Doa

Doa sesungguhnya tidak lain adalah ucapan dari keinginan manusia yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Hyang Widhi atau Ida Bhatara yang salah satunya juga bertujuan untuk mendapatkan ketenangan.

Diceritakan, suatu kali seorang Ayah ditanya oleh anaknya:
"Mengapa Ayah selalu rajin berdo'a padahal keadaan ekonomi kita tetap biasa saja? Apa yang Ayah dapatkan dgn seringnya Ayah berdo'a secara teratur kepada TUHAN ?".
Sang Ayah menjawab:
"Tidak ada yg Ayah dapat, malah Ayah banyak kehilangan; tetapi ....... Ayah akan beritahu kepadamu Nak, apa-apa saja yang hilang itu ...".
Ternyata yang hilang adalah:
    • Kekuatiran.
    • Kemarahan.
    • Depresi.
    • Kekecewaan.
    • Sakit Hati.
    • Kerakusan.o
    • Ketamakan.
    • Kebencian.
    • Kesombongan.
"Setiap kali setelah berdo'a Ayah selalu kembali menjadi tenang.".
Kadangkala, jawaban atas do'a kita tidak selalu tentang "apa yg kita dapat" tetapi justru "apa yg hilang" dari kehidupan kita. 
Janganlah selalu mengukur kebaikan tuhan dari "apa yang kita dapat" karena terkadang tuhan bekerja lewat "apa yang hilang" dari kehidupan kita...
Demikianlah *Dahsyatnya berDo'a*.

Dalam penggunaan bahasa yang dipakai untuk menyampaikan keinginan itu, menurut umat Hindu Dharma, bisa dengan Bahasa Bali (sehe, sesapan), Bahasa KawiBahasa Sanskerta dll.
  • Doa yang memakai bahasa Sanskerta sering disebut mantra
  • Sedangkan yang memakai Bahasa Bali dan Kawi sering disebut sehe atau sesontengan. 
Jika memakai bahasa sanskerta cara mengucapkan dengan menyanyi (seronca atau sruti), sedangkan jika doa dengan bahasa Kawi maka ucapannya dengan menggunakan palawakia, dan jika berdoa dengan menggunakan bahasa Bali maka ucapannya seperti berkomunikasi biasa dengan orang yang lebih tinggi (bahasa halus).

Masalah bahasa yang dipakai dalam berdoa sesungguhnya tidaklah merupakan masalah, karena Tuhan, Hyang Widhi atau Ida Bhatara adalah Maha Tahu, Maha Pengasih, Maha Sakti dan Maha Bijaksana. 
Yang terpenting sesungguhnya dalam berdoa itu hendaknya ucapan (doa) itu dilandasi dan didorong oleh keyakinan (sraddha) yang kuat, kesucian pikiran (lascarya) dan pasrah. 
Demikian disebutkan dalam rangka menyamakan persepsi serta peningkatan pengetahuan pemangku sebagai penuntun dalam memimpin upacara yadnya sebagaimana disebutkan maka dalam berdoa itu perlu menggunakan mantra-mantra atau bahasa Sanskerta, sehingga agama Hindu itu universal tanpa menghilangkan konsep desa kala patra sebagai kelenturan interpretasi masyarakat pada suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu.
***