Tahukah Anda ?

Bujangga Waisnawa

Bujangga Waisnawa adalah salah satu sadhaka yang bertugas untuk mensucikan Sarwaprani Bhur loka  dengan Agnisinararasa dalam upacara pecaruan tawur kesanga dll.
Sebagai perwujudan Sang Tri Bhuwana Katon dalam lontar ekapratama dijelaskan bahwa Bujangga Waisnawa merupakan salah satu Tri Sadhaka untuk dapat memimpin umat manusia memelihara kelestarian tiga lapisan Tri Loka ini.
Dalam artikel HinduWaisnawa, disebutkan Sekte Waisnawa dan sejarah perkembangannya dari kitab suci Weda, masa Sutra dan Brahmana, Upanisad, Itihasa, Purana, Wedanta, sampai perkembangannya di Indonesia termasuk Bali.

Ada juga penjelasan tentang Babad Warga Bhujangga Waisnawa, 
analisa tentang moksa, pura yang erat kaitannya dengan kedatangan Maha Rsi Markandheya dan Rsi Waisnawa, serta keberadaan warga Bhujangga Waisnawa di Bali.
Dalam jaman kerajaan Bali dalam asal usul sejarah orang dan Hindu Bali yang diceritakan oleh hendra.ws terutama zaman Dinasti Warmadewa. Warga Bhujangga Waisnsava selalu menjadi purohito (pendeta utama kerajaan) yang mendampingi raja, antara lain :
  • Mpu Gawaksa yang dinobatkan oleh sang ratu Sri Adnyadewi tahun 1016 M, sebagai pengganti Mpu Kuturan. 
    • Ratu Sri Adnyadewi pula yang memberikan wewenang kepada sang guru dari Warga Bhujangga Waisnava untuk melaksanakan upacara Waliksumpah ke atas, karena beliau mampu membersihkan segala noda di bumi ini, bahkan sang ratu mengeluarkan bhisama kepada seluruh rakyatnya yang berbunyi : 
      • “Kalau ada rsi atau wiku yang meminta-minta, peminta tersebut sama dengan pertapa, jika tidak ada orang yang memberikan derma kepada petapa itu, bunuhlah dia dan seluruh miliknya harus diserahkan kepada pasraman
    • Dan apa bila terjadi kekeruhan di kerajaan dan di dunia, harus mengadakan upacara Tawur, Waliksumpah, Prayascita (menyucikan orang-orang yang berdosa), Nujum, orang-orang yang mengamalkan ilmu hitam haruslah sang guru Bhujangga Waisnava yang menyucikannya, sebab sang guru Bhujangga Waisnava seperti angin, 
      • bagaikan Bima dan Hanoman, itu sebabnya juga sang guru Bhujangga Waisnava berkewajiban menyucikan desa, termasuk hutan, lapangan, jurang. 
    • Oleh karena sang guru Bhujangga Waisnava sebaik Bhatara Guru, boleh menggunakan segala-galanya dan dapat melenyapkan hukuman”.
  • Kemudian pada masa pemerintahan Sri Raghajaya tahun 1077 M yang diangkat menjadi purohito kerajaan yaitu :
    • Mpu Andonamenang dari keluarga Bhujangga Vaisnava. 
    • Mpu Atuk di masa pemerintahan raja Sri Sakala Indukirana tahun 1098 M, 
    • Mpu Ceken pada masa pemerintahan raja Sri Suradipha tahun 1115–1119 M, 
    • Mpu Jagathita pada masa pemerintahan Sri Jayapangus tahun 1148 M. 
  • Untuk raja-raja selanjutnya selalu ada seorang purohito raja yang diambil dari keluarga Bhujangga Waisnava dan seterusnya hingga masa pemerintahan Sri Dalem Waturenggong di Bali. 
    • Saat itu yang menjadi purohito yaitu dari griya Takmung dimana beliau melakukan kesalahan selaku acharya kerajaan yang telah mengawini Dewi Ayu Laksmi yang tidak lain yaitu putri Dalem sendiri selaku sisyanya. 
    • Atas kesalahannya ini sang guru Bhujangga akan dihukum mati, tapi beliau segera menghilang dan kemudian menetap di daerah Buruan dan Jatiluwih, Tabanan.
Semenjak kejadian tersebut, dalem tidak lagi memakai purohito dari Bhujangga Waisnava. Sejak itu dan setelah kedatangan Danghyang Nirartha di Bali, posisi purohito di ambil alih oleh Brahmana Siwa dan Budha. 
Bahkan setelah strukturisasi masyarakat Bali ke dalam sistem wangsa oleh Danghyang Nirartha atas persetujuan Dalem, keluarga Bhujanggga Waisnava tidak dimasukkan lagi sebagai warga brahmana
Namun peninggalan kebesaran Bhujangga Waisnava dalam perannya sebagai pembimbing awal masyarakat Bali, terutama dari kalangan Bali Mula dan Bali Aga masih terlihat sampai sekarang. 
  • Pada tiap-tiap pura dari masyarakat Bali Aga, selalu ada sebuah pelinggih sebagai sthana Bhatara Sakti Bhujangga. 
  • Alat-alat pemujaan selalu siap pada pelinggih itu. 
    • Orang-orang Bali Aga/Mula cukup nuhur tirtha, tirtha apa saja, terutama tirta pengentas melalui pelinggih ini. 
    • Sampai sekarang para warga ini tidak pernah mempergunakan atau nuhur Pedanda Siva. 
    • Selain itu, 
      • para warga ini tidak pernah mempersembahkan sesajen dari daging ketika diadakan pujawali 
      • dan biasanya mereka menggunakan daun kelasih sebagai salah satu sarana persembahan selain bunga, air, api dan buah.
Warga Bhujangga Waisnava sebagai keturunan Maharsi Markandeya sekarang sudah tersebar di seluruh Bali, pura pedharmannya ada di sebelah timur penataran agung Besakih di sebelah tenggara pedharman Dalem. 
Demikian juga pura-pura kawitan mereka tersebar di seluruh Bali, seperti di Takmung, kabupaten Klungkung, Batubulan, kabupaten Gianyar, Jatiluwih di kabupaten Tabanan dan di beberapa tempat lain di Bali.
Demikianlah Maharsi Markandeya, leluhur Warga Bhujangga Waisnava penyebar agama Hindu pertama di Bali dan warganya hingga saat ini ada yang melaksanakan dharma kawikon dengan gelar Rsi Bhujangga Waisnava. 
Sedangkan orang-orang Aga beserta keturunakannya telah membaur dengan orang-orang Bali Mula atau penduduk asli Bali keturunan Bangsa Austronesia, dan mereka dikenal dengan nama orang-orang Bali Aga.
***