Tahukah Anda ? *) Pencarian data

Siwa Ratri

Pensucian di Pura Tirta Empul Kintamani
Hari Raya Siwa Ratri (Siwaratri; Shivaratri) adalah hari pengampunan dosa yang dilaksanakan setahun sekali setiap purwani tilem ke-7 (sasih kepitu) tahun Caka, sebagai malam perenungan suci atas;
"Apa yang telah kita perbuat", agar nantinya menjadi lebih baik.
Perayaan hari raya ini sebagaimana disebutkan Parisada Hindu Dharma Indonesia, hari raya Siwa Ratri yang dikisahkan berawal dari perjalanan Lubdhaka si pemburu miskin yang berbahagia dalam perjalanan hidupnya, sekalipun tidak disadari karena secara kebetulan.
  • Dikatakan berbahagia, lantaran sekalipun dalam sehari-hari selalu melakukan tindakan sadis, melakukan pembunuhan satwa (binatang), tetapi bisa masuk surga, alam swah loka sesudah meninggal.
  • Dari pandangan mata secara awam saja, tentu perbuatan membunuh, menghilangkan nyawa mahluk lain di luar tujuan yadnya, adalah berdosa. 
Misteri kematian dan perjalanan arwah Lubdhaka tidak banyak yang mengetahuinya. Pemburu tersebut dalam mitologi Hindu meniggal beberapa hari setelah Siwaratri lantaran menderita suatu penyakit. Istri dan anak-anaknya merasa kehilangan.


Apa yang dilakukan Lubdhaka pada malam siwaratri ini,
sehingga memperoleh tiket masuk surga setelah mati? 

Suatu hari lelaki itu seharian berburu, namun sama sekali tidak mendapat binatang buruan.
  • Waktu itu jangankan ia berhasil memanah seekor binatang untuk dibawa pulang, 
  • melihat bayangan binatang saja tidak. Sangat apes hari itu perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu profesional.
Dalam kehampaan, jengkel bercampur lelah fisik karena lapar dan harus Lubdhaka memutuskan tidak bertolak pulang menemui istri dan anak-anak kesayangannya. Dengan perasaan pasrah dan nekat ia memutuskan bermalam di hutan, padang perburuannya seorang diri.

Siwa Ratri di Goa Giri Putri Nusa Penida Bali
Waktu itu sebagai pemburu Lubdhaka tidak memiliki motip lain, bertahan di hutan.
Kecuali satu harapannya, malam itu ia akan menemukan binatang dan berhasil memanahnya untuk dibawa pulang. Ia memilih berdiam di sebuah pohon dekat telaga yang airnya sangat bening.
Lubdhaka boleh saja berharap, namun kenyataannya sampai tengah malam yang sunyi senyap hasilnya tetap nihil. Malah dalam malam gelap ia dilanda ketakutan.
lantas Lubdhaka memilih memanjat sebuah pohon yang lumayan rindang, antisipasinya supaya terhindar dari sergapan binatang buas. 
Untuk menahan kantuknya tangan memetik satu persatu dahan pohon yang tidah. Ternyata malam saat Lubdhaka menginap di hutan adalah Malam Siwa (Siwa Latri), yakni malam payogan Hyang Siwa.

Dimana dibawah pohon tempatnya memanjat ada sebuah telaga dan perwujudan Siwa beryoga. Pohon yang dinaiki adalah pohon Bila, serta dalam petikan lelaki itu tepat mengenai patung Siwa tersebut. karena takut jatuh otomatis laki-laki itu tetap terjaga (jagra) sampai pagi.
  • Aktivitas Lubdhaka malam itulah mendapat pahala dari Hyang Siwa, 
  • hingga ia berhak masuk sorga.
Aktivitasnya itu sama nilainya dengan yang dikerjakan Siwa. Beryoga, menahan haus, lapar, tidak tidur dan menahan nafsu-nafsu lainnya.
Di Khayangan rohnya sempat menjadi rebutan, antara penguasa neraka dan surga.
Perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu sampai masuk sorga cukup kontroversial.
Malahan di kalangan umat Hindu sendiri, hal ini masih menjadi masalah yang patut untuk didiskusikan, artinya begini,
pantaskah ? seorang Lubdhaka yang melakukan pembunuhan terhadap sarwa buron ini mendapatkan pengampunan dosa hanya karena melakukan kegiatan begadang semalam suntuk.
Pada hari Siwaratri ini umat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawanya sebagai Siwa Mahadewa.
    • Umat patut melaksanakan brata, meningkatkan kesucian rohani dan 
    • latihan mengekang hawa nafsu. 
  • Tujuannya;
    • agar memiliki daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di dunia ini. 
    • Terbebas dari berbagai godaan yang bisa menjerumuskan dan menyesatkan hidup, karena perbuatan menyimpang dari ajaran dharma atau Agama.
Penjelasan Dewa Siwa pada Sang Suratma terhadap
"masuknya Ludhaka ke Sorga"

Arca Siva yang dikelilingi tungku api raksasa
Saat dia meninggal, Atman (Rohnya) menuju sunia loka, bala tentara Sang Suratma (Malaikat yang bertugas menjaga kahyangan) telah datang menjemputnya.

Mereka telah menyiapkan catatan hidup dari Lubdaka yang penuh dengan kegiatan Himsa Karma (memati-mati).

Namun pada saat yang sama pengikut Siva pun datang menjemput Atma Lubdaka. Mereka menyiapkan kereta emas.

Lubdaka menjadi rebutan dari kedua balatentara baik pengikut Sang Suratma maupun pengikut Siva. Ketegangan mulai muncul, semuanya memberikan argumennya masing-masing.

Mereka patuh pada perintah atasannya untuk menjemput Atma Sang Lubdaka.

Saat ketegangan memuncak Datanglah Sang Suratma dan Siva. Keduanya kemudian bertatap muka dan berdiskusi. Sang Suratma menunjukkan catatan hidup dari Lubdaka,
Lubdaka telah melakukan banyak sekali pembunuhan, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan binatang yang telah dibunuhnya, sehingga sudah sepatutnya kalo dia harus dijebloskan ke neraka loka.
Siva menjelaskan bahwa;
Lubdaka memang betul selama hidupnya banyak melakukan kegiatan pembunuhan binatang, tapi semua itu karena didasari oleh keinginan/niat untuk menghidupi keluarganya.
Dan dia telah melakukan tapa brata (mona brata, jagra dan upavasa/puasa)  salam  Siva Ratri/Malam Siva,
sehingga dia dibebaskan dari ikatan karma sebelumnya. Dan sejak malam itu Dia sang Lubdaka menempuh jalan hidup baru sebagai seorang petani.
Oleh karena itu Sang Lubdaka sudah sepatutnya menuju Suarga Loka (Sorga). Akhirnya Sang Suratma melepaskan Atma Lubdaka dan menyerahkannya pada Siva. (Kisah ini adalah merupakan Karya Mpu Tanakung, yang sering digunakan sebagai dasar pelaksanaan Malam Siva Ratri).

Di malam Siva Ratri ada tiga brata yang harus dilakukan:
  1. Mona: Tidak Berbicara
  2. Jagra: Tidak Tidur
  3. Upavasa: Tidak Makan dan Minum
Sebagai malam perenungan suci ini, diingatkan kembali bahwa Hari Raya Siwa Ratri ini datangnya setahun sekali yaitu setiap purwani tilem ke-7 (sasih ke-7) tahun Caka.
***