Amusti Karana

Amusti Karana adalah sikap tangan dalam sembahyang (seperti yang biasanya dilakukan dalam melaksanakan puja tri sandhya) yaitu : 
Dengan kedua ibu jari tangan dipadukan dengan telunjuk tangan kanan (berbentuk “kojong”) atau kedua ibu jari tangan kanan dan kiri dipertemukan/ditempelkan sedangkan jari-jari tangan yang lain saling bertumpukan diatas ulu hati.

Tatkala muspa
kesatuan sepuluh jari sebagai lambang penyatuan dasendria dalam diri.

Memurnikan/membersihkan persembahan untuk memperoleh karunia Tuhan disebutkan;
Ambil sekuntum bunga pada canang, Apit bunga dengan membentuk mudra amusti-karana/mudra trisandya di dada) ucapkan,
“OM PUSPA DANTA YA NAMAH SWAHA,
OMKARA MURCYATE PRAS PRAS PRANAMYA YA NAMAH SWAHA.”
(Setelah selesai mengucapkan mantra, bunga kita lempar ke arah canang atau persembahan)

Dan sebagai simbol dwi aksara ang ah dalam Group Hindu, Amustikarana juga disebutkan :
  • Menggunakan tangan kanan sebagai simbol aķşara ANG atau kepribadian kecil atau Puruşa, 
  • Tangan kiri sebagai simbol aķşaram AH atau kepribadian utama atau Puruşotama.
Jadi tangan kanan menyerahkan diri untuk dilindungi oleh tangan kiri.

Tidak memerlukan sarana khusus dalam pelaksanaan tri-sandhya, karena pemujaan ditujukan kepada Tuhan yang dihayati bersthana di dalam hati (Tungtunging Hŗdaya), 
maka sikap tangan amusti-karana (kedua ibu jari tangan dipadukan di depan hulu hati, kemudian tangan kanan dikepalkan/amusti, dibungkus oleh tangan kiri) membentuk Kadali-Puspa. 

Bagi mereka yang menggunakan Astra-Mantra (Pinandita, Pandita) menurut hematnya dapat menambahkan Naraca-Mudra dengan menutupi pertemuan kedua ibu jari dengan telunjuk kanan, sehingga membentuk kojong (Tri-Śikha-Mudra) yang mengandung makna tercapainya keseimbangan lahir-bathin. 

Sikap ini sebaiknya dimulai sejak mendengar komando Asana (a=tidak, sana = goyah) = tidak tergoyahkan dan baru dapat diakhiri setelah pengucapan Śāntih

Pada saat kara-suddhi (kara-sodhana) ibu jari tetap berhubungan, hanya telapak tangan dibuka, diputar silih berganti diatas dengan sikap menyangga (nampa) di depan hulu hati dan segera kembali amusti sesaat akan merapalkan pūja yang bermakna untuk memuja keagungan Hyang Widhi serta untuk menyerap vibrasi kesucian Beliau.
***