Aja Were

Karya

Karya artinya menjalankan kewajiban hidup dengan ketulusan hati.

Mendapat awalan "me" menjadi mekarya yang berarti berkarya (jemet megae)

Dalam berbagai kegiatan masyarkat Bali dalam keseharian biasanya dilaksanakan dalam berbagai kegiatan seperti dalam istilahnya :

Sehingga vibrasi kesuciannya tetap terjaga.
  • Sang Yajamana yaitu para manggala sebagai pelaku dalam hal upacara yadnya
  • Sarati yaitu para tukang banten untuk menunjang suksesnya upacara yadnya.
  • Seni Primitif sebagai simbolis dari perasaan-perasaan tertentu pada zaman dahulu.
    • Karya sastra yang diciptakan masyarakat Bali yang telah mengalami modernisasi, atau biasa disebut sastra modern.
    • Karya Tulis yang ditulis dalam bentuk prosa, puisi, drama dll.
    • Undagi yaitu para arsitek tradisional Bali yang diayomi oleh Bhagawan Wiswakarma sebagai arsitek seni bangunan.
  • Pengraksa Karya sebagai pengemit untuk menjaga pelaksanaan upacara yadnya.
Sehingga sebagai jati diri  nusantara disebutkan untuk itu perlu disikapi secepatnya dengan menggali dan mengenalkan produk unggulan yang pernah diraih oleh para leluhur kita dalam bentuk karya seni puncak yaitu karya seni adhi luhung nusantara.
***
“Agem-ageman” (falsafah hidup) leluhur nusantara sejatinya “ngelakoni” / menjalankan hakikat budi pekerti yakni sujud bhakti dan bepasrah diri kehadapan Hyang Maha Bijaksana. 

Sejatinya agama memiliki “kebenaran tunggal”. 
Bagaimana manusia yang fana ini bisa memperdebatkan kebenaran tunggal yang hakiki? kecuali mereka terbelenggu oleh pembenaran menurut mereka sendiri.

Urusan filsafat diserahkan kepada beliau para Maha Mpu, Maharesi yang telah mencapai level bijaksana, yang mampu memahami kebenaran hakiki dari ajaran agama. 

Masyarakat awam tinggal mengikuti kebijakan kebenaran para Danghyang dalam bentuk etika dan upacara.

Para leluhur beragama “bhakti” dan “berpasrah diri” bukan berarti “diam”. Mereka memuja seiring dengan nafas kehidupan, berdoa sejalan dengan langkah kakinya, bersujud senada dengan irama wacananya. 

Berpasrah diri dalam dharma untuk menunaikan “dharmaning kahuriapan” (kewajiban hidup).

Mereka bekerja dalam ketulusan, berkesenian dalam doa, berbudaya dalam pemujaan, serta berkarya sebagai ritual. 

Dengan selalu menjunjung prinsip hidup dalam keharmonisan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Ida Betara. 

Memuja Hyang Esa dalam bentuk paling sederhana untuk dipahami, yang terdekat dengan dirinya dan lekat dengan pekerjaannya. 

Menstanakan Hyang Maha Bijak diantara patung patung, pretima, pelawatan, kober - kober, tedung – tedung suci, senjata nawa dewata.

Memuja Hyang Maha Suci di atas dasa aksara, rerajahan, warna-warna, bunga-bunga, buah-buahan (woh-wohan), banten – banten, batu-batu, api, air, daun-daunan.

Memuliakan Hyang Maha Agung dalam rangkaian nada gambelan, kekawin/kidung suci, dan tandang tangkep tari wali. 

Sujud kepada Hyang Maha Acintya dalam semilir wangi asep menyan majegau cendana, dan di setiap molekul air “tirtha wangsuhpada”, sebagai simbol kedekatan rasa di dalam upaya menghaluskan budi.

Begitulah leluhur Nusantara dalam dharma kahuripan yang senantiasa berkarya dan memuja tanpa pernah terikat pada hasil dari apa yang dilakoni.

Demikian ditambahkan Ki Buyut Dalu dalam salah satu artikel Hindu Dharma di fb.
***