Samsara

Samsara (manumadi; numitis) adalah kelahiran kembali ke dunia ini secara berulang – ulang yang merupakan salah satu bagian dari Panca Srada dalam keyakinan umat Hindu Dharma.

Dalam bahasa sansekerta, kata samsara berasal dari kata sam yang berarti terus-menerus atau mengalir dari sara artinya hidup.
Jadi samsara artinya hidup terus-menerus yaitu hidup — mati — menjelma — mati — menjelma, demikian seterusnya. 
Hidup yang begini dianggap sengsara. Akhirnya timbul ungkapan hidup itu sengsara.
Hidup di dunia ini dianggap ibarat orang di penjara atau orang hukuman. Bila orang hukuman dalam penjara banyak berbuat baik maka lama hukumannya bisa dikurangi karena mendapat pengampunan sebagaimana dijelaskan artikel baru PHDI dalam Rwa Bhineda untuk memahami suka dan duka dimana disebutkan bahwa :
Manusia lahir dan hidup di dunia ini tidak luput dari suka, duka, lara pati.

  • Suka duka yang selalu menyertai kehidupan di dunia ini.
  • Lara, derita yang dialami.
  • Pati, dimana setiap orang pada saatnya nanti akan mengalaminya.

Samsara juga biasanya disebut sebagai Punarbhawa yaitu penitisan untuk kembali.
Kelahiran dengan reinkarnasi kembali ini terjadi karena adanya atma masih diliputi oleh keinginan dan kemauan yang berhubungan dengan keduniawian.
Mungkin saja kelahiran dan hidup ini merupakan sengsara, sebagai hukuman yang diakibatkan oleh perbuatan atau karma wasana di masa kelahiran yang lampau dengan jangka waktu pembebasan diri dari samsara yang berorientasi pada kelangsungan hidup setiap generasi dari masa ke masa yang disebut dengan Tri Semaya yaitu tergantung pada :
  • Perbuatan baik kita yang lampau ( atita );
  • Perbuatan yang akan datang ( nagata ) dan, 
  • Perbuatan sekarang ( wartamana ).
Pembebasan dari samsara berarti mencapai penyempurnaan jiwa, roh atau atma untuk mencapai moksa yang dapat dicapai di dunia ini juga.

Pengalaman kehidupan samsara ini dialami oleh Dewi Amba dalam cerita Mahabharata yang lahir menjadi Sri Kandi. demikian dijelaskan dalam kutipan Panca Sradha Sanatana Dharma. yang mana disebutkan,
Dalam proses reinkarnasi ini, sebagai tempat jiwa - jiwa, roh atau atman dari para leluhur kita setelah dilakukan upacara ngaben disebutkan berada di sanggah kemulan.
Dalam menyambut kelahiran kembali ini yang dilaksanakan dengan upacara Jatakarma Samskara sebagai cetusan rasa bahagia dan terima kasih dari kedua orang tua atas kelahiran anaknya kembali kepada Hyang Widhi.

Selain punarbawa, reinkarnasi di Bali disebut sebagai manumadi (numitis);
Sehingga orang tua (nenek atau kakek) akan melaksanakan upacara metuunang / meluasang untuk meminta petunjuk kepada seorang balian yang suci atas kelahiran anak - anaknya.
***