Telaga

Telaga dan kisahnya.

Hari itu, ikan-ikan yang sedang asik bercengkrama dan beraktifitas seperti biasa, tiba - tiba tercengang. 
Mereka melihat sosok di kejauhan berlari mendekati telaga, tidak jelas siapa, tapi dari bayangan sepintasnya, ternyata itu adalah seekor bangau yang bersifat metraya yang telah berhasil memperdaya penghuni telaga tersebut.
Dengan memilih berdiam di sebuah pohon dekat telaga tersebut yang airnya sangat bening, di hari Siwa Ratri yang suci ini, Lubdhaka boleh saja berharap, namun kenyataannya sampai tengah malam yang sunyi senyap hasilnya tetap nihil. Malah dalam malam gelap ia dilanda ketakutan.
Lantas Lubdhaka memilih memanjat sebuah pohon yang lumayan rindang, antisipasinya supaya terhindar dari sergapan binatang buas. 
Namun dengan pancurannya yang indah terletak di Tirta Empul, pada zaman dahulu digunakan oleh raja Sri Candrabhaya Warmadewa, raja Bali kuno untuk melakukan hidup sederhana, lepas dari keterikatan dunia materi, melakukan tapa, brata, yogasemadi, dengan spirit alam sekitarnya. 
Dalam mengawali kisah epos ramayana juga dikisahkan, konon sebuah cupu manik astagina yang tidak dipergunakan sebagaimana mestinya menjadi malapetaka bagi keluarganya yaitu :
Dewi Anjani, Subali dan Sugriwa yang terjun ke dalam telaga Sumala berubah wujud menjadi kera.
Kini diceritakan, Beliau Pasung Giri berputra lima orang, yang tertua bernama Dukuh Gamongan sebagai seorang brahmana sapinda. Ini pangandika Raja Ida Anake Agung, I Gusti Ngurah Made Karangasem, disebutkan : 
Telaga Sawang lempuyang sane kapahayu baan Dukuh Gamongan.
Sebagai perlengkapan tepung tawar yang berfungsi sebagai pembersih secara rohani dalam mitologi pohon dapdap disebutkan :
  • Telaga sebagai lambang dunia ini, 
  • Ikan gabus mewakili sifat rajas dan tamas
    • dimana kita ketahui bersama bahwa ikan gabus sangat rakus makannya, karena itu ia tergolong predator. 
  • Pohon dapdap tempatnya bertapa mengandung makna hati-hati atau waspada, 
    • artinya waspada terhadap sifat-sifat buas dan selalu eling. 
  • Klesih sebagai gambaran manusia yang telah mencapai pencerahan.
Karena lelah, ia beristirahat dibawah sebatang pohon yang besar. Di dekat pohon itu terdapat sebuah telaga. 
Tak lama kemudian, datanglah tujuh orang bidadari mandi ketelaga itu. Melihat hal itu, I Rajapala bersembunyi dibalik pohon sambil memperhatikan para bidadari itu mandi.
Setelah bidadari itu hampir selesai mandi, I Rajapala mengambil selendang alat terbang salah seorang bidadari dengan sumpitannya. 
Dan akhirnya, I Rajapala sangatlah sayang kepada Ken Sulasih karena sejak beristrikan Ken Sualasih yang didapatkan dari sebuah telaga, ia selalu memperoleh keberuntungan.
Cerita lainnya yang juga tidak kalah menariknya : 
  • Kaliwat demen pesan I Belibis mandus di telagane ento. Sawireh telagane ento dalem,linggah,yehne gede tur ening pesan dalam Cerita rakyat, legenda terbentuknya Telaga Tista diceritakan :
    • Ditu liu ada ebe paseliwer macanda saling uber ngajak timpal- timpalne. Minakadi nyalian, be bujair,be nila,kaper,lele,be julit muah ane elenan. 
    • Buina telagane ento kaiderin olih bukit ane asri, katumbuhin kayu ane gede-gede tur woh-wohan
    • Sebelumnya, telaga tista ini bukanlah telaga biasa buatan manusia tapi merupakan telaga suci ciptaan Tuhan,
    • Ditengah telaga itu terdapat sebuah pura yang diakui masyarakat setempat sebagai salah satu pura desa yang ada di daerah ini dan untuk itulah masyarakat percaya kalau di tempat ini sangatlah keramat.
    Cerita Ni Diah Tantri, sekadi itunjung, akéh sarwa kusumané ngiderin talaga punika. Sakancan sekaré sané layu sami ulung katoyan talagané.
***