Makanan

Makanan dilambangkan sebagai anugerah Tuhan sehingga disebut Sang Hyang Amerta.
Karena ia sebagai anugerah Tuhan janganlah makanan yang dianugerahkan itu disia-siakan yang dalam kearifan lokal Bali disebut dengan istilah macarikan sebagai perbuatan dosa.
Sebagai sumber energi, makanan yang dimakan akan dapat mempengaruhi jiwa.
Makan dan minumlah makanan yg sukla / tidak tercemar, alat alat yg digunakan untuk memasak dan juga menghidangkan dan juga kondisi lingkungan tempat makan kita. 
Ajaran Agama Hindu sangat menekankan akan pentingnya kesucian dan menghindari hal-hal yg cemar / leteh, karena menjaga sifat dewata dalam diri harus dilakukan secara sekala dan niskala.

Dan makanan yang di Bali juga disebut :
  • "Bhoga", seperti yang sering tersurat dalam lontar-lontar di Bali yang berkaitan dengan kisah Ananthaboga sebagai perlambang dari sumber makanan yang tak habis-habisnya.
  • "Ajengan", dalam tradisi nyaagang dilengkapi dengan woh-wohan atau buah-buahan.
  • "Rayunan", dibuat berupa gebogan sebagai persembahan yadnya untuk bersyukur serta memohon prana/prani sehingga setelah mendapat anugrah kembali kita nikmati, itulah perkembangan jaman.
  • atau dalam bahasa sehari-hari makanan juga disebut "Dedaaran".
  • Dinamakan "Lungsuran", setelah dipersembahkan kepada Tuhan.
  • Makanan Satwik yang bila dimakan memberikan energi ketenangan.
  • Dalam Warung Jernat Online disebutkan diantaranya :
    • Tum, yang dibungkus daun pisang.
    • Celengis, Inget Hidup di desa Ngajeng Nasi sela.
    • Urab, Lawar adalah salah satu makanan khas tradisional Bali.
  • Makanan Cuntaka yang wajib dihindari.
Dimana sari-sari makanan tersebut sebagai pembentuk dari lapisan sthula sarira manusia haruslah juga bersih, sehat dan suci maka dari itu perlu diperhatikan dalam membuat makanan, dipastikan prosesnya juga sangat bersih (sukla).
  • Dari pengelolaan bahan makanan di dapur hingga di hidangkan. 
  • Karena dari keluarga, orang Bali dididik untuk menghargai kesucian. 
Dalam salah satu sloka Sarasamuscaya sebagai etika anak terhadap orang tua disebutkan mereka yang baru makan setelah mendapat ijin dari ayah dan ibunya akan hidup dalam kesejahteraan di alam fana dan akherat. 
Dan hendaknya jika masih menginginkan surga, alam swah loka dijelaskan pula bahwa :
Makanlah makanan yang menyehatkan,
Jangan berfoya-foya,
Dan jangan mabuk-mabukkan,
Makanan yang juga merupakan sumber kehidupan dan oleh karena adanya makanan tersebut, maka semua makhluk di jagat raya ini dapat melangsungkan hidupnya. 
Dengan demikian, persembahan makanan dalam bentuk yadnya sesa walaupun wujudnya sangat sederhana dan nampaknya kecil, namun hakikat yadnya sesa itu sangatlah mulia dan luhur, yang mengandung makna spiritual untuk menenteramkan kehidupan makhluk yang lainnya. 
Makanan yang dinikmati manusia tersebut dengan yadnya sesa dalam cinta Bali disebutkan bukan saja semata-mata merupakan hasil usahanya sendiri saja; 
Tetapi manusia juga memperolehnya secara bersama-sama antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lainnya. 
Serta diperlukan pula bantuan dari unsur kekuatan alam yang disebut dengan "Panca Maha Butha" yakni adanya kekuatan tanah/pertiwi, air/apah, panas/api/teja, angin/bayu, ether/akasa. 
Adanya nasi atau makanan ini juga berkat kekuatan atau kemahakuasaan Hyang Widhi melalui maifestasinya yang disebut dengan Tri Murti yakni tiga macam kekuatan Tuhan dalam melindungi dan menganugerahi umatnya. 
  • Di dapur, beras dapat dimasak atau dimatangkan menjadi nasi berkat adanya tiga kekuatan tadi yakni Dewa Brahma dengan kekuatan panasnya, 
  • Dewa Wisnu dengan kekuatan airnya, 
  • dan Dewa Siwa dengan kekuatan penyupatannya. 
Dari ketiga kekuatan tersebut menyatu secara bersama-sama sehingga bermula dari beras hingga menjadi matang dan diperolehlah nasi itu. 
Proses inilah yang merupakan suatu kerjasama manusia baik secara Sekala maupun Niskala sehingga dapat menikmati makanan. 
Oleh karena manusia menikmati makanan ini atas dasar kebersamaan dan merupakan pemberian, maka patutlah makanan itu di persembahkan kembali pada kekuatan alam lainnya melalui yadnya sesa/banten saiban itu sendiri.

Dengan demikian dapatlah di artikan bahwa yadnya sesa merupakan persembahan umat Hindu dengan mempersembahkan sebagian kecil dari makananya yang berupa nasi, lauk-pauk, sayur-sayuran dan garam yang dialasi dengan taledan yang terbuat dari daun pisang, yang secara rutin dilaksanakan setiap hari sehabis makanan itu dimasak dan setelah itu baru dinikmatiya. 
Persembahan yadnya sesa ini di sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing terutama pada tempat-tempat yang dianggap penting. 
Kita sebagai umat Hindu dan sebagai umat manusia yang diciptakan dengan yadnya, maka sudah sepatutnyalah kita melaksanakan yadnya; baik untuk menyucikan diri, mendekatkan diri pada Tuhan maupun sebagai ucapan terima kasih kita pada apa yang telah kita peroleh di dunia ini.

Dan sebagai tambahan, sewajarlah kita sebagai umat manusia untuk dapat mensyukuri dan mendoakan terlebih dahulu atas makanan yang akan kita nikmati yang dalam doa / mantra sembahyang sehari-hari disebutkan dapat diucapkan sebagai berikut :
Om hiranyagarbhah samawartatagre
bhùtasya jàtah patireka àsit
sadàdhara pritiwim dyam utemam
kasmai dewàya hawisa widhema
Om pùrnam adah purnamidam
pùrnàt purnam udacyate
pùrnasya purnam àdàya
pùrnamewawasisyate
Artinya : Ya Tuhan Yang Maha Pengasih. Engkau asal alam semesta dan satu-satunya kekuatan awal. Engkau yang memelihara semua makhluk, seluruh bumi dan langit.
Hamba memuja Engkau. Ya Tuhan Yang Maha Sempurna dan yang membuat alam sempurna. Alam ini juga akan dapat lenyap dalam kesempurnaanMu. 
Engkau Maha Kekal. Hamba mendapat makanan yang cukup berkat anugrahMu. Hamba manghaturkan terima kasih. 

Dan sebagai menu khas tradisional Bali seperti : sambal matah, sate languan, sangrai, klepon selengkapnya >> .......
***