Meru Beratap 11 (Sebelas)

Meru beratap atau tumpang 11 (sebelas) adalah lambang dari Eka Dasa Dewata dengan simbol 11 huruf / aksara suci yaitu :
  • 10 huruf suci : sa, ba, ta, a, i, na, ma, si, wa, ya
  • dan 1 huruf suci Omkara
Meru juga mempunyai makna simbolis dari gunung yang beratap 11 (Tumpang sebelas) yang ada di ada di Pura Batu Madeg, komplek Pura Besakih sebagaimana disebutkan dalam jejak megalitikum di Bali,  bangunan suci ini disebutkan sebagai sebuah tempat suci kuno yang mungkin sudah ada sebelum pengaruh Majapahit ke Bali.

Demikian juga dijelaskan dalam sumber kutipan meru pada Stiti Dharma Online, disebutkan jumlah tumpang atap meru di pura sebagai tempat suci yang tertinggi adalah berjumlah 11 (sebelas). Angka 11 dipandang sebagai angka yang paling keramat, mengandung misteri dan merupakan pilihan utama, karena:
  • Jumlah hari peredaran bumi mengelilingi matahari (surya pramana) dalam setahun = 365,24; dan jumlah hari peredaran bulan mengelilingi bumi (candra pramana) dalam setahun = 354,37  Selisihnya  = 10,87 dibulatkan = 11 hari. (Lontar Breghu Tattwa). Angka 11 ini digunakan dalam sistem kalender baliSaka-Bali” (Surya-Chandra Pramana) untuk menentukan pengrepeting sasih dalam menghitung tibanya hari tahun baru, yakni pada: penanggal ping pisan sasih kadasa (tanggal satu bulan ke-sepuluh).
  • Larangan bagi umat Hindu membunuh lembu (sapi putih kendaraan suci Siwa), diwahyukan 20 kali dalam Rg-Weda, 5 kali dalam Yayur-Weda, 2 kali dalam Sama-Weda, dan 11 kali dalam Atharwa-Weda. Bila secara matematis angka-angka itu dijumlahkan: 20 + 5 + 2 + 11 = 38. Jumlah digit angka 38 adalah 3 + 8 = 11. Bahkan bila digit angka 20, angka 5, angka 2 dan angka 11 dijumlahkan hasilnya = 2 + 0 + 5 + 2 + 1 + 1 = 11
  • Hyang Guru Siwa (Sanghyang Widhi) dengan ke-mahakuasaan-Nya (wibhu-sakti) menciptakan semesta dari diri-Nya, dengan cara berubah (uta-prota) dari Nirguna Brahman menjadi Saguna Brahman melalui 7 (tujuh) tahapan:
    • Di Agama Hindu-Bali, ketujuh tahapan ini dinamakan sapta ongkara. Ketika Hyang Guru Siwa uta-prota, beliau duduk di atas 4 (empat) helai bunga padma sebagai landasan kekuatan yang disebut sadu-sakti.  Wibhu-sakti dan Sadu-sakti disebut Prabhu-sakti, berjumlah: 7 + 4 = 11, merupakan kekuatan yang  menyebabkan getaran-getaran magis di alam semesta. Bagi orang yang tingkat kerohaniannya tinggi melihat Prabhu-sakti bercahaya, bening bagaikan kristal (Lontar Wrhaspati Tattwa).
***