Aja Were

Sarga

Sarga adalah istilah berkaitan dengan pengetahuan dan teori tentang ciptaan alam semesta pertama yang sangat halus yaitu berupa :
  • Unsur Panca Mahabhuta berupa zat dasar yang membentuk lapisan mahluk hidup dan bhuwana agung ini.
    • Seperti halnya berfungsi dalam penciptaan swatara sebagai mahuk awal yang ada di alam ini. 
  • Obyek-obyek indriya, bagian penggerak yang dimiliki setiap mahluk. 
  • Organ indriya dan pikiran atau manah (Akal pikiran dan perasaan) 
  • Ego (Ahamkara) sebagai alat untuk dapat merasakan berpikir dan berbuat sebagai pengembangan dari budhi yang perlu disucikan. 
  • Prinsip kecerdasan kosmik (mahat), sebagai kekuatan "cetana dan acetana" yang dalam upacara ngaben untuk dapat diuraikan dari sthula sarira badan kasarnya.
Selanjutnya terganggunya keseimbangan ini dari sifat-sifat alam tersebut disebutkan dapat berupa :
  • Guna/bhuta
  • Matendriya
  • Dhiyam janmasarga udaritah. 
Di kitab-kitab Purāṇa yang lain digambarkan sebagai “evolusi mahat, karena terganggunya keseimbangan Triguna selanjutnya mendorong yang tidak termanifestasikan, 
  • Avyakrita, yakni unsur materi yang pertama atau Prakriti), dari tiga lapis Ahamkara (keakuan dari Mahat) dan (tiga lapis Ahamkara) dari 5 unsur alam (Bhuta), (sebelas) organ indriya 
  • (Panca Budhiriya, Karmendriya dan pikiran) dan obyek-obyek indriya. 
Penciptaan ada dua jenis, yaitu: 
  1. Alaukika, penciptaan kedevataan yang merupakan penciptaan yang terdiri dari 33 devata, saat itu Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk Yajna-Varaha, mewujudkan diri-Nya sebagai seekor babi hutan untuk menyelamatkan dunia. 
    • Penggambaran penjelmaan Tuhan Yang Maha Esa sebagai seekor babi hutan (yang membunuh raksasa Hiranyaksa) tidak lain maksudnya adalah untuk selamatnya umat manusia, dan hal ini juga menggambarkan ajaran Karma Marga (jalan perbuatan).
  2. Laukika, penciptaan yang menggambarkan evolusi dari alam semesta yang terdiri dari 28 unsur, empat unsur materi/alam (bhuta) dan waktu (kala). 
    • Episode yang menguraikan ajaran Kapila (dan istrinya) dalam kitab Bhagavata Purāṇa menggambarkan jalan pengetahuan (Jnana Marga)(Tagare, Vol. Part 5, 1989: XXIV).
Di dalam kitab Bhagavata Purāṇa (XII.7.11) diuraikan sepintas tentang penciptaan ini ke dalam beberapa topik antara lain :
Evolusi Mahat (prinsip dasar dari kecerdasan kosmik), dari bergejolak dan terganggunya keseimbangan dari Triguna yang belum termanifes (Prakriti, unsur materi/bahan yang permulaan), memimpin evolusi Triguna selanjutnya (tipe-tipe Vaikarika atau Sattvika, Rajasa dan Tamasa, tergantung dari dominasi masing-masing guna), evolusi berlaut pada unsur-unsur alam (bhuta), alat indriya, dan obyeknya (seperti unsur yang kasar dan devata yang bersemayam pada masing-masing organ indriya (Loc.Cit).
Lebih jauh tentang penciptaan ini digambarkan dalam kitab Agni Purāṇa (17.1-16), sebagai berikut:
Agni bersabda:
Aku akan menjelaskan sekarang penciptaan alam semesta, yang merupakan dari krida (lila) Sang Hyang Visnu (dalam Samkhya disebut Brahma). 
Beliaulah yang menciptakan sorga dan lain-lain. Pada permulaan ciptaan dan dilengkapi dengan sifat-sifat dan tanpa sifat-sifat.
  • Brahma, yang tidak menampakan diri, sesungguhnya Yang Ada. 
    • Saat itu tidak ada langit, siang atau malam, dan lain-lain. 
    • Sang Hyang Visnu masuk ke-dalam unsur purusa dan prakerti :
      • Prakriti (unsur materi)
      • Puruṣa (unsur kesadaran) dan menggerakkannya.
  • Pada saat penciptaan yang pertama kali terpencar adalah intelek (kecerdasan budi/mahat). 
    • Kemudian terwujudlah ego (ahamkara), 
    • selanjutnya disusul pertama dari keadaan natural (Vaikarika), kilauan cahaya (taijasa) unsur-unsur alam, dan sebagainya dan kegelapan (tamasa/yang menciptakan kebodohan.
  • Kemudian meluaplah ether (akasa) yang merupakan unsur dasar suara (sabda) dari ego (ahamkara). 
    • Kemudian angin (vayu) merupakan unsur dasar sentuhan (sparsa) dan api (teja) sebagai unsur dasar warna (rupa) menjadi ada dari padanya.
    • Air (apah) sebagai unsur dasar rasa (rāsa/menjadi ada) dari padanya. Tanah (prithivi) sebagai unsur bau (gandha). 
      • Dari kegelapan lahirlah ego, indriya (menjadi ada) yang nampak berkilauan.
    • Evolusi selanjutnya yaitu terciptanya 10 kahyangan dan pikiran, sebelas indriya selanjutnya munculah Sang Hyang Svayambhu (yang ada dengan sendirinya), 
  • Kemudiaan Sang Hyang Brahma yang berkeinginan menciptakan berbagai tipe mahluk hidup
    • Sang Hyang Brahma menciptakan air yang yang berhubungan dengan narah, karena hal itu merupakan ciptaan spirit yang Tertinggi.
      • Dari pergerakkannya yang pertama dari semuanya itu, karenanya Ia disebut Narayana. Kemudian tergeletak (mengambang) telur di atas air yang warnanya keemasan.
      • Dari pada itu, Sang Hyang Brahma lahir dengan keinginannya sendiri, oleh karenanya kita mengenal sebagai yang lahir dengan sendirinya (Svayambhu). Hidup (di dalamnya) sepanjang tahun, karenanya disebut Hiranyagarbha, kemudian menjadikan telur itu dua bagian, yaitu menjadi sorga dan bumi. 
        • Di antara kedua bagian itu, Tuhan Yang Maha Esa menciptakan langit.
    • Sepuluh penjuru menyangga bumi yang mengambang di atas air. Kemudian Sang Hyang Prajapati (Brahma yang merupakan pencipta mahluk hidup dan alam semesta) berkeinginan mencipta, menciptakan waktu, pikiran, perkataan, keinginan, kemarahan, keterikatan dan yang lain-lain. 
      • Dari cahaya Ia menciptakan petir dan mendung, bianglala, dan burung-burung. Ia pertama menciptakan Parjanya (Indra, dewa hujan). 
      • Kemudian menciptakan Ṛgveda (Rcah), Yajurveda (Yajumsi), dan Samaveda (Samani) untuk menyelesaikan Yajña-Nya (11-13).
    • Mereka yang ingin menyelesaikan (Yajña), memuja para devata dengan (merapalkan) mantra-mantra tersebut. 
      • Mahluk hidup yang tinggi dan rendah diciptakan-Nya. 
      • Ia menciptakan Sanatkumara dan Rudra, yang lahir dari kemarahan-Nya.
  • Kemudian Ia menciptakan para Maha Sapta Rsi seperti : Marici, Atri, Angirasa, Pulastya, Pulaha, Kratu, Vasistha, yang diyakini sebagai putra-putra yang lahir dari pikiran Sang Hyang Brahma.
    • Oh, Yang Mulia! Para Ṛṣi tersebut melahirkan (banyak) mahluk hidup, membagi diri-Nya atas dua bagian, 
      • separo menjadi laki-laki 
      • dan saparoh lagi menjadi perempuan. 
    • Selanjutnya Brahma melahirkan anak-anak-Nya melalui separoh bagiannya yakni bagian yang perempuan (16/Gangadharan, Vol.27, Part I, 1984: 39-41).
  • Pada bagian lain, kitab Agni Purāṇa (20.9.1-8) menjelaskan lebih terperinci proses penciptaan alam semesta ini.
Penciptaan yang selalu berlangsung (tiada hentinya) yang disebut nitya dan abadi ini diuraikan pula secara sistematis dan terinci dijelaskan dalam kitab Brahmanda Purāṇa seperti halnya :
  • Mahat (ciptaan kesadaran yang tinggi)
  • Mukhyasarga (ciptaan yang tidak bergerak seperti sarwa prani di alam ini)
  • Tiryaksrota (ciptaan mahluk rendahan (bhuta kala) dan beburon/binatang)
  • Urdhvasrota (ciptaan berupa dewa-dewa dan mahluk-mahluk sorga)
  • Arvaksrota (ciptaan umat manusia)
  • Anugrahasarga (baik Sattvika maupun Tamasika)
  • dll
***