Hukum Sebab Akibat

Hukum Sebab Akibat adalah segala hasil yang kita terima pasti akan sesuai dengan karma yang kita perbuat. 
Baik buruknya sebuah nasib terkadang juga disebutkan hasil dari sebuah hukum sebab akibat.
Sebuah hukum yang berlaku dalam kehidupan ini, dimana setiap hasil dari akibat yang selalu bersumber dari sebuah penyebab seperti dicontohkan dalam karma phala :
  • Setiap perbuatan yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula.
  • Setiap pengabdian yang tulus iklas akan dapat membawa kebahagiaan.
    • Sebagai salah satu tujuan dari pelaksanaan upacara pitra yadnya untuk dapat memberikan yang terbaik pada leluhur kita yang pada nantinya agar beliau senantiasa dapat memberikan kebaikan pada kita semua.
    • Dina Anggara untuk bhutanya Banaspatiraja, artinya pada saat dia sedang kalap ia berani mengambil jalan pintas karena tidak peduli. Makanya bhuta Banaspatiraja yang menyakiti, sebab di masa lalunya tidak senang membersihkan diri (melukat) yang menyebabkan sakit pada masa kelahiran sekarang.
Namun saja, hasil yang akan didapat tidak selamanya akan langsung diterima karena juga disebutkan digolongkan sesuai dengan saat dan kesempatan dalam menerima hasilnya dalam kehidupan ini.
Karena apabila manusia tidak sempat menikmati pada kehidupan saat ini, maka akan dinikmati pada kehidupan selanjutnya. Karma merupakan hukum sebab akibat. keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya.
//*// MENGENAL LEBIH DEKAT DENGAN HUKUM SEBAB AKIBAT //*//
(Dikutip dalam kata2Inspiratif di Fb)

SETIAP Tindakan kita memberikan akibat. Akibat tindakan kita tidak secara langsung kita ketahui;
Seperti halnya sebuah biji membutuhkan waktu untuk bertumbuh dan menjadi sebuah pohon, demikian juga tindakan kita juga membutuhkan waktu untuk membuahkan hasil.
Sudah saatnya kita memahami cara kerja sebab akibat, kita akan memahami bahwa semua situasi, keadaan, kejadian, peristiwa, kenyataan;
Karena yang kita alami dalam hidup sekarang ini tidaklah terjadi karena kebetulan, melainkan karena akumulasi tindakan kita dalam menciptakan / mekreasi situasi, keadaan, kejadian, peristiwa dan kenyataan yang sama dimasa lalu pada orang lain, pada benda atau mahluk lain, pada alam semesta, pada diri kita. 
Seperti halnya bumerang yang akan kembali kepada pelemparnya, demikian pula diri kita akan diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan orang lain.
"Siapa Yang Menabur Dia Yang Menuai."
  • Kita meretakkan hubungan persahabatan, menghina, menyakiti dan menggunjingkan orang lain, serta mengambil milik mereka. Jika demikian, apakah aneh jika kita mendapatkan keburukan?
  • Mungkin kita tidak menyakiti orang yang melukai kita sekarang, namun kita telah menyakiti orang lain di masa lampau.
  • Saat buah tindakan kita telah matang, tidak berguna untuk merasa marah atau tenggelam dalam kesedihan, karena diri sendiri yang menempatkan kita dalam situasi tersebut.
Sebagaimana orang bijak, Shantideva berkata:
"Mengapa saya melakukan tindakan-tindakan itu sebelumnya disakiti? Karena segalanya berkaitan dengan tindakan saya. Mengapa saya mendendam terhadap mereka (yang menyakiti saya sekarang? "
Jika kita tidak mau menerima perlakuan yang menimbulkan rasa sakit dimasa yang akan datang hendaklah saat ini kita memulai kesadaran untuk berhenti menyakiti orang, mulai mengasihi dan melayani orang mulai dari Hal-hal Kecil yang penting Tulus, Ikhlas, Bersyukur dan SAJE (benar, Benar dan BENAR).

Selalulah BERPEGANG TEGUH PADA AJARAN KEBAJIKAN yakni :
Bangkit Menjadi Baik, Menjadi Bijaksana, Menjadi Seimbang, Menjadi Selaras. 
LALU berjalanlah dengan TONGKAT SAKTI TRI KAYA PARISUDHA (TRI KARANA SUDHI), yang merupakan 3 (tiga) PUSAKA KUNCI Pembebasan Karma Wasana, Berpikir yang Baik dan Selalu Positif, Berkata yang Baik dan Lemah Lembut, dan Berbuat yang Baik dan Rendah Hati.
Jadi segeralah SADAR dan Lalu LAKUKAN hal-hal BAIK agar kita selalu menikmati Manisnya Buah Kebajikan. Rahayu.
***