Selanturnyane

Beras

Beras (sebagai sarana persembahyangan maupun tetandingan banten) adalah lambang/nyasa Sang Hyang Ātma, yang menjadikan badan ini bisa hidup.

Dalam sarana persembahyangan, beras/wija sebagai lambang benih, dalam setiap insan/kehidupan diawali oleh benih yang bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berwujud Ātma.
Ceper sebagai lambang/nyasa angga-sarira/badan tiadalah gunanya tanpa kehadiran Sang Hyang Ātma .
Tak ubahnya bagaikan benda mati, yang hanya menunggu kehancurannya.
Maka dari itulah di atas sebuah ceper juga diisi dengan beras, sebagai lambang/nyasa Sang Hyang Ātma.
Karena hidup kita di belenggu oleh Citta dan Klesa,
Ātma menimbulkan terjadinya Citta Angga- atau sthula sarira (badan kasar) menimbulkan terjadinya klesa.
Rintangan dalam mencapai tujuan hidup tersebut dalam Panca Klesa juga disebutkan sebaiknya orang maju di dalam spiritualitas sehingga sukshma sarira-nya menjadi lembut, cerah dan berpendar.

Beras yang diayomi Sanghyang Trimerta pada saat hari raya Soma Ribek juga disebutkan pemujaanya dilaksanakan di lumbungnya.
***