Sunia Loka

Sunia Loka adalah alam - alam kedewataan atau ketuhanan sebagai kesempurnaan dan kebebasan moksa.

Di Bali, dalam upacara pengabenan dimana penggunaan Tirtha Pengentas disebutkan berguna untuk menunjukkan arah / sasaran perjalanan roh / atma ke alam sunia loka ini.
Alam yang dihuni oleh atman yang telah mampu menyeberangi lautan kehidupan melewati rintangan antara suka dan duka, terbebas dari ikatan karma phala dan punarbawa;
Dan sebuah alam yang tidak lagi dipengaruh oleh hukum-hukum alam maya pada maupun hukum karma antara kebaikan dan keburukan atau subha ashuba karma.
Dalam memaknai malam Siwa Ratri, mengingatkan kita pada sebuah kisah Lubdaka yang saat dia meninggal, Atman (Rohnya) menuju sunia loka ini;
Dimana ketika itu, bala tentara Sang Suratma (Malaikat yang bertugas menjaga kahyangan) telah datang menjemputnya.
Dalam konsep hidup sesudah mati dalam Agama Hindu disebutkan bahwa alam sunia ini terdiri dari empat lapisan alam swah loka yaitu:
  1. Tapa Loka, sang jiwa (atman) yang lahir di alam ini menjadi apa yang disebut kesadaran kosmik, yang tidak perlu turun lahir ke dunia.
  2. Jana Loka, roda / siklus samsara telah berhenti. Sang jiwa bisa melanjutkan evolusi bathinnya dan menyelesaikan sisa putaran karmanya di lapisan alam ini juga.
  3. Maha Loka, dan 
  4. Satya Loka. Alam moksa yang maha sempurna untuk menyatu dan manunggal dengan Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.
Dan mencapai tingkatan alam ini dikatakan adalah karena atman telah mencapai Moksa, menunggalnya Atman dengan Paraman Atman.
Dan untuk mencapai alam Moksa adalah berjenjang dan Sunia Loka yang dicapai pun bertahap dari alam tingkat empat (Tapa Loka) hingga ketingkat tujuh sebagai alam kebenaran yang maha mutlak yang disebut Satya Loka
Dengan meningkatnya pengetahuan ketuhanan yang dicapai akan meningkatkan status kejiwaan yang dimiliki dan meningkatkan mencapai alam kemoksaan. 
Tuhan Yang Maha Esa dengan sifat-Nya yang maha banyak yang harus diteladani untuk mencapai dan menyatu dengan sifat-Nya. 
Mencapai salah satu sifat-Nya saja seperti mencapai keikhlasan tanpa pamrih atau lascarya bagaikan Matahari menyinari dunia tanpa pilih kasih dan pamrih adalah mencapai alam kebebasan yaitu Moksa
Jadi alam Moksa dapat dicapai dengan membebaskan diri dari segala keterikatan, terbebas dari ikatan hasil dari pada karma baik maupun karma buruk, terbebas dari suka dan duka yaitu tidak terlalu bersuka ria ketika mengalami keberuntungan juga tidak bersedih ketika mengalami musibah bahkan kematian
Kemampuan untuk mencapai kebebasan dari keterikatan yaitu dengan mewujudkan kebebasan jiwa.
Tanpa memiliki jiwa yang besar disebutkan tidak akan mungkin mencapai kebebasan. 
Jiwa yang besar dibentuk oleh pengetahuan yang diterima dari pengalaman, dari guru pembimbing dalam kelahiran demi kelahiran. 
Dengan memiliki pengetahuan kemuliaan dan mencapai kebebasan jiwa kita menuju alam rohani yang bertingkat-tingkat ini.
***