Tahukah Anda ? *) Pencarian data

Ken Sulasih

Ken Sulasih adalah seorang bidadari sebagai kekuatan dalam kesucian intuisi (naluri/perasaan).

Dalam sebuah Mantram Puja Trisandhya dengan bunga berwarna kuning yang disusun pada sebuah canang sari yang digunakan untuk yadnya, sabuh mas, sembahyang dll.
Agar bunga kuning yang digunakan tersebut dapat menghadap ke arah Barat (Mahadewa) sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari Ken Sulasih oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Mahadewa supaya dapat memercikkan Tirtha Kundalini untuk menganugerahi kekuatan intuisi kepada kita.
Dalam cerita yang berkembang dalam masyarakat Bali, Bidadari Ken Sulasih ini disebutkan bahwa :
Beliau juga merupakan istri dari I Rajapala, seorang pemburu tampan.
Dan ibu dari I Durma sebagaimana diceritakan dalam sebuah pupuh
Dalam Pupuh Durma tersebut menceritakan seorang bidadari yang bernama Ken Sulasih dengan secarik kain selendang yang teringat dengan syarat pernikahannya.

Awal pertemuan Ken Sulasih & I Raja Pala;

Diceritakan perjalanan seorang pemburu bernama Rajapala disebuah hutan,
karena kepayahan lalu mencari mata air, 
melewati sebuah asrama yang kosong, 
lalu ia berteduh di bawah pohon tigaron, 
disampingnya ada pancuran dengan air yang jernih, dikelilingi dengan pepohonan dan bunga-bunga yang harum. 
Pada saat menikmati keheningan, ia melihat tujuh orang bidadari (widyadhari) yang cantik-cantik, sedang asyik mandi di kolam.
Dan salah satunya itulah bernama Ken Sulasih, seorang dari tujuh bidadari yang tidak dapat terbang kembali ke Kahyangan karena kehilangan selendangnya.
Bidadari Kahyangan itu lalu bertanya kepada Rajapala, “Wahai orang laki tampan, adakah tuan melihat baju saya, jika ada saya akan menukarnya, dengan mas permata yang indah”.
Rajapala menjawab, “Wahai engkau gadis cantik, yang menawan hati, bukan mas permata yang saya inginkan, tetapi seorang anak laki, yang bijaksana, pengarang ulung, berwibawa dan dapat kelak menjadi raja, dihormati rakyat, pandai, tampan, berbudi luhur dan kata-katanya menawan hati”.
Demikian sekilas diceritakan dalam kisah Rajapala oleh nak Bali Belog dalam catatan harian seorang manusia biasa.
****