Tahukah Anda ? Yasa kerti lan bhakti... memargi antuk manah suci.

Punakawan

Dalam dunia pewayangan, dari kaca mata para punakawan, dunia perasaan dan kemanusiaan diteliti dan dilihat dalam banyak perspektif sebagaimana dijelaskan radheyasuta yaitu : 
Delem selalu jadi tertawaan di Bali sebab Delem bersikap paling tahu di tengah ketidaktahuannya. Merdah yang “tahu dirinya tahu”, percaya diri dan berpengetahuan luas cenderung tergoda memaksakan sikap dan pikirannya.
Dari Merdah orang Bali belajar bahwa sekalipun pemikiran kita yang benar, yang benar-benar lurus, kalau dipaksakan ke orang lain, cara memaksa ini yang mengundang perdebatan. Cara Merdah yg paling tahu membuat dia terpancing arogan. Dari Merdah kita diajak belajar bahwa kebenaran harus dijalankan dengan cara-cara yang benar. 
Cara-cara benar itu ada pada Tualen, yang penuh kearifan membabarkan kebenaran, tanpa paksaan, tanpa menggurui, penuh kesantunan dan kesederhanaan. Secara kontemplatif.
Kebenaran menjadi mentah dan tampak dangkal jika disampaikan dengan tutur keras dan perilaku bermusuhan. Orang Bali yg mencintai wayang akan dibuat sadar, kebenaran menjadi sempurna bukan dalam diri Merdah, tapi dalam diri Tualen: 
Kebenaran menjadi sempurna dalam kesederhanaan tutur, kemuliaan hati, santunan, dan kesahajaan sikap.
Dalam kesimpulannya, pewayangan Bali, ada 4 karakter punakawan yang bisa menjadi renungan: 1) Tualen. 2) Merdah. 3) Sangut. 4) Delem. Mereka “mewakili” sikap miliaran manusia yang dirangkum ke dalam 4 gambaran umum.
  1. Tualen, dia “tidak tahu dirinya tahu”. Dia kontemplatif, murni bersandar pada batin, sederhana dan penuh kearifan.
  2. Merdah, dia “tahu dirinya tahu”. Dia paham, berani dan penuh percaya diri.
  3. Sangut, dia “tahu dirinya tidak tahu”. Dia tidak paham, namun bersikap menerima ketidakpahamannya, mengakui kelebihan orang lain, penuh pertimbangan.
  4. Delem, dia “tidak tahu dirinya tidak tahu”. Dia tidak tahu tapi merasa tahu, dia tidak tahu tapi tidak menerima pengetahuan orang lain, angkuh dan congkak di depan orang-orang, dan dia tidak bisa mengukur diri. Percaya diri di tengah ketakpahaman. Angkuh dan pongah, merasa paling benar.
Pertentangan mereka itulah yang dieksplorasi untuk mengembangkan unsur kritik dan simbolisasi situasi sosial politik di Indonesia seperti pada cerita kartun editorial Sangut Delem.
***