Tahukah Anda ? *) Pencarian data

Orang Tua

Orang tua adalah rerama dalam bahasa Balinya;
Sebagai guru rupaka yang menjadikan kita sebagai manusia yang patut kita hormati;
Dan apapun yang mereka katakan seperti halnya omelan dll sejatinya adalah sebuah nasehat orang tua demi kebaikan anak-anaknya.
Karena itu disebutkan berbhakti kepada orang tua juga merupakan kewajiban sang anak pada ayah dan ibunya karena dalam Catur Wida dikatakan bahwa : 
"Sang Nitya Maweh Bhinojana", ayah dan ibu selalu mengusahakan memberi makan kepada anak-anaknya.
Bahkan tidak jarang dalam keadaan kesulitan ekonomi, ayah dan ibu rela berkorban tidak makan, namun mendahulukan anak-anaknya mendapat makanan yang layak. 
  • Ibu memberi air susu kepada anaknya, cairan yang keluar dari tubuhnya sendiri.
  • Bapaknya yang tekun bekerja; 
    • Seperti halnya diceritakan ketekunan orang tua yang selalu menemani anaknya yang sedang belajar membuat PR.
Walaupun demikian besar jasa dari orang tua itu,
Namun ia tak pernah menuntut balas jasa dari anaknya.
Tetapi kita sebagai seorang anak dalam pendidikan agama Hindu dan budi pekerti disebutkan yang berbudi luhur hendaknya harus mengakui pernyataan yang dimuat dalam Sarasamuccaya sloka 242 yang menyatakan sebagai berikut: 
Tiga hutang yang dimiliki oleh seorang anak terhadap orang tuanya yang patut dibayar untuk memenuhi darma baktinya terhadap orang tua sebagai guru rupaka yaitu: 
    1. Sarīra kṛta, yaitu hutang badan (sarira data) 
    2. Annadatta, yaitu hutang budhi karena orang tualah yang memberikan makan, minum, pakaian, pendidikan, dan lain sebagainya. 
    3. Praṇadatta, yaitu hutang jiwa dalam arti pemeliharaan atau kelanjutan hidup. 
Dengan memperhatikan hutang tersebut di atas, maka seorang anak berusaha melakukan “Swadharmanya” dengan rela hati melayani segala keperluan orang tuanya. 
Selanjutnya seorang anak berkewajiban memberikan atau mengorbankan harta benda, tenaga dan pikirannya untuk kebahagiaan orang tuanya. 
Malahan lebih dari itu seorang anak ihklas mengorbankan jiwa dan raganya demi untuk berbakti pada orang tua.
Di samping itu masih ada suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang anak terhadap leluhurnya  yaitu melaksanakan upacara Pitra Yadnya.
Dan orang tua itu juga tidak hanya meme bapa (atau ibu bapak) yang melahirkan kita akan tetapi juga yang menghidupi dan yang memberi pendidikan, matua dll juga kita sebut orang tua sehingga hendaknya disebutkan;
  • Kita wajib mohon restu darinya tidak peduli apa keyakinannya, 
  • Jadi kewajiban kita mohon restu dengan menghormatinya meski tidak harus menuruti karena keyakinan kita beda.
Sebagaimana disebutkan dalam kutipan komentar "jika orang tua beda keyakinan dengan kita" dalam forum diskusi jaringan hindu nusantara, maka tetap doakanlah mereka (bapak dan ibu) sebagaimana kita biasa berdoa kepada Tuhan, bilamanakah keyakinannya berbeda, 
  • Bukankah Tuhan itu hanya satu esa
Bilakah ternyata mereka 'tidak menerima' doa kita, misalkan kita berbeda keyakinannya, 
  • yakinlah pada Tuhan bahwa kita telah melaksanakan kewajiban kita terhadap orang tua,,, yaitu mendoakan mereka karena tanpa disadaripun doa / mantra kita akan sampai pada mereka (bapak dan ibu).
Sebagai tambahan, disebutkan pula bahwa :
  • Bagi orang tua, pelaksanaan upacara Menek Kelih yang sarat akan nilai - nilai pendidikan dengan wejangan - wejangan si orang tua kepada si anak untuk memiliki masa depan yang lebih baik, dalam lontar agastya parwa disebutkan dapat membuat peluang bagi keluarganya untuk masuk sorga yaitu alam swah loka.
  • Pengembangan budi pekerti yang luhur sebagai bentuk perilaku (subha karma) yang mengacu kepada konsep sastra suci dan implementasi ajaran Tri Rna, baik kepada setiap orang, Tuhan, orang tua dan leluhur, Guru, orang suci dll.
  • Kisah masa tua yang seringkali diganggu oleh cucu.
  • Kewajiban suci kita kepada para leluhur termasuk kepada orang tua kita, sehubungan dengan kelahiran kita serta perhatiannya semasa hidup kita diwujudkan dalam bentuk upacara pitra yadnya.
  • Dan suatu saat telah dilakukan upacara ngaben pada beliau, jiwa atau atma orang tua kita, disebutkan masih tetap berada pada rong 3 di sanggah kemulan sebagai Dewa Hyang setelah mencapai alam swah loka untuk kembali dapat menuntun keturunannya.
***