Aja Were

Sarīra Kṛta

Sarīra Kṛta artinya hutang badan (sarira data) yang dimiliki oleh seorang anak terhadap orang tuanya yang patut dibayar untuk memenuhi dharma baktinya terhadap orang tua.

 Dalam Hindu Dharma, kita mengenal yang namanya Tri Rna salah satunya hutang kepada orang tua. 

Hutang pada saat masih hidup apalagi pada saat sudah tidak berdaya kewajiban untuk menjaga dan memelihara demikian juga pada saat sudah meninggal berkewajiban membuatkan upacara pengabenan, memukur sampai ngunggahang di kemulan
Betapa besarnya derita, sakitnya kasih sayangnya orang tua terhadap anak mulai dalam kandungan, lahir menjadi anak, remaja,dst.

Dan kasih sayang orang tua disebutkan sepanjang masa yang tak bisa di beli dengan uang.
Dimana keberasilan orang tua yang paling besar adalah bisa membesar anaknya menjadi manusia yang baik suputra. 
Dan keberasilan anak yang paling besar adalah bisa membagakan dan menghargai serta (mengormati) orang tuanya.

Semoga dengan kisah ini menginspirasi kita semua untuk selalu berbakti kepada orang tua.

Diceritakan seorang anak yang kaya lagi sukses menjenguk ibunya yang terbaring di rumah sakit bergelut dengan penyakit yang nyaris merenggut nyawanya.
Astungkara sang ibu telah diijinkan pulang oleh dokter.

Dengan segera, si anak menjemput dan mengantar ibunya kembali ke rumah. Ketika di rumah, si anak mengeluarkan lembaran lembaran kertas untuk diberikan kepada ibunya. Isinya adalah tagihan selama perawatan di rumah sakit yang begitu besar seperti :
1. Obat.
2. Kamar rumah sakit.
3. Uang lelah menjenguk.
4. Uang jaga malam di rumah sakit.
5. Uang untuk merawat ibu selama sebulan.
6. Kerugian karena harus meninggalkan meeting.
4. Bensin untuk perjalanan.
5. Lain lain.
Dan tak lupa, dipojok kiri bawah tertulis "Bisa dilunasi kontan atau dicicil" 

Sang ibu tersenyum kepada anak kesayangannya tersebut. 
Beliau masuk ke kamar menulis di secarik kertas sambil meneteskan air mata..berapa saat selesai..lalu mengambil sebuah map dan memasukkan tulisannya tadi, kemudian menyerahkan kepada anaknya.
Si anak menerima dan meninggalkan rumah ibunya tanpa melihat isi map. 

Beberapa jam setelah itu, seorang kerabatnya mengabarkan kalau penyakit ibunya kambuh lagi. Si anak terdiam tidak perduli dan mengutamakan jadwal kerjanya dikantor.

Kemudian, dia teringat untuk membuka dan mengetahui isi dari sebuah map yang diberikan oleh ibunya. 
Ternyata berisi sertifikat rumah, tanah, dan lain lain milik ibunya.
Dan belum sempat selesai dia membaca, kerabatnya memberitahukan bahwa sang ibu telah meninggal dunia.

Si anak masih terdiam dan dia melihat secarik kertas kecil yang jatuh diantara beberapa surat yang digenggamnya...

Sebuah surat terakhir dari ibunya yang berisi...
" Terimakasih atas semua yang telah kamu berikan pada ibu, anakku sayang. Kamu punya rincian, ibupun akan demikian. 
Namun ibu merasa kurang bisa mengisi berapa harga yang pas untuk rincian ini.
  • Untuk pembelian nutrisi selama kamu di dalam kandungan: "gratis"
  • Untuk sembilan bulan ibu mengandungmu: "gratis"
  • Untuk biaya bersalin ditambah biaya kesakitan melahirkanmu : "gratis"
  • Untuk setiap malam ibu menemani kamu: "gratis"
  • Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu : "Gratis"
  • Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendo'akanmu: "gratis"
  • Untuk setiap tetes air susu ibu: "gratis"
  • Untuk biaya sekolah, makan, tempat tinggal untukmu: "gratis"
  • Untuk biaya mendidikmu hingga kamu dewasa dan sukses : "gratis"
  • Untuk Mengasihimu selama 30 tahun: "gratis"
Anakku… dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, akan kamu dapati bahwa harga kasih sayang seorang ibu adalah "GRATIS...!!"​
​Ibu cuma bercanda anakku...Ibu serahkan semua ini sebagai warisan untukmu, sebagai pengganti biaya pengobatan ibu.​
Maaf ibu tidak bisa memberimu lebih banyak. Maafkan ibu."

Tangis penyesalan pun akhirnya memenuhi ruangan itu...

Demikianlah diceritakan dalam Hindu, harga kasih sayang seorang ibu di fb
Berapa pun besarnya penghasilan kita tidak akan pernah cukup untuk melunasi hutang kita kepada orang tua, untuk itu dikatakan mari hormati orang tua/mertua kita, selama beliau masih hidup, karena beliau adalah perwujudan dari Sanghyang Aji Akasa (bapak) dan Sanghyang Ibu Pertiwi (ibu).
***