidak berbentuk (Nirupam), 
  • tidak bertangan (Nirkaram Nirpadam), 
  • tidak berpanca indra ( Nirindriyam ), 
Tetapi beliau dapat mengetahui segala yang ada pada mahluk. Lagi pula Hyang Widhi tidak pernah lahir dan tidak pernah tua, tidak pernah berkurang tidak juga bertambah. Tegasnya Sang Hyang Widhi tidak berbentuk tetapi karena kemahamuliaanNya dapat mengambil wujud sesusai dengan keadaan untuk menegakkan Dharma dan perwujudan ini dinamai Awatara.

Sang Suyasa :
Gurunda, tadi Gurunda mengatakan bahwa Brahma itu adalah prabhwa Sang Hyang Widhi pada waktu mencipta. Bagaimana Sang Hyang Widhi menciptakan, alam semesta ini ?

Rsi Dharmakerti :
Pada waktu terjadi ciptaan (Srsti), dengan kemahakuasaan-Nya (Kryasakti), dunia diciptakan secara perlahan lahan (Evolusi) dari Sang Hyang Widhi dan kembali kepada-Nya pada waktu kiamat (Pralaya) sebagai halnya laba laba yang pada waktu  Srsti mengeluarkan benang jaringnya dari badannya sendiri dan akhirnya menarik kembali ke dalam dirinya pada waktu Pralaya (Urna Nabhawat).
Jadi Sang Hyang Widhi menciptakan alam semesta ini dari diriNya sendiri. Tetapi karena kemahakuasaan-Nya diri-Nya tetap sempurna.

Dalam Upanisada dikatakan :
“Purnamdah purnamidam, purnat purnam udacyate, purnasya purnamadaya, purnam eva awacisyate”.
“Sang Hyang Widhi adalah sempurna alam semesta inipun sempurna. Dari yang sempurna lahirlah yang sempurna, walaupun dari yang sempurna (Sang Hyang Widhi) diambil oleh yang sempurna ( alam semesta ) tetapi sisanya (Sang Hyang Widhi) tetap sempurna adanya”.

Sang Suyasa :
Memang suatu kemahakuasaan, Gurunda. Tetapi hamba juga ingin mengetahui kapan dunia ini dicptakan ?

Rsi Dharmakerti :
Anakanda, baik penciptaan maupun pralayanya ( kiamatnya ) dunia adalah merupakan perputaran lingkaran sehingga tidak dapat diketahui awal dan akhirnya karena umur manusia demikian pendeknya dan ingatan kita demikian terbatas. Tetapi yang terang ialah bahwa dalam kehidupan ini setiap saat ada penciptaan ( Srsti ) setiap saat ada pralina (Pralaya) sehingga sebenarnya hidup ini dari kehidupan amuba atau sel sel sampai kehidupan yang tertinggi terus mengalami Srsti-Pralaya terus menerus. Dunia diciptakan dengan unsur unsur 

Panca Tan Matra yaitu unsur zat ether, zat cahaya, zat bawa, zat cair dan zat padat yang terdapat dalam Sang Hyang Widhi atau “Prama Anunya” akasa, teja, bayu, apah dan  pertiwi. 

Parama Anu adalah unsur unsur yang jauh lebih kecil dari atom atom. “Parama” artinya amat sangat dan “Anu” artinya atom. Tidak dapat diketahui kapan alam semesta ini diciptakan. 

Tetapi yang terang ialah bahwa Sang Hyang Widhi tidak terhenti hentinya mengadakan ciptaan sebagai tersebut dalam Bhagawadgita, III, 24 :
“Kalau saja Aku berhenti bekerja, maka dunia ini jatuh dalam kemusnahan dan Aku akan menjadi sebab dari kekacuan hidup dan menghancurkan semua mahluk”.

Sang Suyasa :
Gurunda, banyaklah sudah hal hal yang Gurunda uraikan yang patut kita ketahui dam lakukan dalam agam kita. Ada satu hal yang anakanda mohon Gurunda sudi menerangkannya yaitu bagaimana sampai terciptanya alam semesta serta isinya ini ?

Rsi Dharmakerti :
Pertanyaan anakanda ini benar benar penting untuk mengertikan bagaimana pandangan agama kita terhadap alam semesta serta manusia mahluk ciptaan Sang Hyang Widhi ini. Sebagai sudah kita ketahui bahwa Sang Hyang Widhi Wasa adalah Maha Pencipta. Hyang Widhi mencipta karena sebelumnya tidak ada apa apa. “Duk tan hana paran paran, anrawang, anruwung” (ketika tidak ada apa apa semuanya tidak menentu), demikian ucapan lontar lontar kita. Dan pustaka Upanisadha (Brihad-aranyaka dan Chandogya-Upanishada ) mengatakan pula :

Idam wa agra naiwa kincid asit, sad ewa saumya idam agra asit EKAM EWA ADWITYA”.

Sebelum dicptakan alam ini tidak ada apa apa. Sebelum alam diciptakan hanya Hyang Widhi yang ada. Maha Esa dan tidak ada duanya.

Ciptaan Hyang Widhi adalah merupakan pancaran kemahakuasaan-Nya (Wbhuti) Hyang Widhi Wasa Sendiri. Wibhuti ini terpancar melalui Tapa. 

Tapa adalah pemusatan tenaga pikiran yang terkeram hingga menimbulkan panas yang memancar. Dengan tapa inilah Hyang Widhi menciptakan alam semesta sehingga bagi kita jelaslah bahwa penciptaan alam semesta ini ialah melalui suatu usaha yang memerlukan pemusatan tenaga yaitu yang dinamai Tapa tadi. Dalam pustaka Taittriya-Upanisadha disebutkan :

“Sa tapo tasyata, so tapas taptwa,
Idam sarwa asrjata, yad idam kim ca,
Tat srstwa tad ewa anuprawicat,
Tad anuprawicaya sac ca tyao ca abhawat”.


“Hyang Widhi Wasa melakukan Tapa, setelah mengadakan Tapa, terciptalah semuanya yaitu segala apa yang ada di alam ini. Setelah menciptakan, ke dalam ciptaan-Nya itu Hyang Widhi menjadi satu”.

Demikianlah halnya sehingga dapat dikatakan bahwa Hyang Widhi bukan saja menciptakan alam semesta tetapi meresap serta menghidupkan alam semesta itu dan Hyang Widhi tetaplah sempurna adanya. Ingatlah anakanda akan ucapan dalam isi Upanisadha yang telah gurunda uraikan di atas : “Purnam adam purnam idam, purnat purnam udacyate, purnasya purnam adaya, purnam ewa awacisyate”.
Demikianlah kemahakuasaan Hyang Widhi disebutkan dalam widhi tatwa.
***