Saka

Saka ("isaka"; "caka") adalah penanda waktu dari zaman ke zaman dalam stabilitas peradaban kehidupan di alam atau dunia ini sebagai renungan suci dalam menyambut pergantian tahun baru saka yang di Bali dirayakan saat perayaan Nyepi setahun sekali.yang sebagaimana disebutkan :
  • Tahun kalender Saka yang di Bali disebutkan :
    • Dalam teks Candrapaleka, tahun Caka dibagi 12, lalu sisa pembagian tersebut merupakan ketentuan yang menjadi ketetapan pangunyan sasih yang juga akan berdampak pada suka dan duka dalam kehidupan ini.
    • Tahun Saka sebagai penanda yang biasanya digunakan untuk menetukan ala ayuning dewasa yang dari dahulu digunakan sebagai acuan dalam setiap upacara yadnya di Bali seperti halnya dalam penentuan hari raya, piodalan dll.
  • Tiang Saka Bali, sebagai stabilitas yang konstruksinya diyakini untuk penjiwaan yang mampu mengantisipai setiap ancaman yang berasal dari alam ini.
  • Sang Aji Saka, seorang pendeta yang dahulu mengajarkan aksara wreastra pada masyarakat Bali yang digunakan sampai sekarang ini.
Khususnya tahun kalender saka yang berdasarkan atas rumus perhitungan wariga dan dewasa ayu dalam kalender bali disebutkan bersumber dari beberapa lontar wariga yaitu : 
yang awalnya kedua lontar tersebut menceritakan tentang 
  • kelahiran wuku
  • keberadaan bhuwana agung, alam semesta kita ini, serta 
  • menceritakan para dewa dan rsi yang juga diwujudkan dalam tingkatan dan angka - angka tersebut
Mengingat pentingnya pergatian tahun saka ini, sehingga setiap pergantian tahun saka ini dilaksanakan upacara tawur yang bertujuan untuk keharmonisan bhuwana agung dan bhuwana alit sebagai aplikasi dari filosofi Tri Hita Karana untuk menyongsong warsa anyar, tahun baru saka yang lebih baik yaitu dengan prosesi upacara :
  • Setiap 100 tahun sekali yaitu tahun saka dengan dua digit terakhir menunjukan angka "00" yang diakhiri dengan dilaksanakannya dengan upacara eka dasa rudra.
  • Setiap 10 tahun sekali yaitu tahun saka dengan dua digit terakhir menunjukan angka "0" (panglong ping 15 (tilem) sasih kesanga) yang diakhiri dengan dilaksanakannya dengan upacara Panca Wali (Bali) Krama di Pura Besakih.
  • Setiap 1 tahun sekali tepatnya pada tilem (bulan mati) sasih kesanga dilaksanakan tawur kesanga  yang dirangkai dengan perayaan pengerupukan untuk mengelilingi catus pata sebagai simbol siklus sakral perputaran waktu menuju ke pergantian tahun baru saka dengan mengarak ogoh-ogoh mengelilingi jalan-jalan desa untuk menyambut tahun baru yaitu hari raya nyepi sebagai awal mulainya tahun baru saka ini.
***