Cuntaka

Cuntaka adalah suatu keadaan yang tidak suci menurut pandangan agama Hindu;
  • Masa kotor atau leteh yang populer disebut Cuntaka dan;
  • Dalam istilah bahasa Bali-nya ketika ada keluarga meninggal disebut dengan "Sebel".
Cuntaka (tidak suci) berkaitan erat dengan kebersihan dan penyucian  secara lahir bathin, 
  • Kebersihan dan kesehatan phisik secara individu dapat diusahakan dan dipelihara dengan jalan makan yang cukup sesuai dengan aturan ke­hatan, bekerja, olah raga, yoga asana, istirahat serta tidur yang cukup dan teratur. 
    • Di samping itu tentu kebersihan badan, pakaian dan sikap badan setiap bekerja harus pula tidak diabaikan. 
  • Sedangkan kebersihan dan kesehatan batin disebutkan dapat diusahakan de­ngan menggunakan sarana prayascita dan dengan jalan melaksanakan pranayama persembahyangan dan membaca serta mempelajari ajaran-ajaran agama secara terus-menerus seperti dijelaskan didalam Kitab Hukum Hindu Manawa Dharmasastra V. 109 : 

ADBHIRGATRANI SUDDHYANTI MANAH SATYENA SUDDHYATI VIDYATAPOBHYAM BHUTÃTMA BUDDHIR JNANENA SUDDHYATI
  • Tubuh dibersihkan dengan air.
  • Pikiran disucikan dengan kebenaran.
  • Jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapa brata dan 
  • Kecerdasan dengan pengetahuan yang benar.
Yang menjadi pertanyaan, Faktor apakah yang menyebabkan seseorang tidak suci (cuntaka) dan apa pula yang patut dilakukan .untuk memulihkan keadaan menjadi normal kembali? 

Menurut Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu yang disahkan Parisada Hindu Dharma (PHDI), hal-hal yang menyebabkan seseorang cuntaka (sebel) adalah: 
  1. Kematian
  2. Wanita yang sedang menstruasi / haid / datang bulan
  3. Bersalin
  4. Keguguran kandungan
  5. Perkawinan / pawiwahan
  6. Gamia-gamana (perkawinan yang dilarang Agama misalnya ayah mengawini anak gadisnya sendiri),
  7. Salah timpal (bersenggama dengan binatang),
  8. Hamil di luar nikah
  9. Mitra ngalang (berzina), 
  10. Kelahiran bayi tanpa nikah, 
  11. Sakit menahun (lepra, aids).
Sumber Hukum Hindu mengenai Cuntaka dalam kitab suci dan atau lontar yang dapat dipakai sebagai sumber antara lain :
  1. Manawa DharmaSastra | saat jaman manu / satya yuga
  2. Parasara Dharmasastra | saat jaman kali yuga dimulai
  3. Agastya, Roga Sangara, Widhi Sastra.
  4. Catur Cuntakantaka,
  5. Catur Cuntaka.
  6. Pangalantaka.
Sloka-Sloka Cuntaka Karena Kelahiran Dan Kematian Berdasarkan Kitab Parasara Dharmasastra

Parasara Dharmasastra III.1-2

ATAH SUDHIM PRAVAKSYAMI JANANE MARANE TATHA,
DINE TRAYENA SUYANTI BRAHMANAH PRETA SUTAKE.
KSATRYO DVADASA HENA VAISYAH PANCADASA HAKAH,
SUDRAH SUDEYATI MASENA PARASARA VACO YATAHA.

Sekarang Aku aka menjelaskan tentang periode atau masa ketidaksucian seseorang yang berhubungan dengan kelahiran dan kematian (dari anggota keluarganya)

Masa kotor yang disebabkan oleh kelahiran atau kematian dalam keluarga, bagi kaum brahmana selama 3 hari, bagi ksatrya 12 hari, bagi vaisya 15 hari dan bagi sudra 30 hari, seperti yang ditetapkan oleh yang suci Parasara.

Keterangan : masing-masing golongan masyarakat lama masa kotor berbeda disebabkan karena tingkat kemampuan menyunyikan diri berbeda bagi golongan yang satu dengan golongan yang lainya, misalkan 

  • seorang Brahmana jauh lebih mampu menyucikan dirinya dibandingkan dengan seorang sudra.
  • selain itu pula seorang Brahmana memliki kewajiban yang lebih penting dari pada yang lainya, siapa yang akan menyelesaikan sebuah upacara atau perayaan korban suci jika seorang brahmana atau pendeta terlalu lama cuntaka (tidak suci)? 
  • bahkan terkadang seorang brahmana tidak dipengaruhi oleh cuntaka. Demikian juga halnya dengan Ksatrya yang memiliki kewajiban yang lebih berat daripada vaisya dan sudra, sehingga lama cuntaka lebih singkat.
.................................... Komentar di Forum Diskusi Jaringan Hindu Nusantara (ref1) selengkapnya.
  • Cuntaka seperti yang dikutip dari sebuah komentar (ref2), khusus untuk kematian, yang sebel / cuntaka itu adalah keluarga yang memiliki kematian sampai mindon, orang-orang yang mengantarkan ke setra dan peralatan kematian yang digunakan dan sebel itu sesuaikan dengan dresta bersangkutan diluar ketentuan diatas jika ada agama lain menguburkan mayat melintasi pura tidak termasuk kesebelan.  
  • Dalam lontar Widhisastra disebutkan apabila pada saat piodalan ada krama yang meninggal dunia,hendaknya upacara piodalan diselesaikan dulu,setelah selesai baru kita melaksanakan upacara kematian baik dikubur maupun di lakukan upacara ngaben, agar konsentrasi umat tidak bingung dan terpecah, dalam lontar pelutuk bebanten apabila sang mati belum diperciki tirtha pangringkesan belumlah dianggap mati, sering diistilahkan dengan ditidurkan
  • Kaletehan / cuntaka yang dipancarkan sawa mendiang diblokir saat upacara ngaben yang dengan menggunakan damar kurung sebagai sarana permohonan kepada Sanghyang Agni agar cuntaka berkurang.
  • Cuntaka bagi pemangku, bila ada anggota keluarga yang serumah meninggal dunia dll
Sebagai tambahan :
***