Pertobatan

Pertobatan dalam Hindu disebut Prayascita yaitu penyucian diri secara lahir dan bathin serta menyesali kesalahan yang pernah dilakukan (tobat).
Seperti halnya dengan menggunakan banten prayascita untuk dapat mensucikan tri premana yaitu bayu sabda idep/pikiran.
Karena segala sesuatu yang terjadi di dunia ini berjalan menurut hukum sebab-akibat atau hukum karma.
Dimana ada aksi,
disitu pasti ada reaksi. 
Dan setiap perbuatan buruk asubha karma pasti menimbulkan dosa
Tetapi bila kita menganggap dosa itu tidak dapat dihapus atau ditebus; 
Lalu untuk apa kita membuang-buang waktu untuk mengikuti ajaran agama untuk lebih banyak berbuat baik agar bisa menutupi perbuatan yang tidak baik ?
Karma dan dosa pada prinsipnya adalah hal yang tidak bisa ditawar. 
Tetapi bila kita dengan sungguh-sungguh bertobat dan mulai instrokpeksi diri dengan melakukan pengendalian diri dan perbuatan-perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari, akibat dosa tidak begitu terasa.
Sehingga dikatakan pentingnya umat manusia untuk menebus dosa menurut Hindu yang salah satunya dapat dilakukan saat Siwaratri.
Karena dosa juga timbul dari tindak pendurhakaan kepada Tuhan seperti dikutip dari pengampunan dosa yang dijelaskan menurut PHDI
Tuhan telah memberikan kebebasan berkehendak kepada umat manusia, dan sastra-sastra Veda telah memberikan tuntunan agar kita bisa hidup di jalan Dharma
Sarasamuscaya 18 menyatakan Dharma dapat melebur dosa jagat tiga ini. 
'Dharma mantasakenikang triloka'.
Dan selain penggunaan prayascita yang dalam salah satu kutipan di fb ditambahkan;
Pertobatan juga disebutkan dapat dilakukan dengan upacara samskara (penyucian dari luar) tetapi yang lebih penting adalan penyucian dari dalam diri, lewat tapa, brata, yoga dan samadhi.
Manawa Dharmasastra II. 102 memberikan petunjuk, yaitu dosa terhapus dengan melakukan sandhya mengucapkan mantra Savitri. 
Mantra Savitri lebih dikenal sebagai Gayatri Mantram, karena memakai Chanda Gayatri. Mantram tersebut memang ada dalam Rgveda III. 62.10 , dan Yajurveda 11.35 dan XXX.2 .
Itu berarti, mantra bait pertama Puja Trisandhya itu sebenarnya sangat utama karena bisa hapuskan dosa orang yang merafalkannya dengan penuh ketulusan hati, apalagi dilakukan dengan berjapa.
Lewat upacara samskara, khususnya yang berhubungan dengan manusa samskara, kita sering menggunakan banten beakala (bayakaon), pengelukatan, prayascita, sampai sesayut guru piduka
Semua itu mengemban makna kebebasan sumber dosa, terbangun dari dosa-papa, dan permohonan maaf kepada Tuhan.
Tindakan ini akan semakin efektif jika dilengkapi dengan penyucian diri dari dalam dengan asucilaksana.
Yajur Veda XIX. 30 menyatakan kesucian (diksa) dengan pengendali indria (brata). Brata sendiri adalah disiplin akan tapa.

Selanjutnya, Manawa Dharmasastra V. 109, secara bertahap menuntun umat manusia melakukan penyucian diri mulai dari membersihkan tubuh dengan air, pikiran dengan kebenaran, jiwa dengan tapa brata, kemudian kecerdasan ( buddhi ) dengan pengetahuan yang benar ( jnana ). Kitab-kitab susastra, latihan perlunya dilaksanakan japa, dan pemakaian bhasma ( Wrhaspati Tattwadan Panca Siksa ). 
Bahkan, bhasma sendiri dianggap sebagai pelebur dosa. Lebih rinci lontar Silakrama yang bernada berdoa mesti lakukan dengan mandi, nyurya sevana, melakukan pemujaan, berjapa, dan pelaksanaan homa (agnihotra).
Dari uraian di atas, prayascita sebagai bentuk peleburan dosa, telah diajarkan dalam Veda dan susastranya. 
Karena itu,
Permohonan dalam Tri Sandhya Pada bait 4 mantram itu ada pengakuan penyembah yang penuh nestapa. “ Papo ham papakarmaham papatma papasambhavah. 
Lebih lanjut, pada bait balik penyembah memohon pengampunan kepada Mahadewa Sang Sang Penyelamat segala makhluk. Mohon ampun atas segala dosa yang ada, pada bait keenam (terakhir).
Om ksantavyah kayiiko dosah (ampunilah segala dosa karena perbuatan hamba), ksantavyo vaciko mama (ampunilah dosa karena ucapan hamba), ksantavyo manaso dosah.
(Ampunilah dosa yang berasal dari pikiran hamba), 
Tat pramadat ksama-svamam; 
(Ampunilah segala kelalaian hamba).
Itu adalah mantram harian umat Hindu, yang secara eksplisit pula menepis pandangan Hindu tidak mengenal pengampunan dosa! 
Pandangan itu keliru, karena Sri Krishna sendiri mewejangkan, apakah orang-orang yang telah ditinggalkan (menyelesaikan) semua swadharmanya, dan datang kepada kita kepada Brahman, akan dibebaskan dari segala dosa ( Bhagavad gita. XVIII. 66 ).
Brata Sivaratri, mengingat Veda tidak banyak dikenal oleh masyarakat awam, maka para Maharsi membuat menu rohani buat mereka dalam bentuk ceritera yang mudah dimengerti. Dalam kitab-kitab Purana, pengampunan atau peleburan dosa dalam bentuk brata Sivaratri. 

Sementara itu, Padma Purana menyebut sebagai malam peleburan atau pembebas manusia dari kepapaan
‘Sivaratri wijneya sarvapapa paharini ‘ atau ‘ tesam papaninasyanti sivaratri prajagarat ‘. 
Lebih rinci lagi, dalam Siva Purana tahan, ada di antara berbagai brata, seperti tirtayatra, dana punia, yajna, tapa dan japa, semua itu tidak ada yang melebihi keutamaan brata Sivaratri. 

Dalam Kesadaran atma, orang melakukan upavasa juga pada akhirnya menyatu dengan sunia
Karena upavasa berarti mendekatkan diri dengan penguasa, dalam hal ini Tuhan. 
Dalam aktivitas fisik diwujudkan dengan tidak makan. Mengingat makanan menentukan pikiran, dan pikiran menjadi pengendali perbuatan (karma), maka mengendalikan pikiran secara langsung mengendalikan gerak karma kita. 
Monabrata yang berarti tidak berbicara, mengandung makna penyucian ucapan, perbuatan dan pikiran sebagai salah satu langkah untuk melakukan pertobatan.
***