Guru Rupaka

Guru Rupaka adalah orang tua kita, yang menjadikan kita sebagai manusia dan begitupun kalau kita menjadi Guru Rupaka,
  • Kita sejatinya sebagai guru bagi anak-anak kita.
  • Orang yang patut digugu dan ditiru,
  • Menjadi panutan bagi anak-anaknya.
  • Menjadi role model dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap perbuatan yang dilakukan dihadapan anak-anaknya akan menjadi contoh bagi mereka. Demikian disebutkan guru rupaka yang merupakan bagian dari catur guru,
  • orang tua yang juga sebagai guru memiliki kewajiban upadhyaya  
    • untuk dapat memberikan pengetahuan duniawi pada putra-putrinya. 
Dalam kutipan artikel belajar menulis, sebagai catur guru disebutkan orang tua kita di rumah yaitu ayah dan ibu yang sangat berjasa karena telah merawat kita dari kecil hingga dewasa. 

Jasa itulah yang menyebabkan kita mempunyai tiga hutang (Pitra Rna; Tri Rna, hutang kepada para leluhur termasuk orang tua, sehubungan dengan kelahiran kita serta perhatiannya semasa hidup) sebagai :
  • hutang badan, 
  • hutang jasa, dan 
  • hutang hidup.
Dengan hutang sebagai pengikat, maka kewajiban anaklah disebutkan pada saat hari - hari tertentu atau saat hari raya dapat memunjung sebagai sarana bhakti kepada guru rupaka agar tetap terjalinnya tali persaudaraan antara anak, saudara, keluarga dan orang tua sebagai guru rupaka.

Di Bali, juga disebutkan sapaan panggilan untuk orang yang lebih tua terdapat 11 tingkatan generasi di atas kita pada suatu masa yang dalam bahasa Bali dipanggil seperti :
  1. Orang tua, ibu bapak > Bapa/Nanang-Meme, Aji-Ibu/Biang
  2. Kakek nenek > Kiang-Dadong, Pekak-Nini
  3. Kumpi
  4. Buyut
  5. Kelab
  6. Kelambiung
  7. Krepek
  8. Canggah
  9. Bungkar
  10. Wareng
  11. Kelewaran

***