Tidur

Tidur, yang dalam bahasa bali umumnya disebut dengan mesare; merem; sirep dan pules yang disebutkan bahwa : 
Ketika kita tidur, saudara-saudara catur sanak yang berada dalam badan kita yang berjumlah empat tersebut akan keluar dari tubuh.  
Maka mereka perlu dibuatkan pelinggih berupa “pelangkiran” di kamar tidur, tempat bersemayamnya kanda pat ketika kita tidur pulas.
Berbeda halnya seperti cara tidur seorang yogi dalam menjalani yoga nidra, makna tidur masyarakat Bali disebutkan, tidur bukanlah sekedar beristirahat yang hingga kini masih meyakini bahwa tidur tidak boleh sembarangan. 
Mulai dari sikap atau posisi tidur, tempat tidur, hingga bangunan yang boleh dijadikan sebagai tempat tidur pun diatur sedemikian rupa dalam adat Bali.
Terdapat tiga macam tempat berisitirahat yang disebutkan dalam sastra Bali, yaitu:
  • Galar: istirahat untuk beberapa saat dengan tidur
  • Galir: istirahat untuk beberapa menit atau pelepas lelah dengan duduk dan bersantai
  • Galur: istirahat untuk perjalanan pulang, yang dalam istilah Bali disebut dengan “mulih ke desa/gumi wayah” alias mati.
Tempat istirahat tersebut biasanya dibuat dari batang bamboo yang dibagi kecil-kecil memanjang (dalam istilah Bali disebut “direcah” ) sehingga nyaman untuk digunakan. Perhitungannya tetap dimulai dari Galar, kemudian Galir, dan dilanjutkan dengan Galur. 
Apabila tempat distirahat tersebut dianggap kurang lebar, maka hitungannya dilanjutkan sampai ditemukan posisi yang cocok dengan keinginan.
Namun bagi pengantin baru, untuk mohon perlindungan kepada Bethara Semara-Ratih agar pengantin dilindungi dari mara bahaya dalam melaksanakan pawiwahan disebutkan dapat menggunakan Tegteg daksina peras ajuman di kamar tidur pengantin.

Sedangkan doa / mantra sembahyang sehari- hari menjelang tidur dapat diucapkan sebagai berikut :
Om asato mà sat ganaya,tamaso mà jayatir ganaya,mrityor màmritam gamaya.
(Ya Tuhan tuntunlah hamba dari jalan yang sesat menuju jalan yang benar,dari jalan gelap ke jalan terang, hindarkanlah hamba dari kematian menuju kehidupan abadi.)

Dalam lontar Aji Maya Sandhi disebutkan juga dalam keterangan Photos from Cok Bagoes's post in GLOBAL DEWATA di Fb yaitu :
Ketika manusia sedang tidur, maka Kanda Pat itu keluar dari tubuh manusia dan bergentayangan, ada yang duduk di dada, di perut, di tangan dsb sehingga juga dapat mengganggu tidur manusia; 
Oleh karena itu, perlu dibuatkan pelangkiran untuk stananya agar mereka dapat melaksanakan tugas sebagai penunggu urip.
Jika itu dilaksanakan maka manusia akan tidur dengan tenang dan nyenyak karena sudah ada yang menjaga dari segala bentuk gangguan roh jahat

Pelangkiran dari di atas tempat tidur, juga sebagai stana Kandapat, sedangkan Kandapat diwujudkan dalam bentuk daksina lingga, yakni sebuah daksina yang dibungkus dengan kain putih/kuning. 
Kemudian dihaturi banten tegteg-daksina-peras-ajuman (pejati) dan setiap bulan purnama dibaharui/diganti, daksina lingganya tidak perlu diganti (biarkan selamanya di situ)
Setiap hari dihaturi banten saiban/jotan
  • Setiap mau meninggalkan rumah pamit ke Kandapat dan pulangnya membawa rarapan (oleh-oleh makanan/kuwe, dll) sekedarnya saja, tanda ingat.
  • Kalau gajian, dihaturkan dahulu di situ, biarkan semalam, keesokan harinya baru ‘dilungsur’ . 
  • Setiap mau tidur sembahyang, seraya memohon ke Kandapat menjaga kita selama tidur.
  • Dan selalu mengucapkan doa sebelum tidur agar terasa lebih nyaman.
Dan sebagai tambahan :
***