Aja Were

Tri Sadhaka

Tri Sadhaka adalah tiga pandita utama sebagai penuntun umat dalam mengembangkan pembinaan kehidupan alam dan manusia secara seimbang.

Tri Sadhaka juga merupakan perwujudan Tri Bhuwana Katon yang memimpin umat manusia dalam hal upacara yadnya dan memelihara kelestarian Tri Loka yaitu sebagai adi guru loka masyarakat Bali yang dalam beberapa komentar Hindu Bali dijelaskan 
  1. Pandita Siwa, untuk muput upacara ke Ida Bhatara (dewa yadnya) seperti  mamungkah, ngenteg linggih, piodalan dllnya.
  2. Pandita Budha, untuk muput manusa yadnya & Pitra yadnya
  3. Pandita Bujangga Waisnawa, untuk muput Bhuta Yadnya (Pecaruan)
Sampai saat ini di Penataran Agung Pura Besakih sebagaimana dijelaskan Lontar Ekapratama yang ditulis dalam Babad Bali, tentang Penataran Agung Mandala 2 Pura Besakih, bahwa keberadaan tiga pandita tersebut dihormati dalam bentuk tiga pelinggih berjejer berbentuk gedong dengan pelinggih Meru Tumpang 1 (Siki) yang berada di jajaran belakang Padma Tiga dan di depan Bale Pesamuan Agung Pura Besakih di Penataran Agung Pura Besakih

Ketiganya tersebut memimpin umat manusia memelihara kelestarian tiga lapisan bhuwana agung ini yaitu Bhur loka, Bhuwah loka dan Swah Loka.

Dalam artikel tersebut juga dijelaskan bahwa
  • Pelinggih yang di tengah sebagai penghormatan Mpu Beradah, 
  • di kirinya Pelinggih Sang Hyang Siem, dan 
  • yang di kanan untuk Danghyang Markandia. 
Tiga pandita ini berbeda paksa, sampradaya atau sektanya.
Tiga pandita atau resi ini nampaknya sebagai perwujudan konsep Sang Tri Bhuwana Katon yang dinyatakan dalam Lontar Eka Pratama.
Maksud Sang Tri Bhuwana Katon ini yaitu beliau yang suci yang nampak di bumi ini untuk memimpin umat manusia yang disebut Tri Sadhaka
Dari penempatan tiga pelinggih untuk tiga resi atau pandita itu dapat diambil sebagai suatu teladan bagi umat Hindu terutama yang ada di Bali bahwa tiga resi itu sebagai penuntun umat dalam mengembangkan pembinaan kehidupan alam dan manusia secara seimbang. Tiga pandita resi itu  sebagai Adi Guru Loka artinya sebagai guru yang utama dari masyarakat.

Pemujaan melalui tiga sadhaka inilah disebutkan sebagai suatu peringatan pada umat untuk berguru dalam menjaga kelestarian ibu pertiwi dengan enam hal. Enam hal yang harus dilakukan untuk menjaga tegaknya kelestarian ibu pertiwi dinyatakan dalam Atharvaveda XII.1.1.Enam hal itu meliputi :
  1. Satya, unsur kebenaran dan kejujuran
  2. Rta, hukum Tuhan yang bersifat abadi dalam hubungan manusia dan alam semesta ini
  3. Tapa, pengendalian diri lahir dan bathin.
  4. Diksa, kesempurnaan
  5. Brahma, (utpati penciptaan; "Tri Kona")
  6. Yadnya, suatu kewajiban yang patut dilaksanakan oleh umat manusia.
Umat pada umumnya dalam melakukan upaya melakukan enam hal menjaga ibu pertiwi atau Sad Pertiwi Daryante. 

Hendaknya senantiasa memohon tuntunan tiga macam pandita tersebut. Memohon tuntutan untuk menjaga kelestarian akasa, kebersihan udara dari polusi (amratistha pawana) dan menjaga kelestarian sarwaprani.
***