Mendem Pedagingan

Mendem atau Mulang Pedagingan adalah upacara yadnya untuk memfungsikan dan menghidupkan bangunan atau pelinggih - pelinggih suci pada sebuah pura yang merupakan upacara inti dari Ngenteg Linggih sebagaimana disebutkan dalam kutipan teks darmawacana  ngenteg linggih oleh Bpk. I Made Titib yang dijelaskan upacara mendem pedagingan ini
dilaksanakan setelah upacara pamelaspasan dan suddha bhumi akan dilaksanakan upacara mendem pedagingan sebagai lambang singgasana Hyang Widhi yang disthanakan.
Bentuk serta jenis pedagingan antara satu Pelinggih dengan Pelinggih yang lainnya tidak sama - hal ini tergantung dari jenis bangunan Pelinggih yang bersangkutan, termasuk jenis tetandingan banten dalam upacara ini juga ada yang berbeda. 

Tata cara membuat dan memendem pedagingan ini di samping mengikuti sastra agama, juga mengikuti isi Bhisama dari Mpu Kuturan, sebagaimana dilaksanakan ketika membangun meru di Pura Besakih.

Adapun cuplikan Bhisama mendem pedagingan pada meru dimaksud yaitu sebagai berikut:

  • Yan meru tumpang 11 tumpang 9 tumpang 7 tumpang 5 sami wenang mepadagingan tur mangda memargi kanistama, madyama, uttama, lwir, yaning meru tumpang 11 pedagingannya ring dasar salwiring prabot manusa genep mewadah kwali waja. Sejawaning prabot manusa, maweweh antuk ayam mas, ayam selaka, bebek mas, slaka, kacang mas, slaka tumpeng mas, slaka, naga mas, slaka, mamata mirah, prihpih mas, slaka, tembaga miwah jarum mas, slaka, tembaga, padi mas, ika dados dasar.
  • Tumpang meru ika wilang akeh ipun, sami medaging prihpih kadi ajeng, saha mawadah rerapetan sane mawarna putih, mwah wangi-wangian setegepe, mawastra putih, rantasan sapradeg. Ring madyaning tumpang merune, madaging prihpih, jarum kadi ajeng, miwah padi musah 2 wangi-wangian setegepe.
  • Ring puncaknya, taler prihpih mas, slaka miwah jarum kadi ajeng, tur maweweh mas 1 masoca mirah, murda wenang. Asampunika kandaning meru tumpang 11 pedaginganipun, yaning buat jinah punika manista madya utama, utama jinah papendemane 11 tali, madya 8 tali, nista 4 tali .

(”Kalau membangun meru tumpang 11 9 7 5 3 dan 1 semuanya patut mengikuti tingkatan kecil, menengah dan besar, yakni bila meru tumpang 11 padagingan pada bangunan bagian dasar yaitu segala jenis perabotan yang digunakan umat manusia lengkap ditempatkan dalam pengorangan waja, di samping itu ada tambahan ayam dari emas dan ayam perak, bebek emas dan bebek perak, kacang emas dan kacang dari perak, tumpeng emas, naga emas, naga perak, bermata mirah, kepingan (pripih) emas, perak, tembaga dan jarum emas, perak, tembaga, padi dari emas yang semuanya itu ditempatkan pada dasar.

Setiap Meru tumpang 5 (atap tingkat) meru semuanya berisi kepingan emas seperti tersebut di depan dimasukkan (dalam wadah) bernama rapetan berwarna putih, ditambahkan wangi - wangi selengkapnya, busana putih dan kain selengkapnya. 
  • Pada bagian tengah meru, berisi prihpih, jarum emas seperti di depan. 
  • Pada puncaknya juga berisi kepingan emas dan sebagainya seperti di depan dengan permata mirah.

Demikian halnya membangun meru tumpang 11 dengan pedagingannya serta pis bolong (kepeng) sebanyak 8000, 6000, dan 4000 bagi yang besar, menengah dan kecil).

Malih pedagingan padmasana,
  • Ring dasar pedaginganipun, badawangnala mas, slaka mwah prabot manusa genep, wangi-wangian pripih mas, slaka, tembaga, jarum mas, slaka, tembaga, miwah podhi mirah 2 tumpeng mas, slaka, capung mas, sampian mas, slaka, nyalian mas, udang mas, getem (ketam) temaga, tanlempas mewangi-wangian segenepa, mewadah rapetan putih, metali benang catur warna.
  • Malih pedagingan ring madya, lwire pripih mas, merajah makara, pripih slaka merajah kulum, pripih tembaga merajah getem, miwah jarum manut pripih, phodi mirah 2 tan sah wangi-wangian setegepa mewadah rerapetan putih. 
  • Malih korsi mas mewadah lingir sweta, punika ngaran utama yadnyan nista, madia utama, sluwir-luwir padagingan ika, kawanganya maprasistha rumuhun.

Sampunang pisan mamurug, dawning linggih Bhatara, yang ande kapurug, kahyangan ika wenang dadi pesayuban bhuta pisaca, makadi sang mewangun kahyangan ika, tan memanggih rahayu terus tumus kateka tekeng putra potrakanya, asapunka kojarnya sami mangguh lara roga.

Malih pedagingan ring luhur luwire, padma mas, masoca mirah korsi mas, phodi mirah, asapunika padagingannya ring padmasana " 

Bila membangun padmasana
  • Padagingan pada dasar menggunakan badawangnala (sejenis kura-kura) dari emas, dan perak serta perabotan manusia lengkap, wangi- wangian, kepingan emas, perak dan tembaga, jarum emas, perak dan tembaga berserta permata mirah dimasukkan dalam rapetan berwarna putih.
  • Adapun padagingan di tengah ( madya ) Padmasana dengan kepingan emas ditulisi makara, kepingan perak ditulisi kulum, kepingan tembaga ditulisi getem, dan jarum sesuai kepingan logam di atas, permata mirah 2 buah, juga wangi-wangian lengkap ditempatkan dalam rapetan putih. Ada tambahan lagi berupa kursi dari emas ditempatkan dalam cangkir putih, demikian disebut utama, walau sederhana atau kecil, diusahakan semua berisi padagingan didahului dengan upacara prayascita (penyucian).
    • Jangan melanggar ketentuan di atas untuk sthana Tuhan Yang Maha Esa dan para Dewa, kalau tidak diikuti petunjuk tersebut, bangunan suci tersebut akan menjadi tempat tinggal bhuta kala dan pisaca (roh-roh jahat) dan yang membangun pura tersebut tidak menemukan selamat sampai ke anak cucu, demikian semuanya mendapatkan penderitaan.
  • Dan untuk padagingan pada puncak bangunan padmasana dengan padma emas, permata mirah, kursi emas, permata mirah. 
Setelah penanaman padagingan pada setiap bangunan suci, utamanya bangunan padmasana, dilanjutkan dengan utpati (menghidupkan) untuk memfungsikan bangunan tersebut.

Sebagai tambahan, beberapa penggunaan simbol disebutkan,
  • Penyugjug, terbuat dari carang dapdap cangga tiga sebagai sarana penuntun
***