Pages

Mudra

Mudra adalah sikap atau gerak - gerik tangan dan jari sebagai sesana pinandita dalam pemujaan yaitu tanpa keinginan untuk dapat bergerak dalam melantunkan mantra puja astawa pada suatu upacara yadnya.

Di Bali sebagaimana disebutkan dalam kutipan artikel suluh kehidupan, mudra ini berasal dari akar kata mud yang berarti "membuat senang" dan dalam bentuk upasana, disebut demikian karena mudra itu membuat para dewa menjadi senang.
"devanang moda da mudra tasmat tang yatnatascaret".
Dikatakan bahwa terdapat 108 dan 55 mudra yang biasa digunakan. Di sini yang dimaksud ialah ketika memuja, dilakukan dengan posisi tangan dan badan seperti latihan yoga yang oleh para pandita, sikap mudra ini selalu digunakan dalam rangka pemujaan dan disebut dengan istilah "patanganan" yang mengandung makna gerak-gerak tangan yang bermakna untuk mensthanakan para para dewata.

Dalam peninggalan purbakala di Bali yaitu berupa seni arca, dijelaskan pula banyak dijumpai berbagai sikap tangan, di antaranya: 
  • cin mudra (menenangkan pikiran), 
  • vakhyayana mudra (sikap tangan ketika seseorang berbicara), 
  • saudarsana mudra (sikap tangan memberi petunjuk), 
  • jñana mudra (sikap tangan kebalikan dari cin mudra/merenung dengan menekankan tangan di dada), 
  • dhyana mudra (sikap meditasi), 
  • yoga mudrà (sama dengan sikap dhyana mudra), 
  • vajrahungkara mudra (kedua tangan menyilang di dada memgang vajra), 
  • vitarka mudra (sikap memberikan pelajaran), 
  • bodhyagiri mudra (sikap tangan menggenggam sesuatu), 
  • bhumisparsa mudra (sikap tangan menenangkan bumi), 
  • vara mudra (sikap tangan memberikan anugrah), 
  • abhaya mudra (sikap tangan menolak bahaya), 
  • añjali mudra (sikap tangan memberi penghormatan, tercakup di dada), 
  • vismaya mudra (sikap tangan seperti terkejut), 
  • danda muda (sikap tangan diangkat seperti tongkat),
  • Suci hasta mudra (sikap tangan ujung jari menunjuk sesuatu),
  • matsya mudrà dilakukan ketika mempersembahkan arghya, yaitu dengan meletakkan tangan kanan di punggung tangan kiri lalu direntang, seperti sirip kedua ibu jari, dan Sivambha yang berisi air diandaikan samudra lengkap dengan ikan-ikan di dalamnya. 
  • Yoni mudra yang berbentuk segi tiga, dibentuk dengan kedua ibu jari. Yoni mudra ini digunakan untuk memohon kehadiran dewi (devi) untuk datang menempatkan diri di hadapan pemuja. Yoni dipandang sebagai piþha atau yantra khusus bagi devi. 
  • Upasana mudra tidak lain adalah ekspresi ke luar dari suatu dorongan di dalam, dan mudra itu lebih menegaskan dorongan tersebut. 
  • dan lain - lain.
Sedangkan mudra yang digunakan dalam pemujaan (archana) seperti dalam :
  • japa
  • dhyana ("memusatkan pikiran terhadap Hyang Widhi"; Dasa Nyama Bratha)
  • kya karma (ritual upacara yadnya untuk mencapai tujuan tertentu), 
  • pratisthha (mensthanakan), 
  • snana (menyucikan/ mandi), 
  • avahana (menyambut datang), 
  • naivedya (mempersembahkan makanan) dan 
  • visarjana (mempersilahkan devata pergi kembali). 
Sehingga dalam kegiatan - kegiatan upacara keagamaan di Bali yang dipimpin oleh sulinggih yaitu para pandita Hindu Dharma senantiasa menggunakan mudra ini dalam berbagai tingkatan upacara yadnya yang sangat erat kaitannya dengan pranawa, kuþamantra, mantra dan archana.

Sikap-sikap mudra dalam Stiti Dharma Online disebutkan diperoleh mula-mula dari Anumana Pramana kekuatan batin para Maha Rsi. Dasar utama melakukan mudra adalah kesucian batin. Penggunaannya hanya untuk kepentingan memuja Tuhan / Ida Sanghyang Widhi Wasa, tidak dilakukan secara sembarangan.

Setiap orang dapat memilih diantara 55 jenis mudra yang sesuai dengan kebutuhan pemujaan misalnya :
  • Bagi para walaka ketika mepuja Trisandya, menggunakan mudra Padmasana dan Amusti Karana; 
  • Untuk Pinandita / Jero Mangku menggunakan Astra Mudra ketika nganteb banten; untuk Sang Sadhaka menggunakan mudra lengkap ketika Ngarga Tirta dan Ngili Atma.
Bagi Pinandita/ Jero Mangku ketika bersikap Astra Mudra, mengucapkan Astra Mantra.
***