Sarasamuscaya

Sarasamuscaya adalah sebuah kitab suci maha karya dari Rsi Wararuci yang ditulis dengan Jawa Kuno dan bahasa sansekerta yang sebagaimana disebutkan dalam Stiti Dharma Online, Sarasamuscaya yang merupakan pedoman umat Hindu Dharma disebutkan bahwa,
  • Sarasamuscaya sebagai kitab suci sebagai tuntunan bagi mereka yang sudah melewati Grehasta Asrama, atau 
    • tepatnya sudah meningkat ke Wanaprasta Asrama, 
    • apalagi sudah menjadi Sanyasin/ Bhiksuka untuk dapat digunakan memberikan bimbingan pada anak didikannya.
Sebagai tujuan hidup selain catur purusha artha, dalam salah satu sloka Sarasamuscaya dijelaskan kutipan Sloka 1- 11 Sarasamuscaya (Tujuan Hidup Manusia) disebutkan pula bahwa, manusia hendaknya mulai dari detik ini juga mengusahakan dengan tidak pernah jemu untuk memahami hakekat Kebajikan/kebenaran, Kekayaan (artha), Kesenangan, dan Kebebasan.
  • Manusia merupakan "Sang Raja" bagi dirinya sendiri, 
    • ia adalah pemimpin dari tubuhnya, 
    • ia adalah penguasa dari pikirannya; 
    • maka dari itu, berusahalah untuk memahami hakekat penjelmaan ini.
"Hakekat reinkarnasi dalam penjelmaan sebagai manusia yang ditegaskan dalam kitab ini untuk dapat meningkatkan/menyempurnakan diri dari perbuatan buruk (asuba karma) menjadi perbuatan baik (subha karma)" sebagaimana yang disebutkan kitab sarasamuscaya ini dalam kutipan Parisada Hindu Dharma Indonesia dalam artikel Tri Kaya Parisudha.

Sloka - sloka lainnya juga dijelaskan bahwa :
  • Sarasamuscaya Sloka 35-40 berkaitan dengan kebenaran agama, namun disebutkan dalam DongengBudaya yaitu :
    • Agama yang bingung membenarkan yang tidak benar. 
    • Kebenaran kelompok dianggapnya kebenaran untuk semua, hingga akhirnya menyalahkan yang sesungguhnya benar (kebenaran hakiki yang dapat diterima diberbagai kalangan).
  • Dalam pemberian dana punya (dana punia),  
  • Yang harus diingat dan diperhatikan oleh para dermawan, ialah jangan sekali-kali mengharapkan pujian dalam memberikan dana punia, jangan berdasarkan rasa takut, jangan mengharap mendapat balasan (Sarasamuscaya : 188).
  • Biarpun sedikit pemberian itu, asalkan dapat mengurangi kehausan akan barang itu, besarlah faedahnya. 
    • Meskipun banyak dan dapat menghilangkan kehausan akan barang itu, akan tetapi kalau diperoleh dengan jalan yang kurang halal, maka tidak ada gunanyalah pemberian itu. 
    • Jadi bukanlah jumlah yang banyak atau sedikitnya pahala, akan tetapi tujuan utama pemberian itu yang penting dan juga halal atau haramnya cara memproleh (Sarasamuscaya : 184)
  • Adapun yang harus diberikan Dana Punya, mereka yang berkelakuan baik, orang miskin, orang yang tak dapat mencari makan, orang yang betul-betul memerlukan bantuan. Pemberian Dana Punya pada orang yang demikian, akan besarlah pahalanya (Sarasamuscaya : 187).
  • Sloka 188; Deyaning aweha dàna, haywa maprayojana. pàlëman, haywa dening wëdi, haywa maphala pratyupakàra, haywa ring bhandagina, mangkana deya sang dhàrmika, maweha mata sira, ndàtan dana ngaranika, weweh dëmakan pratyupakara ngaranika.
    ’Hendaknya orang memberikan sedekah, jangan disertai tujuan akan pujian, jangan karena rasa takut, jangan mengharapkan balasan, jangan bersandiwara; demikianlah caranya sang dharmika, jika memberi sedekah; akan tetapi bukan sedekah namanya, jika diberikan dengan mengharapkan balasan’
  • Dalam memaknai caru, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Sarasamuscaya 135 disebutkan, bahwa untuk menjamin terwujudnya tujuan hidup mendapatkan Dharma, Artha, Kama dan Moksha sebagai bagian dari catur purusha artha, 
    • terlebih dahulu manusia harus melakukan Butha Hita untuk mensejahterakan alam lingkungan. 
    • untuk melakukan Butha Hita kepada para butha itu dengan cara melakukan Butha Yadnya untuk dapat menjaga keharmonisan alam agar alam itu tetap sejahtera. 
    • alam yang sejahtera itu artinya alam yang cantik…Dari hal tersebut dapat dijelaskan pula Tri hita karana manusia yang selalu harus ingat kepada lingkungan (Palemahan)…
    • Dalam Sarasamuscaya 135 disebutkan untuk menegakkan tujuan hidup tersebut seperti yang diharapkan 
      • Hendaknya manusia terlebih dahulu disebutkan dapat melakukan bhuta hita dengan cakupan tangan sejenank untuk menyembah bhuta sebagai lambang kasih sayang kita kepada alam ini.
  • Sloka 227-257 Sarasamuscaya (etika anak terhadap orang tua)mereka yang baru makan setelah mendapat ijin dari ayah dan ibunya akan hidup dalam kesejahteraan di alam fana dan akherat dan hendaknya jika masih menginginkan surga, alam swah loka ....
      • makanlah makanan yang menyehatkan, 
      • pakailah pakaian dan perhiasan yang pantas, 
      • jangan berfoya-foya, 
      • jangan mabuk-mabukkan, 
      • jangan malas dan 
      • jangan terlalu banyak tidur, 
  • Sloka 399 - 404, Prajnakesadaran dan pengetahuan akan kebenaran sejati dan tiadanya prajna :
    • tiadanya kecerdasan akal budi atau tiadanya kesadaran akan kebenaran sejati,
    • tiadanya pengetahuan tentang hakikat dari sesuatu yang menyebabkan kesengsaraan 
  • Sarasamuccaya Sloka 400 – 410  | prajnayā yā nirmitairdhirāstārayantyabudhān plavaih,
    nābudhāstārayantyanyānātmāna§ vā kadācanaKebodohan itulah yang harus anda lenyapkan dengan kaprajnan.
  • Sloka 81, disenutkan bahwa “Pikiran / idep itu sangatlah labil dan berubah-ubah, apabila seseorang dapat mengendalikan pikirannya, niscaya ia akan memperoleh surga di dunia dan surga di akhirat
  • dll
Demikianlah disebutkan beberapa hal tentang kitab sarasamuscaya ini yang terdiri dari 511 sloka sebagaimana disebutkan dalam hukum hindu, Sarasamuscaya merupakan bagian dari Weda, termasuk dalam kelompok Weda Smerti yang merupakan kitab suci otoritas kedua yang boleh diinterpretasi ulang bila ternyata nilai-nilai yang disampaikan ada yang merasa diperlakukan tidak adil.
***